• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 13, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Leadership

The Busyness Trap

oleh Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 13:22
18
Dilihat
The Busyness Trap
0
Bagikan
18
Dilihat

Kali ini Heru Kristiyana mengulas fenomena The Busyness Trap dalam kepemimpinan korporasi modern. Simak pentingnya deep work dan kejernihan berpikir bagi pemimpin.

Oleh : Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI

  • Baca juga: Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Selama puluhan tahun, dunia korporasi memiliki definisi yang relatif sederhana tentang sosok pemimpin yang hebat. Ia adalah orang yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Jadwalnya penuh rapat. Keputusannya banyak. Teleponnya tidak pernah berhenti berdering. Ia terlihat sibuk hampir setiap saat, seolah-olah roda organisasi hanya akan berputar jika dirinya terus bergerak. Kesibukan menjadi simbol kepemimpinan.

Budaya korporasi modern tanpa sadar telah menciptakan apa yang dapat disebut sebagai The Busyness Trap—jebakan yang menyamakan aktivitas dengan nilai tambah, dan kesibukan dengan kepemimpinan.

BERITA TERKAIT

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Toxic Productivity

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

SESPIBANK® 82 Gandeng EDHEC Business School Paris, LPPI Pertajam Kompetensi Global Bankir Senior Indonesia

Paradigma itu lahir dari era ketika organisasi masih bergerak dalam lingkungan yang relatif stabil. Pasar berkembang secara bertahap, teknologi berubah dalam siklus yang panjang, dan pengalaman masa lalu masih menjadi panduan yang cukup andal untuk menghadapi masa depan. Dalam kondisi seperti itu, semakin banyak keputusan yang diambil seorang pemimpin sering dianggap identik dengan semakin besar kontribusinya.

Kini perusahaan hidup dalam ekonomi yang jauh lebih tidak pasti. Siklus inovasi semakin pendek. Kecerdasan buatan mengubah model bisnis dalam hitungan bulan. Ketegangan geopolitik memengaruhi keputusan investasi dalam hitungan pekan. Preferensi konsumen bergeser sebelum siklus perencanaan tahunan selesai disusun.

Dalam lingkungan seperti ini, tantangan terbesar pemimpin bukan lagi kekurangan pekerjaan. Sebaliknya, tantangan terbesar adalah kelebihan informasi, kelebihan keputusan, dan kelebihan gangguan.

Ironisnya, masih banyak yang mempraktikkan pola kepemimpinan yang lama. Mereka masih saja menghadiri lebih banyak rapat, membaca lebih banyak laporan, merespons lebih banyak pesan, dan mengambil lebih banyak keputusan. Organisasi memang tampak bergerak semakin cepat, tetapi belum tentu menuju arah yang benar.

Di sinilah kesibukan berubah menjadi ilusi produktivitas. Profesor Cal Newport dari Georgetown University menyebut fenomena ini sebagai kebalikan dari deep work. Dalam bukunya dengan judul yang sama, Newport berargumen bahwa nilai ekonomi tertinggi justru dihasilkan ketika seseorang memiliki ruang untuk berpikir secara mendalam, bebas dari distraksi, sehingga mampu menghasilkan keputusan dan solusi yang tidak mungkin lahir dari perhatian yang terpecah-pecah.

Sayangnya, semakin tinggi posisi seorang pemimpin, semakin sedikit kesempatan yang ia miliki untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Sebagian besar waktunya justru habis untuk mengelola arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Akibatnya, organisasi mulai memproduksi apa yang bisa disebut sebagai activity inflation—ledakan aktivitas yang tidak selalu menghasilkan peningkatan nilai. Memang, rapat yang dihadiri, presentasi yang dilakukan, dan persetujuan yang ditandatangani makin banyak, namun kemajuan yang diharapkan belum terlihat.

  • Baca juga: Toxic Productivity

Dalam praktik ekonomi masa lalu, efisiensi memang lahir dari bekerja lebih keras, tetapi dalam ekonomi berbasis pengetahuan, keunggulan justru lahir dari berpikir lebih baik. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi implikasinya sangat besar terhadap cara kita memahami kepemimpinan.

Dalam dunia yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian, organisasi tidak berubah karena ratusan keputusan kecil. Organisasi berubah karena beberapa keputusan yang sangat tepat pada momen yang sangat menentukan.

Keputusan seperti itu hampir tidak pernah lahir dari jadwal yang penuh. Ia lahir dari kejernihan berpikir—ketika seorang pemimpin mampu mengambil jarak dari hiruk-pikuk operasional, menyelaraskan setiap pilihan dengan True North dan tujuan jangka panjangnya.

Itulah sebabnya kualitas baru yang semakin dibutuhkan organisasi bukanlah pemimpin yang mampu mengambil keputusan paling banyak, melainkan yang mampu menentukan keputusan mana yang benar-benar layak diambil.

Pemimpin, kini tidak lagi diwajibkan untuk selalu berada di pusat setiap masalah organisasi. Teknologi sudah semakin mampu menggantikan sebagian besar keputusan operasional. Sistem analitik semakin mampu mengolah data lebih cepat daripada manusia. Bahkan kecerdasan buatan mulai memberikan berbagai alternatif strategi. Jadi keputusan-keputusan yang menempel pada tugas rutin bisa didelegasikan.

Yang tidak dapat digantikan adalah kemampuan membaca konteks, memahami konsekuensi jangka panjang, dan memilih jalan yang paling tepat ketika data tidak lagi memberikan kepastian. Inilah peran utama yang diambil seorang pemimpin.

Namun kemampuan itu tidak tumbuh dari kesibukan. Ia tumbuh dari refleksi. Ia membutuhkan waktu. Ia membutuhkan keberanian untuk tidak selalu bereaksi. Dan yang lebih penting, ia membutuhkan organisasi yang tidak mengukur pemimpinnya berdasarkan tingkat kesibukan.

Menurut hemat saya, ukuran kesuksesan pemimpin juga harus berubah. Bukan lagi berapa banyak rapat yang dipimpin. Bukan berapa banyak keputusan yang ditandatangani. Bahkan bukan pula berapa lama seorang direktur berada di kantor.

Ukuran yang lebih relevan adalah apa yang tetap hidup ketika pemimpin itu sudah tidak lagi berada di sana. Apakah ia meninggalkan sistem yang lebih baik? Apakah organisasinya menjadi lebih tangguh? Apakah lahir pemimpin-pemimpin baru yang mampu melanjutkan estafet perubahan? Ataukah seluruh organisasi justru kehilangan arah begitu ia pergi?

  • Baca juga: TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, warisan institusional menjadi jauh lebih penting daripada heroisme individual. Ketika dunia bergerak semakin cepat, pemimpin terbaik justru bukan mereka yang berlari paling kencang. Mereka adalah mereka yang cukup tenang untuk berpikir lebih dalam daripada yang lain.

Dan kemampuan menggunakan ‘pemikiran yang dalam’ untuk menghasilkan satu keputusan yang mengubah masa depan organisasi jauh lebih berharga daripada seribu keputusan yang hanya membuat seorang pemimpin terlihat sibuk. ***

Tags: Heru Kristiyanakolom leadershipKolom LPPIThe Busyness Trap
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Stabilitas Edisi 224 : Alarm Waspada dari Bank Sentral

Selanjutnya

Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Future Leader

Future Leader

oleh Sandy Romualdus
10 Maret 2026 - 23:14

Spesialis vs Generalis? Simak ulasan kriteria future leader yang memadukan kedalaman kompetensi dan keluasan visi demi menavigasi ketidakpastian. Oleh : Heru...

Speak With Candor

Speak With Candor

oleh Sandy Romualdus
10 Januari 2026 - 23:03

Jujur, empati, dan jelas. Intip pentingnya "speak with candor" dalam leadership saat menghadapi situasi krisis agar tidak menciptakan ketidakpastian. Oleh...

Leader yang Berpegang Teguh Pada True North

Leader yang Berpegang Teguh Pada True North

oleh Sandy Romualdus
10 November 2025 - 22:52

Menghadapi ketidakpastian, leadership sejati tidak ditentukan oleh opini publik. Temukan pentingnya true north dalam memandu organisasi melompati krisis. Oleh :...

Maverick Leader

Maverick Leader

oleh Sandy Romualdus
10 Oktober 2025 - 22:08

Masalah hari ini tidak bisa diselesaikan dengan logika kemarin. Simak pentingnya Maverick Leader dalam leadership modern untuk memecah kebuntuan bisnis....

The Power of Listening

The Power of Listening

oleh Sandy Romualdus
30 Agustus 2025 - 21:59

Satu mulut, dua telinga. Simak mengapa kemampuan mendengarkan adalah "master skill" yang wajib dimiliki pemimpin untuk menjaga kepercayaan tim. Oleh...

Inovasi dan Keberanian Eksekusi

Inovasi dan Keberanian Eksekusi

oleh Sandy Romualdus
1 Juli 2025 - 21:48

Ide hebat bukan jaminan sukses bisnis. Intip ulasan pentingnya eksekusi tepat waktu dan kolaborasi tim sebagai kunci utama leadership yang...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Keras Dan Menghantam

    Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kemenkeu Monitor 490 Daerah Tertekan Fiskal, Siapkan Suntikan Dana Belanja Pegawai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Ekspansi Global BUMN: K&K Advocates dan Bird & Bird Bedah Mitigasi Risiko Hukum Lintas Negara

Pacu Semen Hijau dan Bahan Bakar Alternatif, SIG Buktikan Competitive Advantage Berbasis ESG

Dominasi Sektor Pertanian 42,6%, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun per Juni 2026

Dari Den Haag hingga Amsterdam, BNI Dampingi Waroeng Padang Lapek Bawa Cita Rasa Minang ke Eropa

Pacu Ekonomi Syariah di Kawasan FTZ, CIMB Niaga Syariah Resmikan Syariah Digital Branch di Batam

Momentum Hari UMKM Nasional, Bank Mandiri Dorong 56 Ribu Debitur KUR Naik Kelas

BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO

Tembus Rp1.211 Triliun, BRI Bersama Danantara Perkuat Ekosistem Pembiayaan UMKM Nasional

Kemenkeu: 91 Persen Pembiayaan Investasi 2027 Bergantung pada Sektor Swasta

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance