• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Kamis, November 5, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Leadership

The Busyness Trap

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 13:22
28
VIEWS
The Busyness Trap
0
SHARES
28
VIEWS

Kali ini Heru Kristiyana mengulas fenomena The Busyness Trap dalam kepemimpinan korporasi modern. Simak pentingnya deep work dan kejernihan berpikir bagi pemimpin.

Oleh : Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI

  • Baca juga: Cetak Pemimpin Bank Berwawasan Global: LPPI Resmi Tutup Program Sespibank Angkatan 83

Selama puluhan tahun, dunia korporasi memiliki definisi yang relatif sederhana tentang sosok pemimpin yang hebat. Ia adalah orang yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Jadwalnya penuh rapat. Keputusannya banyak. Teleponnya tidak pernah berhenti berdering. Ia terlihat sibuk hampir setiap saat, seolah-olah roda organisasi hanya akan berputar jika dirinya terus bergerak. Kesibukan menjadi simbol kepemimpinan.

Budaya korporasi modern tanpa sadar telah menciptakan apa yang dapat disebut sebagai The Busyness Trap—jebakan yang menyamakan aktivitas dengan nilai tambah, dan kesibukan dengan kepemimpinan.

BERITA TERKAIT

Cetak Pemimpin Bank Berwawasan Global: LPPI Resmi Tutup Program Sespibank Angkatan 83

Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Paradigma itu lahir dari era ketika organisasi masih bergerak dalam lingkungan yang relatif stabil. Pasar berkembang secara bertahap, teknologi berubah dalam siklus yang panjang, dan pengalaman masa lalu masih menjadi panduan yang cukup andal untuk menghadapi masa depan. Dalam kondisi seperti itu, semakin banyak keputusan yang diambil seorang pemimpin sering dianggap identik dengan semakin besar kontribusinya.

Kini perusahaan hidup dalam ekonomi yang jauh lebih tidak pasti. Siklus inovasi semakin pendek. Kecerdasan buatan mengubah model bisnis dalam hitungan bulan. Ketegangan geopolitik memengaruhi keputusan investasi dalam hitungan pekan. Preferensi konsumen bergeser sebelum siklus perencanaan tahunan selesai disusun.

Dalam lingkungan seperti ini, tantangan terbesar pemimpin bukan lagi kekurangan pekerjaan. Sebaliknya, tantangan terbesar adalah kelebihan informasi, kelebihan keputusan, dan kelebihan gangguan.

Ironisnya, masih banyak yang mempraktikkan pola kepemimpinan yang lama. Mereka masih saja menghadiri lebih banyak rapat, membaca lebih banyak laporan, merespons lebih banyak pesan, dan mengambil lebih banyak keputusan. Organisasi memang tampak bergerak semakin cepat, tetapi belum tentu menuju arah yang benar.

Di sinilah kesibukan berubah menjadi ilusi produktivitas. Profesor Cal Newport dari Georgetown University menyebut fenomena ini sebagai kebalikan dari deep work. Dalam bukunya dengan judul yang sama, Newport berargumen bahwa nilai ekonomi tertinggi justru dihasilkan ketika seseorang memiliki ruang untuk berpikir secara mendalam, bebas dari distraksi, sehingga mampu menghasilkan keputusan dan solusi yang tidak mungkin lahir dari perhatian yang terpecah-pecah.

Sayangnya, semakin tinggi posisi seorang pemimpin, semakin sedikit kesempatan yang ia miliki untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Sebagian besar waktunya justru habis untuk mengelola arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Akibatnya, organisasi mulai memproduksi apa yang bisa disebut sebagai activity inflation—ledakan aktivitas yang tidak selalu menghasilkan peningkatan nilai. Memang, rapat yang dihadiri, presentasi yang dilakukan, dan persetujuan yang ditandatangani makin banyak, namun kemajuan yang diharapkan belum terlihat.

  • Baca juga: Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Dalam praktik ekonomi masa lalu, efisiensi memang lahir dari bekerja lebih keras, tetapi dalam ekonomi berbasis pengetahuan, keunggulan justru lahir dari berpikir lebih baik. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi implikasinya sangat besar terhadap cara kita memahami kepemimpinan.

Dalam dunia yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian, organisasi tidak berubah karena ratusan keputusan kecil. Organisasi berubah karena beberapa keputusan yang sangat tepat pada momen yang sangat menentukan.

Keputusan seperti itu hampir tidak pernah lahir dari jadwal yang penuh. Ia lahir dari kejernihan berpikir—ketika seorang pemimpin mampu mengambil jarak dari hiruk-pikuk operasional, menyelaraskan setiap pilihan dengan True North dan tujuan jangka panjangnya.

Itulah sebabnya kualitas baru yang semakin dibutuhkan organisasi bukanlah pemimpin yang mampu mengambil keputusan paling banyak, melainkan yang mampu menentukan keputusan mana yang benar-benar layak diambil.

Pemimpin, kini tidak lagi diwajibkan untuk selalu berada di pusat setiap masalah organisasi. Teknologi sudah semakin mampu menggantikan sebagian besar keputusan operasional. Sistem analitik semakin mampu mengolah data lebih cepat daripada manusia. Bahkan kecerdasan buatan mulai memberikan berbagai alternatif strategi. Jadi keputusan-keputusan yang menempel pada tugas rutin bisa didelegasikan.

Yang tidak dapat digantikan adalah kemampuan membaca konteks, memahami konsekuensi jangka panjang, dan memilih jalan yang paling tepat ketika data tidak lagi memberikan kepastian. Inilah peran utama yang diambil seorang pemimpin.

Namun kemampuan itu tidak tumbuh dari kesibukan. Ia tumbuh dari refleksi. Ia membutuhkan waktu. Ia membutuhkan keberanian untuk tidak selalu bereaksi. Dan yang lebih penting, ia membutuhkan organisasi yang tidak mengukur pemimpinnya berdasarkan tingkat kesibukan.

Menurut hemat saya, ukuran kesuksesan pemimpin juga harus berubah. Bukan lagi berapa banyak rapat yang dipimpin. Bukan berapa banyak keputusan yang ditandatangani. Bahkan bukan pula berapa lama seorang direktur berada di kantor.

Ukuran yang lebih relevan adalah apa yang tetap hidup ketika pemimpin itu sudah tidak lagi berada di sana. Apakah ia meninggalkan sistem yang lebih baik? Apakah organisasinya menjadi lebih tangguh? Apakah lahir pemimpin-pemimpin baru yang mampu melanjutkan estafet perubahan? Ataukah seluruh organisasi justru kehilangan arah begitu ia pergi?

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, warisan institusional menjadi jauh lebih penting daripada heroisme individual. Ketika dunia bergerak semakin cepat, pemimpin terbaik justru bukan mereka yang berlari paling kencang. Mereka adalah mereka yang cukup tenang untuk berpikir lebih dalam daripada yang lain.

Dan kemampuan menggunakan ‘pemikiran yang dalam’ untuk menghasilkan satu keputusan yang mengubah masa depan organisasi jauh lebih berharga daripada seribu keputusan yang hanya membuat seorang pemimpin terlihat sibuk. ***

Tags: Heru Kristiyanakolom leadershipKolom LPPIThe Busyness Trap
 
 
 
 
 
Previous Post

Stabilitas Edisi 224 : Alarm Waspada dari Bank Sentral

Next Post

Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Future Leader

Future Leader

by Sandy Romualdus
10 Maret 2026 - 23:14

Spesialis vs Generalis? Simak ulasan kriteria future leader yang memadukan kedalaman kompetensi dan keluasan visi demi menavigasi ketidakpastian. Oleh : Heru...

Speak With Candor

Speak With Candor

by Sandy Romualdus
10 Januari 2026 - 23:03

Jujur, empati, dan jelas. Intip pentingnya "speak with candor" dalam leadership saat menghadapi situasi krisis agar tidak menciptakan ketidakpastian. Oleh...

Leader yang Berpegang Teguh Pada True North

Leader yang Berpegang Teguh Pada True North

by Sandy Romualdus
10 November 2025 - 22:52

Menghadapi ketidakpastian, leadership sejati tidak ditentukan oleh opini publik. Temukan pentingnya true north dalam memandu organisasi melompati krisis. Oleh :...

Maverick Leader

Maverick Leader

by Sandy Romualdus
10 Oktober 2025 - 22:08

Masalah hari ini tidak bisa diselesaikan dengan logika kemarin. Simak pentingnya Maverick Leader dalam leadership modern untuk memecah kebuntuan bisnis....

The Power of Listening

The Power of Listening

by Sandy Romualdus
30 Agustus 2025 - 21:59

Satu mulut, dua telinga. Simak mengapa kemampuan mendengarkan adalah "master skill" yang wajib dimiliki pemimpin untuk menjaga kepercayaan tim. Oleh...

Inovasi dan Keberanian Eksekusi

Inovasi dan Keberanian Eksekusi

by Sandy Romualdus
1 Juli 2025 - 21:48

Ide hebat bukan jaminan sukses bisnis. Intip ulasan pentingnya eksekusi tepat waktu dan kolaborasi tim sebagai kunci utama leadership yang...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Forbes 2026: BCA Peringkat 1 Bank Terbaik RI, SeaBank Juara di Kategori Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Demokrat Rebut Kongres AS, Wall Street Melonjak dan Bitcoin Tembus 80.000 Dolar

Siapkan Masa Depan Pascakarier, BRI Gelar Kelas Literasi Finansial bagi Pahlawan Olahraga

Dongkrak Inklusi Keuangan Kalimantan Timur, CIMB Niaga Resmikan Kantor Cabang Digital Anyar

Dukung Program Perumahan Terjangkau, SIG Perluas Penetrasi Bata Ramah Gempa di Sulawesi Selatan

Patra Logistik Perluas Distribusi BBM, Elpiji, dan Avtur ke Kalimantan hingga Sulawesi

Bidik Pasar Ratusan Juta Umat, Bank BSN Gandeng HIMPERRA Genjot Pembiayaan Perumahan Syariah

Skema Impor Minyak Beralih ke G2G Lewat BLU Lemigas saat Harga Brent Bertengger di 104 Dolar AS

Neraca Perdagangan September 2026 Surplus 3,36 Miliar Dolar AS, Ditopang Ekspor Nonmigas

OJK Tindak Tegas Manipulasi Saham PANR, Laporan Keuangan BOGA, dan Penipuan Nasabah

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

Minat Jadi Mitra MagangHub 2026? Kemnaker Tegaskan Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance