• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Strategi Kunci saat Bunga Acuan Naik

by Sandy Romualdus
29 Juni 2022 - 18:08
380
VIEWS
0
SHARES
380
VIEWS

Sinatrya Alkautsar, Analis Makroekonomi dan Keuangan LPPI

Pada tanggal 4 Mei 2022 The Federal Reserve mengagetkan dunia. Bank sentral AS yang dalam satu dekade terakhir sangat konservatif dalam menyesuaikan kebijakan moneter dalam menangkal inflasi, telah menaikkan tingkat bunga acuan secara progresif.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Bank Sentral AS telah menaikkan suku bunga Federal Fund Rate sebesar 0,5 persen menjadi 1 persen. Hal ini merupakan kenaikan suku bunga paling tinggi sejak tahun 2000. Ancaman inflasi pasca pemulihan pandemic ditambah dengan imbas konflik Rusia-Ukraina memang menjadi ancaman serius negara itu.

Kebijakan moneter di negara maju seperti AS dapat memberikan efek spillover pada ekonomi lain melalui beberapa mekanisme transmisi. Yang pertama adalah mekanisme portfolio rebalancing. Berbagai riset menunjukkan bahwa normalisasi kebijakan moneter di negara maju seperti AS, meningkatkan imbal hasil obligasi jangka panjang AS dan mendorong investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka.

BERITA TERKAIT

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

The Busyness Trap

Investor dengan demikian akan beralih dari aset di pasar negara berkembang ke ekonomi maju yang memiliki risiko lebih rendah. Hasilnya, harga aset keuangan di pasar negara berkembang turun sementara suku bunga jangka panjang meningkat, karena kondisi keuangan yang semakin ketat di pasar negara berkembang.

Selain itu, kebijakan moneter yang ketat di negara maju akan menyebabkan mata uang mereka terapresiasi tetapi sebaliknya, pasar negara berkembang terdepresiasi. Hal ini dapat mendorong spekulasi dan meningkatkan besaran dan volatilitas arus modal. Di negara-negara dengan kebijakan managed floating, intervensi bank sentral dapat menyebabkan penurunan cadangan devisa dan menurunkan kredit domestik.

Indonesia tidak bisa dikecualikan atas kondisi ini. Bank Indonesia, yang sebelumnya menanggapi ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan inflasi hanya dengan menyesuaikan giro wajib minimum, kini akan mulai berpikir untuk menaikkan suku bunga acuannya juga

Pada ujungnya sektor perbankan akan terpengaruh dengan kebijakan otoritas moneter itu. Kenaikan suku bunga AS, secara teori akan membuat investor memindahkan dana dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia kepada surat berharga pemerintah AS. Keluarnya dana investor tersebut tentu akan mempengaruhi likuiditas yang ada di sistem keuangan dan melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Hal itu bisa dilihat bahwa pada pecan terakhir Mei lalu, rupiah terdepresiasi 1,20 persen atas dollar AS jika dibandingkan posisinya pada akhir April 2022. Depresiasi tersebut disebabkan oleh aliran modal asing keluar sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah terjaganya pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah sampai dengan 23 Mei 2022 terdepresiasi sekitar 2,87 persen dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 4,11 persen, Malaysia 5,10 persen, dan Korea Selatan 5,97 persen.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Respons Bank

Untuk meminimalkan efek lanjutan dari kebijakan moneter AS tersebut Bank Indonesia tentu harus segera melakukan beberapa kebijakan moneter seperti misalnya ikut menaikkan suku bunga acuan. Naiknya suku bunga acuan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi indonesia yang sedang dalam tahap pemulihan.

Secara teori kenaikan suku bunga akan memaksa pemilik dana untuk menahan laju investasi dan konsumsi. Demikian juga bagi para debitur. Tentu mereka juga akan menahan keinginan untuk meminjam dana karena beban bunga yang akan mereka tanggung akan lebih tinggi dari sebelumnya. Kondisi ini juga akan membuat uang yang beredar di masyarakat menurun karena masyarakat lebih memilih menyimpan uang di bank daripada membelanjakannya.

Menurunnya tingkat investasi dan konsumsi tentu akan membuat pertumbuhan kredit perbankan melambat bahkan bias menurun. Pada akhirnya keadaan ini akan mempengaruhi kinerja bisnis perbankan.

Untuk menghadapi kondisi perekonomian seperti ini maka bank harus menerapkan beberapa strategi agar walaupun pertumbuhan kredit menurun tetapi kinerja labanya tetap terjaga bahkan bertumbuh. Di antaranya bank bisa memilih kebijakan menaikkan net interest margin (NIM) serta melakukan efisiensi biaya non bunga.

Strategi bank dalam mengerek NIM ketika terjadi kenaikan suku bunga bisa dilaukan dengan menaikkan suku bunga pinjaman dan menunda kenaikan suku bunga simpanan. Selain itu bank juga bisa menahan kenaikan suku bunga simpanan agar bisa tetap proporsional dengan besaran kenaikan suku bunga pinjaman. Strategi ini akan membuat pendapatan bunga bersih bank membesar walaupun volume kredit mengalami penurunan.

Strategi dalam melakukan efisiensi biaya non bunga adalah berfokus pada pengembangan teknologi perbankan sehingga kegiatan bisnis bisa berjalan secara efisien dan cepat. kegiatan bisnis yang dilakukan secara efisien dan cepat ini selain menghemat biaya non bunga juga akan membuat nasabah deposan untuk memilih bank tersebut walau memiliki suku bunga yang lebih rendah sehingga biaya bunga bisa lebih murah juga.

Strategi bank untuk mengerek NIM dan melakukan efisiensi merupakan strategi yang ideal dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi, tetapi strategi ini hanya ideal diterapkan oleh bank besar yang memiliki skala ekonomi yang lebih baik, untuk bank kecil maka akan kesulitan karena skala ekonomi yang tidak sebesar Bank KPMI 3 dan 4. Untuk itu bank-bank kecil bisa menahan pembagian dividen untuk menjadi modal kegiatan bisnis bank.***

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

 

 

Tags: Kolom LPPISinatrya Alkautsar
 
 
 
 
 
Previous Post

Atasi Backlog dan Penuhi Kebutuhan Hunian Milenial, BTN Ekspansi ke Aceh

Next Post

Kalbe Terima Fasilitas Pinjaman Rp1 Triliun dari BNI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Kalbe Terima Fasilitas Pinjaman Rp1 Triliun dari BNI

Kalbe Terima Fasilitas Pinjaman Rp1 Triliun dari BNI

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance