Stabilitas.id – Emiten semen pelat merah, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) atau SIG, resmi memperluas gurita bisnisnya ke sektor penstabil tanah (soil stabilization) melalui kolaborasi strategis dengan raksasa semen asal Jepang, Taiheiyo Cement Corporation (TCC).
Langkah ini menandai upaya SIG untuk menciptakan ceruk pasar baru (new market) sekaligus menjawab tantangan teknis konstruksi di atas lahan lunak yang mendominasi geografis Indonesia. Kerja sama ini melibatkan ekosistem anak usaha kedua belah pihak, yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB), PT Mitra Kiara Indonesia, dan Taiheiyo International Indonesia.
Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, mengungkapkan bahwa ekspansi ke bisnis soil stabilization merupakan langkah strategis untuk memperkuat portofolio solusi bahan bangunan perusahaan. Menurutnya, layanan ini krusial untuk memastikan ketahanan infrastruktur jangka panjang, terutama pada tahap pra-konstruksi.
BERITA TERKAIT
“Kerja sama ini akan menambah portofolio produk dan bisnis yang semakin mengokohkan posisi SIG sebagai pemimpin di industri bahan bangunan Indonesia,” ujar Indrieffouny dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).
Penandatanganan perjanjian ini sejatinya telah dilakukan pada Januari 2026 di Tokyo, Jepang. Cakupan kerja sama ini terbilang komprehensif, mulai dari fase pengembangan teknologi, proses produksi, hingga strategi pemasaran dan penjualan di pasar domestik maupun regional.
Incar Proyek Infrastruktur
Produk soil stabilization besutan SIG dan Taiheiyo dirancang khusus untuk memadatkan tanah dengan karakteristik sulit, seperti tanah ekspansif, gambut, hingga liat laut. Inovasi ini diyakini akan menjadi tumpuan bagi proyek-proyek infrastruktur strategis nasional yang sering terkendala kondisi tanah tidak stabil.
President and Representative Director Taiheiyo Cement Corporation, Yoshifumi Taura, menambahkan bahwa kemitraan ini merupakan bentuk komitmen TCC dalam memperkuat struktur penjualan di Indonesia.
“Kami meyakini sinergi kapabilitas kelima perusahaan akan mempercepat penyediaan solusi berkualitas tinggi yang berkontribusi terhadap pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan berkelanjutan Indonesia,” tutur Taura.
Langkah SMGR ini dinilai sebagai diversifikasi cerdas di tengah tantangan kelebihan kapasitas (oversupply) industri semen nasional. Dengan masuk ke jasa penstabil tanah, SIG tidak hanya menjual komoditas (semen), tetapi masuk ke level solusi teknis yang memiliki nilai tambah (added value) lebih tinggi dan margin yang lebih tebal.
Secara fundamental, keterlibatan SBI (SMCB) dan anak usaha lainnya menunjukkan optimisme grup dalam mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir untuk mengamankan pangsa pasar di tahun 2026.***
















