Sebagai penghasil timah terbesar yang diperlukan oleh perekonomian dunia, sudah sewajarnya Indonesia memiliki pasar komoditas timah sendiri. Namun kehadirannya harus memberikan keuntungan bagi industri timah nasional dan bukan kepada spekulan.
Oleh : Egenius Soda
BERITA TERKAIT
Apa yang terjadi jika Anda adalah penghasil terbanyak barang kebutuhan dunia tetapi harus menjualnya terlebih dahulu kepada orang lain? Atau Anda harus mengirim barang tersebut ke pasar yang letaknya jauh dari tempat Anda dan harga ditentukan bukan oleh Anda? Tentu Anda harus mengubahnya.
Ilustrasi pertanyaan tersebut memang tidak sama persis dengan yang terjadi dengan produk timah Indonesia, tapi setidaknya kondisinya tak jauh beda.
Indonesia adalah negara pengekspor timah terbesar di dunia yang mana menguasai 70 persen kebutuhan dunia. Memang, produksi timah kita masih kalah dengan China. Akan tetapi karena Negara Tirai Bambu itu menggunakan seluruh timahnya untuk kebutuhan dalam negeri, jadilah Indonesia sebagai sumber kebutuhan timah dunia. Dan PT Timah Tbk, salah satu badan usaha milik Negara (BUMN), menjadi perusahaan penghasil dan pengekspor timah terbesar di dunia.
Sayangnya, meski menjadi penguasa timah, kita tak kuasa mengendalikan harga timah. Sampai saat ini harga timah Indonesia masih sangat bergantung pada harga timah yang ada di London Metal Exchange (LME), Inggris dan Kuala Lumpur Tin Market, Malaysia.
“Indonesia merupakan produsen timah terbesar tapi pasar timahnya ada di London dan di Malaysia. Kan, aneh Indonesia yang punya tapi pasarnya di luar,” ujar Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan.
Inilah yang kemudian memunculkan ide pendirian bursa timah di Tanah Air, alih-alih terus bergantung pada bursa di London dan Kuala Lumpur. Kehadiran pasar komoditas timah tentu akan tetap menjaga stabilitas pasar timah internasional sekaligus dapat mendatangkan keuntungan bagi Indonesia sebagai produsen.
“Ini dilakukan untuk memperbaiki harga timah dunia yang saat ini ada di level 19 ribu dollar AS per metrik ton, padahal sebelumnya harga timah sempat mencapai 30 ribu dollar AS per metrik ton. Ini kan seperti dipermainkan. Jadi dengan adanya pasar timah di Indonesia diharapkan harga timah ke depan tidak lagi dipermainkan,” jelas Dahlan.
Kehadiran bursa baru tentu akan berguna ketika harga timah dunia sangat tidak menguntungkan produsen seperti yang terjadi belakangan ini. Memasuki paro kedua 2011, harga timah dunia mengalami pelemahan yang luar biasa dengan anjlok hampir setengahnya dari harga di awal tahun. Pada pekan kedua Desember, harga timah berkisar 20 ribu dollar AS per metrik ton padahal beberapa bulan sebelumnya masih bertengger di level 30 ribu dollar AS.
Terlepas dari adanya sentimen krisis di Eropa dan Amerika, anjloknya harga timah ini dinilai tidak terlepas dari adanya permainan para pialang di pasar LME. Anjloknya harga timah di bursa London tak pelak merugikan produsen timah nasional sehingga direspons dengan melakukan moratorium ekspor timah sejak 1 Oktober 2011. Meski kesepakatan itu dilanggar sendiri oleh beberapa anggota namun sejatinya moratorium hanya strategi jangka pendek. Sementara jangka panjang tentu dibutuhkan penguatan peran Indonesia sebagai pengendali pasar timah.
Keinginan untuk mengendalikan pasar dunia pun bertemu dengan ide mendirikan bursa komoditas timah sendiri yang dilontarkan oleh Menteri BUMN. Dan sebagai BUMN terdepan dalam produksi komoditas tersebut, PT Timah tentu tak akan menolak usulan sang bos.
“Kami menyambut baik keinginan Meneg BUMN Dahlan Iskan yang meminta PT Timah merintis pembentukan Indonesian Tin Market, sehingga Indonesia sebagai produsen timah dunia mempunyai pasar timah sendiri,” tandas Kepala Humas PT Timah, Wirtsa Firdaus.
Dan tak ingin momentum itu menguap begitu saja, pada 15 Desember lalu, bursa timah Indonesia didirikan dan menjadi sejarah baru dalam industri pertambangan timah di Indonesia.
Namun demikian kegiatan efektif perdagangan baru akan resmi dimulai pada 15 januari 2012. Pihak bursa yang disebut Indonesian Tin Market atau INATIN itu masih menyelesaikan infrastruktur dan kesiapan teknologi informasi serta perangkat hukum yang dibutuhkan para pelaku pasar.
Sejauh ini yang sudah ada tiga produsen yang akan memperdagangkan timahnya di INATIN yakni PT Timah,Tbk, PT Koba Tin dan PT Bukit Timah. Sedangkan pembeli yang sudah menyatakan kesediaanya adalah Mitsubishi, Toyota , Noble Group dan Credit Suisse.
Kontrak timah yang diberi kode INATIN adalah kontrak yang diperdagangkan berbasis dollar AS dan 1 lot kontrak setara dengan 5 metrik ton, dengan kelipatan sebesar 5 dollar AS per ton.
Perdagangan INATIN akan dilaksanakan secara terbuka di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Hanya ada satu sesi perdagangan selama 15 menit yang dimulai pukul 14:30 hingga 14:45 WIB. Satu menit setelah lelang terbuka, harga penutupan transaksi akan diumumkan dan menjadi harga penyelesaian untuk transaksi hari itu.
Dengan total transaksi maksimal 600 lot atau 3000 ton per hari, penyelesaian fisiknya dari tiap transaksi akan dilakukan di gudang milik PT Timah di Mentok Bangka serta dua lokasi pengiriman di Jakarta dan Surabaya.
Peluang PT Timah
Bagi PT Timah, terbentuknya INATIN akan menjadikan bisnis komoditas itu semakin berpeluang meningkatkan kinerjanya. Menurut Wirtsa, humas PT Timah, adanya perdagangan INATIN di bursa komoditas dalam negeri merupakan salah satu cara menyelamatkan aset strategis agar memiliki kedudukan yang lebih baik di pasar global. Di samping itu, dengan terbentuknya INATIN, akan memberi kesempatan bagi masyarakat penambang untuk mendapatkan harga timah yang lebih baik dibandingkan sebelum terbentuknya INATIN.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun lalu, PT Timah mencatatkan kinerja cukup baik yang terlihat dari perolehan laba bersih yang meningkat 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga timah di sepanjang semester pertama 2011 dan peningkatan volume penjualan menjadi penopangnya.
Untuk tahun ini, manajemen PT Timah menetapkan target produksi sebesar 50.000 metrik ton meski awalnya sempat ditetapkan 60.000 metrik ton yang kemungkinan terkait masih diberlakukannya moratorium ekspor timah.
Menurut Direktur Utama PT Timah Wachid Usman, kapasitas produksi PT Timah seharusnya bisa mencapai 60 ribu metrik ton per tahun tetapi karena kondisi yang ada akhirnya ditetapkan hanya 50 ribu metrik ton per tahun. “Kami perkirakan produksi tahun depan sebesar 50 ribu ton,” kata Wachid tanpa menyebut target penjualan, “Kami masih fokus pada penjualan tahun ini. Untuk penjualan 2011 jelas turun karena kami mengurangi penjualan spot.”
Hilangkan Spekulan
Sementara itu, keinginan untuk lebih bisa mengendalikan harga lewat pendirian bursa timah sendiri di Indonesia memunculkan suara-suara yang tidak setuju. Bahkan suara itu timbul dari para pelaku industri yaitu dari Asosiasi Timah Indonesia.
Presiden Asosiasi Timah Indonesia (ATI) Hidayat Arsani mengatakan, konsep perdagangan di BKDI atau disebut pula Indonesia Commodity & Derivative Exchange (ICDX), tidak menguntungkan produsen. Pasalnya perdagangan di bursa itu masih mengadopsi pola pasar logam London dan Kuala Lumpur yang selama ini menjadi acuan harga timah karena dianggap memberikan peluang pada spekulan. “Kami menolak pola perdagangan yang lebih mengutamakan peran spekulan dan manajer lembaga pendanaan,” tegas Hidayat.
Sikap Hidayat didukung pula oleh Sekretaris Jenderal ATI Johan Murod. Bahkan, Johan akhirnya mengundurkan diri dari posisi itu karena menolak timah masuk BKDI. Dengan peristiwa itu tak pelak bursa terancam kekurangan pasokan balok timah untuk diperdagangkan.
Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah para pemangku kepentingan agar bursa yang belum dibuka itu bisa efektif dan berjalan sesuai cita-cita. Kalau tidak, maka keinginan untuk mengendalikan harga timah akan menjadi mimpi belaka. SP





.jpg)










