• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home BUMN

Saatnya Kendalikan Harga Timah

oleh Sandy Romualdus
15 Januari 2012 - 00:00
13
Dilihat
Saatnya Kendalikan Harga Timah
0
Bagikan
13
Dilihat

Sebagai penghasil timah terbesar yang diperlukan oleh perekonomian dunia, sudah sewajarnya Indonesia memiliki pasar komoditas timah sendiri. Namun kehadirannya harus memberikan keuntungan bagi industri timah nasional dan bukan kepada spekulan.

Oleh : Egenius Soda

 

BERITA TERKAIT

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Apa yang terjadi jika Anda adalah penghasil terbanyak barang kebutuhan dunia tetapi harus menjualnya terlebih dahulu kepada orang lain? Atau Anda harus mengirim barang tersebut ke pasar yang letaknya jauh dari tempat Anda dan harga ditentukan bukan oleh Anda? Tentu Anda harus mengubahnya.

Ilustrasi pertanyaan tersebut memang tidak sama persis dengan yang terjadi dengan produk timah Indonesia, tapi setidaknya kondisinya tak jauh beda.

Indonesia adalah negara pengekspor timah terbesar di dunia yang mana menguasai 70 persen kebutuhan dunia. Memang, produksi timah kita masih kalah dengan China. Akan tetapi karena Negara Tirai Bambu itu menggunakan seluruh timahnya untuk kebutuhan dalam negeri, jadilah Indonesia sebagai sumber kebutuhan timah dunia. Dan PT Timah Tbk, salah satu badan usaha milik Negara (BUMN), menjadi perusahaan penghasil dan pengekspor timah terbesar di dunia.

Sayangnya, meski menjadi penguasa timah, kita tak kuasa mengendalikan harga timah. Sampai saat ini harga timah Indonesia masih sangat bergantung pada harga timah yang ada di London Metal Exchange (LME), Inggris dan Kuala Lumpur Tin Market, Malaysia.

“Indonesia merupakan produsen timah terbesar tapi pasar timahnya ada di London dan di Malaysia. Kan, aneh Indonesia yang punya tapi pasarnya di luar,” ujar Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan.

Inilah yang kemudian memunculkan ide pendirian bursa timah di Tanah Air, alih-alih terus bergantung pada bursa di London dan Kuala Lumpur. Kehadiran pasar komoditas timah tentu akan tetap menjaga stabilitas pasar timah internasional sekaligus dapat mendatangkan keuntungan bagi Indonesia sebagai produsen.

“Ini dilakukan untuk memperbaiki harga timah dunia yang saat ini ada di level 19 ribu dollar AS per metrik ton, padahal sebelumnya harga timah sempat mencapai 30 ribu dollar AS per metrik ton. Ini kan seperti dipermainkan. Jadi dengan adanya pasar timah di Indonesia diharapkan harga timah ke depan tidak lagi dipermainkan,” jelas Dahlan.

Kehadiran bursa baru tentu akan berguna ketika harga timah dunia sangat tidak menguntungkan produsen seperti yang terjadi belakangan ini. Memasuki paro kedua 2011, harga timah dunia mengalami pelemahan yang luar biasa dengan anjlok hampir setengahnya dari harga di awal tahun. Pada pekan kedua Desember, harga timah berkisar 20 ribu dollar AS per metrik ton padahal beberapa bulan sebelumnya masih bertengger di level 30 ribu dollar AS.

Terlepas dari adanya sentimen krisis di Eropa dan Amerika, anjloknya harga timah ini dinilai tidak terlepas dari adanya permainan para pialang di pasar LME. Anjloknya harga timah di bursa London tak pelak merugikan produsen timah nasional sehingga direspons dengan melakukan moratorium ekspor timah sejak 1 Oktober 2011. Meski kesepakatan itu dilanggar sendiri oleh beberapa anggota namun sejatinya moratorium hanya strategi jangka pendek. Sementara jangka panjang tentu dibutuhkan penguatan peran Indonesia sebagai pengendali pasar timah.

Keinginan untuk mengendalikan pasar dunia pun bertemu dengan ide mendirikan bursa komoditas timah sendiri yang dilontarkan oleh Menteri BUMN. Dan sebagai BUMN terdepan dalam produksi komoditas tersebut, PT Timah tentu tak akan menolak usulan sang bos.

“Kami menyambut baik keinginan Meneg BUMN Dahlan Iskan yang meminta PT Timah merintis pembentukan Indonesian Tin Market, sehingga Indonesia sebagai produsen timah dunia mempunyai pasar timah sendiri,” tandas Kepala Humas PT Timah, Wirtsa Firdaus.

Dan tak ingin momentum itu menguap begitu saja, pada 15 Desember lalu, bursa timah Indonesia didirikan dan menjadi sejarah baru dalam industri pertambangan timah di Indonesia.

Namun demikian kegiatan efektif perdagangan baru akan resmi dimulai pada 15 januari 2012. Pihak bursa yang disebut Indonesian Tin Market atau INATIN itu masih menyelesaikan infrastruktur dan kesiapan teknologi informasi serta perangkat hukum yang dibutuhkan para pelaku pasar.

Sejauh ini yang sudah ada tiga produsen yang akan memperdagangkan timahnya di INATIN yakni PT Timah,Tbk, PT Koba Tin dan PT Bukit Timah. Sedangkan pembeli yang sudah menyatakan kesediaanya adalah Mitsubishi, Toyota , Noble Group dan Credit Suisse.

Kontrak timah yang diberi kode INATIN adalah kontrak yang diperdagangkan berbasis dollar AS dan 1 lot kontrak setara dengan 5 metrik ton, dengan kelipatan sebesar 5 dollar AS per ton.

Perdagangan INATIN akan dilaksanakan secara terbuka di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Hanya ada satu sesi perdagangan selama 15 menit yang dimulai pukul 14:30 hingga 14:45 WIB. Satu menit setelah lelang terbuka, harga penutupan transaksi akan diumumkan dan menjadi harga penyelesaian untuk transaksi hari itu.

Dengan total transaksi maksimal 600 lot atau 3000 ton per hari, penyelesaian fisiknya dari tiap transaksi akan dilakukan di gudang milik PT Timah di Mentok Bangka serta dua lokasi pengiriman di Jakarta dan Surabaya.

Peluang PT Timah

Bagi PT Timah, terbentuknya INATIN akan menjadikan bisnis komoditas itu semakin berpeluang meningkatkan kinerjanya. Menurut Wirtsa, humas PT Timah, adanya perdagangan INATIN di bursa komoditas dalam negeri merupakan salah satu cara menyelamatkan aset strategis agar memiliki kedudukan yang lebih baik di pasar global. Di samping itu, dengan terbentuknya INATIN, akan memberi kesempatan bagi masyarakat penambang untuk mendapatkan harga timah yang lebih baik dibandingkan sebelum terbentuknya INATIN.

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun lalu, PT Timah mencatatkan kinerja cukup baik yang terlihat dari perolehan laba bersih yang meningkat 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga timah di sepanjang semester pertama 2011 dan peningkatan volume penjualan menjadi penopangnya.

Untuk tahun ini, manajemen PT Timah menetapkan target produksi sebesar 50.000 metrik ton meski awalnya sempat ditetapkan 60.000 metrik ton yang kemungkinan terkait masih diberlakukannya moratorium ekspor timah.

Menurut Direktur Utama PT Timah Wachid Usman, kapasitas produksi PT Timah seharusnya bisa mencapai 60 ribu metrik ton per tahun tetapi karena kondisi yang ada akhirnya ditetapkan hanya 50 ribu metrik ton per tahun. “Kami perkirakan produksi tahun depan sebesar 50 ribu ton,” kata Wachid tanpa menyebut target penjualan, “Kami masih fokus pada penjualan tahun ini. Untuk penjualan 2011 jelas turun karena kami mengurangi penjualan spot.”

Hilangkan Spekulan

Sementara itu, keinginan untuk lebih bisa mengendalikan harga lewat pendirian bursa timah sendiri di Indonesia memunculkan suara-suara yang tidak setuju. Bahkan suara itu timbul dari para pelaku industri yaitu dari Asosiasi Timah Indonesia.

Presiden Asosiasi Timah Indonesia (ATI) Hidayat Arsani mengatakan, konsep perdagangan di BKDI atau disebut pula Indonesia Commodity & Derivative Exchange (ICDX), tidak menguntungkan produsen. Pasalnya perdagangan di bursa itu masih mengadopsi pola pasar logam London dan Kuala Lumpur yang selama ini menjadi acuan harga timah karena dianggap memberikan peluang pada spekulan. “Kami menolak pola perdagangan yang lebih mengutamakan peran spekulan dan manajer lembaga pendanaan,” tegas Hidayat.

Sikap Hidayat didukung pula oleh Sekretaris Jenderal ATI Johan Murod. Bahkan, Johan akhirnya mengundurkan diri dari posisi itu karena menolak timah masuk BKDI. Dengan peristiwa itu tak pelak bursa terancam kekurangan pasokan balok timah untuk diperdagangkan.

Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah para pemangku kepentingan agar bursa yang belum dibuka itu bisa efektif dan berjalan sesuai cita-cita. Kalau tidak, maka keinginan untuk mengendalikan harga timah akan menjadi mimpi belaka. SP

 

 
 
 
 
Sebelumnya

Membangunkan Raksasa Tidur

Selanjutnya

Jaminan Sosial Masih Panjang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI dan BNI Ventures Luncurkan Dropbox Kertas, Dorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Kantor

BNI dan BNI Ventures Luncurkan Dropbox Kertas, Dorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Kantor

oleh Sandy Romualdus
17 Februari 2026 - 13:51

Stabilitas.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI bersama anak usahanya, BNI Ventures, memperkuat komitmen keberlanjutan melalui peluncuran...

Jasa Marga Kenalkan Ekosistem Travoy di IIMS 2026, Siap Kawal Mudik Lebaran

Jasa Marga Kenalkan Ekosistem Travoy di IIMS 2026, Siap Kawal Mudik Lebaran

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:08

Stabilitas.id — PT Jasa Marga (Persero) Tbk. memperkenalkan ekosistem aplikasi Travoy (Travel with Comfort and Joy) dalam ajang Indonesia International...

Bangkit dari PHK, UMKM Binaan BRI Rolly Bakery Tembus Pasar Global

Bangkit dari PHK, UMKM Binaan BRI Rolly Bakery Tembus Pasar Global

oleh Stella Gracia
11 Februari 2026 - 12:47

Stabilitas.id — Berawal dari pemutusan hubungan kerja (PHK), Natali berhasil membangun usaha roti dan kue kering rumahan bernama Rolly Bakery...

Permudah Pembayaran, BRImo Perkenalkan Fitur QRIS Tap

Permudah Pembayaran, BRImo Perkenalkan Fitur QRIS Tap

oleh Stella Gracia
9 Februari 2026 - 09:07

JAKARTA, Stabilitas.id – Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memperluas kemudahan transaksi digital untuk mendukung mobilitas harian masyarakat Jakarta melalui pengembangan...

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 14:34

Stabilitas.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui satu kali...

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

oleh Sandy Romualdus
7 Februari 2026 - 18:43

Stabilitas.id — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) melanjutkan aksi bersih Pantai Mertasari, Bali, dengan menyalurkan bantuan sarana pengelolaan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Kerja Keras dan Semangat Norlent

Kerja Keras dan Semangat Norlent

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance