JAKARTA, Stabilitas — Layanan keuangan digital baik yang dilakukan oleh perbankan maupun non bank semakin menjamur, namun saat ini hanya 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki rekening bank, artinya inklusi keuangan ini belum mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat terutama pada kalangan menengah ke bawah dan lingkungan daerah pedesaan.
AKSI (Aksi untuk Keuangan Inklusif Indonesia) yang merupakan gabungan dari MicroSave dan LPEM FEB UI melakukan riset mengenai inklusi keuangan digital bagi masyarakat miskin. Pihaknya memperkirakan bahwa digitalisasi dapat meningkatkan PDB tahunan di negara-negara berkembang sebesar $ 3,7 Triliun pada tahun 2025, meningkat dibandingkan dengan layanan keuangan konvensional, sehingga mampu menciptakan lebih dari 95 juta lapangan di seluruh sektor.
AKSI menguraikan bahwa akses layanan keuangan formal masih tertinggal bagi sebagian besar penduduk di Indonesia. Layanan tabungan dan kredit oleh bank masih belum mencukupi karena keterbatasan kantor cabang, proses administrasi yang rumit, serta sistem penilaian kredit yang masih konvensional.
BERITA TERKAIT
“Kalau kita amati, masih banyak masyarakat seperti TKI atau orang desa yang bekerja di kota, mereka kebanyakan masih menggunakan transaksi konvensional melalui operator pengiriman uang. Mereka enggan dan takut menggunakan layanan digital, padahal biaya lebih murah dan waktu juga lebih efisien,”ujar Country Head Development MicroSave, Grace Retnowati, Rabu (12/10).
Salah satu faktor penentu pelaksanaan inklusi digital adalah infrastruktur yang mendukung meliputi konektivitas perangkat mobile, konektivitas internet, outlet layanan keuangan, dan kelengkapan administrasi. Faktor ini bisa disediakan oleh bank tentu dengan keuntungan bagi bank itu sendiri.
“Dalam hal ini bank bisa menyediakan channelnya dimana uang masuk bisa ke rekening bank juga. Jadi selama ini kan banyak transaksi yang dilakukan TKI dalam bentuk cash, karena cash otomatis jadi mahal. kalau ke bank otomatis bank kan mendapatkan sumber dana atau pembiayaan yang lebih murah kan,”ucap Grace.
Saat ini jumlah pengiriman uang domestik dan lintas negara yang masih menggunakan sistem konvensional atau cash rata-rata sebesar USD 10,5 miliar dari 70 persen penduduk Indonesia, artinya masih banyak penduduk yang belum terdigitalisasi proses transaksinya yang sebagian besar berada di kalangan ekonomi menengah ke bawah. (Ima)















