Stabilitas.id — Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah di tengah dinamika perekonomian global dan domestik pada awal tahun 2026. Berdasarkan pemantauan BI, pergerakan nilai tukar rupiah, pasar obligasi, serta aliran modal asing menunjukkan kondisi yang relatif terjaga.
Pada penutupan perdagangan Rabu, 31 Desember 2025, rupiah ditutup di level Rp16.670 per dolar AS (bid). Seiring dengan itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun ke level 6,05%, mencerminkan minat investor yang masih terjaga di pasar obligasi domestik.
Di sisi global, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,32, sementara yield US Treasury Note tenor 10 tahun naik ke 4,167%, yang mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT
Sementara itu, pada pagi hari Jumat, 2 Januari 2026, rupiah dibuka melemah tipis di level Rp16.680 per dolar AS (bid). Adapun yield SBN tenor 10 tahun relatif stabil di kisaran 6,04%.
Premi CDS Turun, Sentimen Risiko Membaik
Dari sisi persepsi risiko, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 1 Januari 2026 tercatat sebesar 67,78 basis poin (bps). Angka ini menurun dibandingkan posisi 26 Desember 2025 yang sebesar 69,95 bps, mencerminkan perbaikan sentimen investor terhadap risiko Indonesia.
Aliran Modal Asing Masih Masuk
Berdasarkan data transaksi periode 29–31 Desember 2025, investor nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp2,43 triliun di pasar keuangan domestik. Aliran masuk tersebut berasal dari beli neto Rp1,23 triliun di pasar saham dan Rp1,66 triliun di pasar SBN, meskipun terdapat jual neto Rp0,46 triliun di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Namun secara kumulatif sepanjang tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 31 Desember 2025, nonresiden masih mencatatkan jual neto sebesar Rp17,00 triliun di pasar saham dan Rp110,11 triliun di SRBI, sementara di pasar SBN tercatat beli neto Rp2,01 triliun.
Strategi BI Jaga Stabilitas
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, Jumat (2/1). ***





.jpg)










