Jakarta – Bank Indonesia (BI) akan mesuaikan strategi kebijakan intervensi valuta asing di pasar uang antar bank (PUAB) dalam upaya mensurpluskan transaksi modal dan finansial.
"Kita akan lakukan penyesuaian strategi sehingga nanti dilihat dari sisi transaksi modal financial surplus," ujar Direktur eksekutif Departemen Pengelolaan Riset dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Budi Waluyo di kompleks gedung BI, Jakarta, Jumat (17/5).
BERITA TERKAIT
Transaksi modal dan finansial pada kuartal I tahun 2013 mengalami defisit hampir US$1,4 miliar. Hal ini terjadi karena bank-bank mengalihkan asetnya dari dalam negeri ke luar negeri hingga defisit $7,670 miliar.
Penyebabnya adalah kebijakan intervensi BI yang mengambil alih penyediaan sebagian besar kebutuhan valas untuk pembayaran impor minyak. Otoritas perbankan tersebut langsung mensuplai kebutuhan valas Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang selama ini bersumber dari perbankan domestik. Tujuannya adalah meredam kuatnya depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah di selama kuartal I.
"Karena BI suplai langsung kebutuhan valas impor BBM, aset bank naik, dan bank-bank mengalihan penempatan simpanan nasabahnya ke luar negeri," kata Doddy. Ditambah defisit transaksi berjalan sebesar US$5 miliar, neraca pembayaran Indonesia (NPI) menjadi defisit diatas US$6 miliar.
"Penyesuaian strateginya adalah peran dari perbankan domestik untuk membantu pasokan valas domestik juga akan diperbesar," ujar Doddy. Selain itu, bank-bank akan diminta untuk memasukan kembali simpanannya di luar negeri.
Akan tetapi, Doddy mengaku bahwa BI masih akan memasok valas untuk Pertamina dan PLN. Tujuannya adalah agar menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
"Kita belum keluar outlook tapi trennya kearah perbaikan. Kemarin kan defisitnya pada transaksi modal dan financial. Lebih karena strategi stabilisasi nilai tukar," tandasnya.





.jpg)










