• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Info Otoritas

BI-Rate Tetap 5,75%: Akrobat Rem Moneter dan Gas Likuiditas Rp461 Triliun di Era Destry Damayanti

by Sandy Romualdus
24 September 2026 - 11:07
7
VIEWS
BI-Rate Tetap 5,75%: Akrobat Rem Moneter dan Gas Likuiditas Rp461 Triliun di Era Destry Damayanti
0
SHARES
7
VIEWS

Di tengah lonjakan harga minyak dan kurs Rupiah yang tertekan ke level Rp17.855 per dolar AS, kepemimpinan baru Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Namun, manuver menginjak rem moneter sembari memompa pedal gas likuiditas menyimpan risiko struktural.

Stabilitas.id – Bagi bank sentral di negara berkembang, merumuskan kebijakan moneter pada paruh kedua 2026 menyerupai mengemudikan kendaraan bertenaga besar di lintasan yang licin: terlambat menginjak rem, nilai tukar akan tergelincir masuk jurang depresiasi; namun jika pengereman terlalu mendadak, mesin pertumbuhan ekonomi domestik akan mati seketika.

  • Baca juga: Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Dilema kalkulasi inilah yang dihadapi Destry Damayanti dalam debut Rapat Dewan Gubernur (RDG) reguler perdananya sebagai Gubernur Bank Indonesia, pascapelantikannya di Mahkamah Agung. Di hadapan ketidakpastian pasar global yang memuncak—tatkala suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) bertengger di rentang 3,75%–4,00% dan harga minyak mentah dunia sempat melambung ke USD 132 per barel akibat eskalasi geopolitik—Bank Indonesia pada 22–23 September 2026 memutuskan mengunci BI-Rate di level 5,75%.

Dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026), Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan alasan di balik jangkar moneter tersebut.

BERITA TERKAIT

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

HUT ke 28, Bank Mandiri Guyur Investor dengan Dividen Interim Rp6,16 Triliun

Kemenkeu dan BI Bersinergi: Sukuk SMF dan SMI Masuk Keranjang Repo Moneter

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” pungkas Destry.

Namun bagi para pelaku pasar dan perumus kebijakan, pertanyaan esensialnya adalah: so what? Apa konsekuensi riil dari manuver akrobatik ini bagi stabilitas sistem keuangan Indonesia?

Implikasi pertama adalah berjalannya paradoks “kebijakan rem dan gas”. Secara ortodoks, menahan suku bunga acuan saat bank sentral global bersiap mengetatkan likuiditas biasanya menuntut pengetatan kredit domestik. Namun Bank Indonesia menempuh rute heterodoks. Sembari menahan suku bunga acuan (menginjak rem moneter), bank sentral justru menggelontorkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) hingga menembus Rp461,2 triliun (menginjak gas perbankan).

  • Baca juga: Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Hasilnya terlihat spektakuler pada data agregat: kredit perbankan melaju kencang 13,65% (yoy), didorong oleh lonjakan kredit investasi yang melesat 25,11%. Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, dalam beberapa kesempatan mengonfirmasi vitalnya pasokan likuiditas tersebut sembari mengingatkan ancaman pembengkakan biaya dana:

“Injeksi likuiditas makroprudensial melalui KLM sebesar Rp461,2 triliun menjadi penopang utama bagi perbankan untuk mempertahankan laju kredit di level 13,65%. Namun, tantangan terbesar industri adalah mengelola biaya dana (Cost of Funds) valas agar tidak mengikis margin bunga bersih,” ujar dia.

Kecemasan ini kian beralasan apabila membedah asimetri data di lapangan. Sebagaimana disorot dalam kajian LPEM FEB UI, kontras tajam antara kredit investasi yang melonjak 25% dan kredit konsumsi yang tertahan di level 5,07% adalah cermin kegelisahan daya beli. Ekonom Makroekonomi LPEM FEB UI Teuku Riefky mengingatkan risiko rambatan inflasi tersebut:
“Bank Indonesia sedang mengoperasikan kebijakan rem dan gas yang sangat presisi sekaligus berisiko. Di satu sisi moneter menginjak rem stabilitas demi menahan Rupiah di level Rp17.855 per dolar AS, namun di sisi lain makroprudensial menginjak gas likuiditas Rp461 triliun. Jika imported inflation dari harga minyak dunia kembali merembes ke pangan domestik, daya beli masyarakat bawah akan terpukul sebelum stimulus pembiayaan sempat dinikmati sektor riil,” jelas Teuku Riefky.

Implikasi kedua adalah ongkos mahal yang harus diserap demi menopang stabilitas kurs. Menyadari selisih imbal hasil (yield spread) obligasi domestik dengan US Treasury kian tipis, BI melipatgandakan insentif pasar valas: diskon premi transaksi Swap Beli Lindung Nilai dinaikkan hingga 25% dan DNDF hingga 30% bagi pinjaman luar negeri dan penanaman modal asing.

Presiden Direktur BCA Gregory Hendra Lembong, sebagaimana dicatat redaksi, selalu menyambut baik langkah bank sentral ini sebagai peredam volatilitas.

“Keputusan BI menahan suku bunga acuan di 5,75% memberikan kepastian kalkulasi bagi sektor perbankan dan dunia usaha saat kurs Rupiah bergerak mendekati Rp17.900 per dolar AS. Peningkatan diskon premi Swap hingga 25% dan DNDF hingga 30% merupakan insentif riil yang menurunkan beban lindung nilai bagi korporasi yang memiliki liabilitas valas, sekaligus meredam tekanan di pasar spot,” katanya.

Kendati demikian, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto melalui catatan analisis moneter INDEF membongkar beban risiko yang diserap neraca bank sentral:

“Menaikkan diskon premi swap lindung nilai hingga 25% dan DNDF hingga 30% pada dasarnya adalah insentif penyerapan risiko yang dibebankan pada neraca bank sentral. Kebijakan ini efektif menahan arus modal keluar jangka pendek, namun jika suku bunga global tetap tinggi sepanjang sisa tahun 2026, amunisi stabilisasi devisa BI akan menghadapi uji ketahanan yang berat,” ungkap Eko mengingatkan.

Kondisi ini diperberat oleh dinamika persaingan likuiditas antar-bank. Ketua Umum PERBANAS Dr. Hery Gunardi, dalam kesempatan terpisah menegaskan pentingnya kehati-hatian perbankan menyongsong aturan baru:

  • Baca juga: HUT ke 28, Bank Mandiri Guyur Investor dengan Dividen Interim Rp6,16 Triliun
“Fundamental perbankan nasional tetap kokoh dengan CAR 23,84% dan kecukupan alat likuid 23,04%. Menjelang implementasi penguatan RPIM pada 1 Oktober 2026, perbankan harus memperkuat strategi pembiayaan inklusif secara terukur agar rasio NPL tetap terjaga di bawah ambang batas aman,” ungkap Hery.

Menjaga BI-Rate di level 5,75% adalah keputusan paling terukur yang bisa diambil Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Destry Damayanti pada September 2026 untuk meredam turbulensi pasar obligasi. Namun, strategi menyubsidi premi lindung nilai valas dan menyuntikkan ratusan triliun likuiditas di tengah kurs yang berada di level Rp17.855 per dolar AS adalah perjudian berisiko tinggi. Jika tensi geopolitik Timur Tengah kembali menyulut harga energi dunia dan memicu pelemahan kurs lebih jauh, Bank Indonesia tak lagi memiliki ruang leluasa untuk menginjak pedal rem dan gas secara bersamaan. ***

Editor : Sandy Romualdus
Tags: #BCABank IndonesiaBank MandiriBI Rate September 2026Destry DamayantiDNDFEko ListiyantoGregory Hendra LembongHery GunardiindefKebijakan Likuiditas MakroprudensialKLMLPEM FEB UINilai Tukar RupiahperbanasRiduanSuku Bunga The FedSwap Lindung NilaiTeuku Riefky
 
 
 
 
 
Previous Post

Kilas Stabilitas Moneter: Dampak Suku Bunga BI Tetap Terhadap Saham BMRI, BBRI, dan BBCA (24/9)

Next Post

Ekosistem Sirkular Ekonomi SIG: Limbah Panen Petani Berubah Jadi Bahan Bakar Semen Hijau

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Targetkan 5 Bank Syariah Jumbo pada 2027: OJK Dorong Konversi dan Wajibkan Merger Bank Kecil

Targetkan 5 Bank Syariah Jumbo pada 2027: OJK Dorong Konversi dan Wajibkan Merger Bank Kecil

by Sandy Romualdus
5 Oktober 2026 - 10:53

OJK menargetkan lima bank syariah beraset jumbo hadir di Indonesia pada 2027 melalui skema konversi penuh dan kewajiban merger hasil...

Mitigasi Dampak Bencana NTT : OJK Beri Relaksasi Kredit Tiga Tahun bagi Debitur di 8 Kabupaten

Mitigasi Dampak Bencana NTT : OJK Beri Relaksasi Kredit Tiga Tahun bagi Debitur di 8 Kabupaten

by Sandy Romualdus
2 Oktober 2026 - 20:54

OJK memberlakukan perlakuan khusus kredit selama 3 tahun bagi debitur terdampak gempa bumi di delapan kabupaten Provinsi NTT. Stabilitas.id - Otoritas...

Luncurkan Roadmap 2026–2030: OJK Dorong Bank Masuk Era ‘Universal Banking’ dan Uji Risiko Iklim

Luncurkan Roadmap 2026–2030: OJK Dorong Bank Masuk Era ‘Universal Banking’ dan Uji Risiko Iklim

by Sandy Romualdus
2 Oktober 2026 - 18:52

OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 dan panduan CRMS di Denpasar untuk memperkuat daya saing, ekspansi universal bank, dan mitigasi risiko iklim...

Transaksi LCT Tembus USD 42 Miliar: BI Perkuat Layanan Kebanksentralan Hadapi Risiko Geopolitik

Kemenkeu dan BI Bersinergi: Sukuk SMF dan SMI Masuk Keranjang Repo Moneter

by Sandy Romualdus
1 Oktober 2026 - 22:04

BI memperluas underlying operasi moneter dengan memasukkan obligasi korporasi PT SMF dan PT SMI guna memperdalam likuiditas pasar keuangan. Stabilitas.id...

Transaksi LCT Tembus USD 42 Miliar: BI Perkuat Layanan Kebanksentralan Hadapi Risiko Geopolitik

Transaksi LCT Tembus USD 42 Miliar: BI Perkuat Layanan Kebanksentralan Hadapi Risiko Geopolitik

by Sandy Romualdus
1 Oktober 2026 - 22:02

Bank Indonesia memperkuat layanan kebanksentralan di CB Fest 2026 seiring lonjakan transaksi LCT 259 persen mencapai USD 42,07 miliar. Stabilitas.id...

Kontestasi Seleksi Komisioner OJK

Bendung Gadai Ilegal di Daerah: OJK Beri Lampu Hijau Izin Nasional Gadai Mulia dan Solusi Gadai

by Sandy Romualdus
1 Oktober 2026 - 18:52

OJK menyetujui izin usaha nasional bagi PT Gadai Mulia Sejahtera dan PT Solusi Gadai Pintar untuk memperluas akses kredit formal...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Forbes 2026: BCA Peringkat 1 Bank Terbaik RI, SeaBank Juara di Kategori Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Ubah Sampah Jadi Biogas: DPRD DKI Apresiasi Inovasi Biodigester Bank Jakarta di Rusunawa Rorotan

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Laba Turun 19 Persen: Astra Tetap Guyur Dividen Interim Rp3,9 Triliun di Tengah Buyback Jumbo

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tawarkan 76 Proyek Strategis: Pemerintah Buka Peluang Investasi KPBU Senilai US$63 Miliar

Guyur Stimulus Rp31 Triliun: Prabowo Siapkan Bansos Beras, BSU, dan Diskon Pajak

Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

Targetkan 5 Bank Syariah Jumbo pada 2027: OJK Dorong Konversi dan Wajibkan Merger Bank Kecil

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Mitigasi Risiko Ekonomi Karhutla, Bank Indonesia Kucurkan Dana Darurat Rp2,97 Miliar

Ekosistem Sirkular Ekonomi SIG: Limbah Panen Petani Berubah Jadi Bahan Bakar Semen Hijau

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance