Mantan Menkeu Bambang Brodjonegoro memperingatkan potensi aging population di Pulau Jawa yang dapat mempersempit peluang Indonesia keluar dari middle income trap.
Stabilitas.id – Indonesia dinilai tidak memiliki ruang waktu yang panjang untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Potensi bonus demografi yang selama ini diandalkan sebagai mesin pertumbuhan kini mulai dibayangi oleh penurunan tingkat fertilitas dan ancaman penuaan populasi (aging population).
Menteri Keuangan Kabinet Kerja (2014–2016) yang juga menjabat Dekan Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang Brodjonegoro, menjelaskan bahwa secara nasional kondisi demografi Indonesia saat ini memang masih relatif aman. Namun, tren perubahan struktur kependudukan mulai tampak nyata di kawasan padat penduduk seperti Pulau Jawa.
“Saat ini kita masih dalam kondisi yang relatif baik karena setidaknya Indonesia belum memasuki fase penuaan penduduk secara nasional. Namun, tingkat fertilitas total di Pulau Jawa saat ini sudah berada di bawah angka 2. Artinya, Pulau Jawa mungkin mulai mengalami penuaan penduduk,” ujar Bambang dalam Biennial Policy Conference 2026 yang dipantau secara daring, Kamis (27/8/2026).
BERITA TERKAIT
Secara nasional, angka fertilitas Indonesia tercatat berada di kisaran 2,2 pada 2025. Meski begitu, dinamika kependudukan yang melambat di Jawa perlu diwaspadai karena porsi penduduk usia produktif berisiko menyusut lebih cepat dari perkiraan, sehingga membatasi modal pertumbuhan berbasis jumlah tenaga kerja (labor-driven growth).
Tantangan Ganda di Asia Pasifik
Fenomena penuaan penduduk ini tidak hanya melanda Indonesia, melainkan telah menjadi tren regional di Asia. Setelah Jepang, Korea Selatan, dan China, negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina juga mulai mengalami penuaan populasi yang cukup pesat sebelum berhasil mencapai status negara berpendapatan tinggi (high income country).
Kondisi tersebut menciptakan persoalan ganda bagi negara berkembang. Di satu sisi, mereka harus mempercepat kenaikan pendapatan per kapita; di sisi lain, tenggat waktu kian mempet akibat pergeseran demografi.
ADBI memperkirakan pada 2050 mendatang, sekitar 1,3 miliar penduduk di kawasan Asia-Pasifik akan berusia 60 tahun ke atas, atau menyumbang seperempat (25%) dari total populasi kawasan.
“Artinya, sekitar satu dari empat orang akan berusia 60 tahun atau lebih. Dan tentu saja kita tidak bisa mengandalkan kelompok penduduk tersebut untuk tetap produktif secara fisik,” imbuhnya.
Inovasi dan AI Sebagai Jawaban
Guna mengantisipasi menyempitnya jendela bonus demografi, Bambang mendorong Indonesia mencontoh lompatan teknologi yang dilakukan Jepang, Korea Selatan, dan China ketika berpacu dengan batas waktu demografi.
Strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditegaskan tidak bisa lagi bertumpu pada pertambahan kuantitas tenaga kerja semata, melainkan harus digeser menuju pertumbuhan berbasis produktivitas (productivity-driven growth) melalui adopsi teknologi, inovasi, dan perbaikan kualitas SDM.
Pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan percepatan transformasi digital dipandang sebagai instrumen kunci untuk menjaga efisiensi serta produktivitas industri nasional di tengah laju pertumbuhan tenaga kerja yang mulai melambat.
“Transformasi digital akan menjadi arus utama pertumbuhan ekonomi di masa depan. Momentum bonus demografi ini adalah jendela waktu kritis untuk mempercepat transformasi sebelum struktur kependudukan berubah permanen,” tegas Bambang. ***

















