• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

BTN yang Keluar dari Cangkang

by Sandy Romualdus
2 Agustus 2012 - 00:00
19
VIEWS
BTN yang Keluar dari Cangkang
0
SHARES
19
VIEWS

Mengutip Alexander Gerschenkron, (1962), lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam fungsi intermediasi adalah perbankan, terutama di negara berkembang. Menurut salah satu ahli sejarah ekonom dari Universitas Harvard, di negara berkembang, bank mampu membiayai secara lebih efektif ekspansi pelaku-pelaku industri dibandingkan bentuk pembiayaan lainnya.

Di Indonesia apa yang dikatakan Gerschenkron, seharusnya juga terbukti. Jika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sepanjang 2011 di mana sektor Pengangkutan dan Komunikasi mencatatkan laju pertumbuhan terbesar, bisa jadi hal itu benar. Bank-bank pun tampaknya mengikuti apa yang diinformasikan BPS dengan menyalurkan kredit ke sektor tersebut. Dan berdasarkan data yang diolah Pusat Data dan Analisis Stabilitas (PDAS), bank yang menyalurkan kredit terbesar di sektor Pengangkutan dan Komunikasi adalah Bank Tabungan Negara (BTN). 

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Dari sepuluh bank dengan aset terbesar, BTN menempati urutan teratas dengan persentase sebesar 396,8 persen di sektor itu. Angka yang sangat fantastis di saat bank-bank lain tidak sampai pada angka dua kali lipat. Kemudian yang kedua ditempati Bank Permata, yang menyalurkan sebesar 67,8 persen. Bank Mandiri saja hanya 11, 5 persen.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Meskipun sudah tinggi, ternyata masih ada sektor lain yang nilai kreditnya lebih tinggi lagi disalurkan oleh BTN, yakni sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan. Malahan sektor tersebut mencatat rekor tertinggi penerima kredit dari bank yang identik dengan properti ini. Kredit yang disalurkan mencapai 617,7 persen. 

Sementara untuk sektor yang sangat berdekatan dengan bisnis inti BTN, seperti sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan, BTN hanya menyalurkan sebesar 91,6 persen. Secara keseluruhan untuk BTN, sektor ini berada pada urutan ketiga sektor yang paling besar disalurkan kreditnya. Tapi jika dibandingkan dengan bank lain. Di sektor ini, BTN masih tetap menjadi raja. Bank Mandiri saja hanya menyalurkan 34,8 persen, BNI 22,5 persen, BRI, 17,1 persen. Saingan terdekat BTN adalah BCA. Untuk sektor keuangan real estate, dan jasa perusahaan BCA menyalurkan sebesar 48,5 persen.

Kredit yang besar di sektor non-perumahan memang merupakan bagian dari rencana bisnis bank. Menurut Iqbal Latanro, Dirut BTN, pihaknya akan terus memperbesar porsi kredit untuk sektor non-perumahan, khususnya pembiayaan mikro. Iqbal juga mengatakan, pihaknya akan menggenjot porsi kredit non perumahan hingga 15 persen dari total kredit pada 2012. Hingga akhir 2011 porsi kredit non-perumahan hanya berkisar 12 persen.

Iqbal melanjutkan, kinerja kredit pada 2011 sangat bagus yakni sebesar 24 persen. Untuk 2012, target penyaluran kredit mencapai sekitar Rp36 triliun. Kemudian dari sisi aset, Iqbal menambahkan, pada 2011 Bank BTN juga mengalami pertumbuhan sebesar 30 persen. “Indikasi lainnya juga sangat bagus. Karena itu kita akan terus berusaha menaikkan peringkat menjadi nomor 9 bank terbesar, “ujarnya.

Iqbal mengakui, penyaluran kredit kami yang utama hingga saat ini memang masih untuk sektor perumahan dan industri pendukung perumahan seperti industri genteng, batubata, alat-alat pembangunan rumah, dan sebagainya. “Ke depannya kami ingin sedikit menyusutkan porsi kredit perumahan dan memperbesar kredit non-perumahan hingga 15 persen,” ujarnya.

BTN sengaja memperbesar porsi non perumahan untuk membesar marjin laba hasil kredit. Gempuran bank-bank yang sangat gencar memasarkan produk KPR (kredit Pemilikan Rumah) membuat marjin di sektor perumahan menjadi minim. “Persaingan sekarang makin tinggi, kita tidak bisa untung banyak karena semua bank punya produk KPR.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Jadi kita membidik sektor mikro yang marjinnya cukup tinggi,” tutur Iqbal. Selain membidik marjin yang lebih tebal, perubahan skema bisnis ini juga untuk mendistribusikan risiko. “Jadi intinya harus ada distribusi risiko untuk melindungi bisnis apabila terjadi masalah,” katanya.

Masih Rendah

Namun demikian jika melihat peran perbankan terhadap perekonomian, Indonesia bisa dibilang termasuk yang masih lemah. Sampai 2011 rasio kredit terhadap Produk Dometik Bruto (PDB) Indonesia baru 29,62 persen. Padahal secara umum kinerja sektor perbankan selama beberapa tahun terahkir hampir selalu kinclong. “Memang kinerja perbankan terus meningkat, tapi masih rendah dalam ukuran makro alokasi kredit dalam ekonomi Indonesia”, ucap Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P. Roeslani.

Jika dibandingkan dengan Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand, yang angka rasio kredit mereka terhadap PDB sudah berada di atas 70 persen, angka yang dibuat perbankan nasional jelas bukan apa-apa.

Belum lagi jika ditilik dari penyaluran kredit pada sektor tradable yang cenderung terus menciut. Padahal sektor tradable penyumbang utama pada PDB dan penyerap tenaga kerja terbesar. Hanya memeroleh alokasi kredit sekitar 25 persen selama 2011. “Kredit sektor pertanian tidak lebih dari 6 persen sedangkan industri pengolahan menyerap sekitar 15 persen atau turun dari kisaran 25 persen pada 2010,” tutup Rosan.

Jika dilihat berdasarkan laju pertumbuhan, sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi selama 2007 – 2012 secara rata-rata dihasilkan dari sektor pengangkutan, pergudangan dan komunikasi sebesar 10,3 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 8,5 persen, dan menempati urutan ketiga jatuh pada sektor industry pengolahan (manufaktur) sebesar 5,7 persen.

Sektor pengangkutan adalah pengangkutan barang atau penumpang (orang) dengan angkutan darat, angkutan laut, sungai, danau dan kanal serta angkutan udara, termasuk juga jasa angkutan, pengepakan dan pengiriman barang, keagenan/biro perjalanan, usaha persewaan angkutan darat/air/udara berikut pengemudinya. 

Pergudangan adalah sektor usaha penyimpanan barang di gudang dengan fasilitas-fasilitasnya, seperti penyimpanan barang dalam kamar/ruangan pendingin dan gudang barang-barang yang berada di kawasan berikat. 

Sedangkan sektor komunikasi adalah usaha pelayanan komunikasi untuk umum baik melalui pos, telepon, telegraf/teleks atau hubungan radio panggil (pager). 

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Kemudian sektor industri pengolahan (manufaktur) adalah usaha pengubahan bahan dasar menjadi barang jadi/setengah jadi atau dari yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya. 

Termasuk usaha industri pengolahan adalah jasa industri yang menerima upah. Data Bank Indonesia menyebutkan, penyaluran kredit perbankan pada kuartal pertama 2012  tumbuh 25,1 persen dibanding periode sebelumnya. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, mengatakan pertumbuhan kredit pada tiga bulan pertama itu didorong oleh pertumbuhan di semua sektor perekonomian.  “Pertumbuhan kredit yang tertinggi dicatat oleh sektor transportasi, telekomunikasi, dan perdagangan,” kata Darmin. Tingginya penyaluran kredit ini menandakan fungsi intermediasi perbankan dan likuiditas perbankan masih terkendali

 
 
 
 
 
Previous Post

BNI Raih Penghargaan BUMN Marketers

Next Post

Hakikat Intermediasi Perbankan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Era Baru Pengawasan Bank

Era Baru Pengawasan Bank

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance