Di bawah naungan Gunung Inerie yang agung, ramuan kerja keras, sertifikat Indikasi Geografis, dan jembatan business matching membentengi tanah udayana dari cengkeraman ekspansi modal. Inilah kisah perjalanan Kopi Arabika Kaghomasa dari dataran tinggi Bajawa menembus Amerika Serikat. Menjaga kedaulatan tanah dan ekonomi kerakyatan Flores.
Stabilitas.id – Kabut tipis selalu menyelimuti dataran tinggi Bajawa setiap pagi merambat. Di ketinggian 1.200 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, hamparan tanah vulkanik pedalaman Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur itu menyimpan aroma khas: manis karamel, sentuhan cokelat, dan keasaman sitrus yang halus. Di tanah berhawa sejuk inilah, jemari rentan para petani lokal merawat setiap bulir buah kopi arabika dengan ketelitian yang diwariskan lintas generasi.
Kopi Bajawa bukan sekadar komoditas dagang biasa. Keunikannya telah diakui secara resmi melalui sertifikat Indikasi Geografis sejak 2012. Bahkan, lembaga penilai internasional Specialty Coffee Association pernah menyematkan skor fantastis 85,50 dari skala 100—sebuah predikat yang menempatkan kopi dari ceruk dataran tinggi Flores ini di jajaran elite kopi dunia.
Namun, di balik keagungan skor dan harum aroma di cangkir-cangkir penikmat kopi dunia, ada kisah perlawanan sunyi tentang daya tahan, martabat tanah adat, dan kedaulatan ekonomi kerakyatan.
Dari Rumah-rumah Sederhana ke Ajang Dunia
Kisah ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Marsalina Walu, atau yang karib disapa Mama Lina. Pada 2013, berbekal tekad sederhana agar hasil jerih payah para tetangganya tidak dipermainkan oleh tengkulak, Mama Lina mengumpulkan para petani dalam sebuah wadah bernama Kaghomasa.
Awalnya, Kaghomasa bergerak dalam ketidaktahuan. Para anggotanya adalah petani akar rumput yang tak paham kerumitan rantai pasok kopi global, apa itu standar specialty, atau bagaimana kalkulasi pasar ekspor. Mereka memetik buah merah di kebun masing-masing, mengolahnya dengan peralatan seadanya di sudut rumah, lalu mengumpulkannya menjadi satu produk kelompok.
“Dulu kami belajar dari nol, tidak tahu apa-apa soal dunia kopi luar,” kenang Mama Lina menceritakan masa-masa awal berdirinya Kaghomasa, sebagaimana dilansir dari kanal cerita BI dalam portal resmi Bank Indonesia (23/8/2026).
Langkah kecil dari Bajawa itu perlahan menemukan jalannya. Keikutsertaan Kaghomasa dalam ajang World of Coffee 2025 menjadi titik balik sejarah kelompok ini. Di sana, harum arabika Kaghomasa memikat pembeli (buyer) asal Amerika Serikat. Pertemuan itu membuka keran ekspor, hingga Negeri Paman Sam resmi menjadi pasar terbesar Kaghomasa selama dua tahun terakhir.
Business Matching: Sekolah Ekspor bagi Petani Desa
Di balik gemerlap transaksi ekspor, tantangan sesungguhnya bagi UMKM daerah adalah ketimpangan informasi pasar. Dalam forum-forum business matching—seperti yang difasilitasi dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026—Kaghomasa kembali melangkah lebih jauh lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) dengan pembeli-pembeli baru.
Bagi Mama Lina, forum seperti ini bukan sebatas ajang mencari pembeli, melainkan “sekolah kehidupan” untuk memahami bahasa perdagangan internasional. Para petani belajar membaca preferensi pembeli, standar mutu yang ketat, dokumen ekspor, hingga dinamika fluktuasi harga global.
Namun, jalan ekspor tak pernah sepenuhnya mulus. Ada kalanya pembeli luar negeri menawar harga lebih rendah ketimbang pasaran lokal—sebuah realita keras yang menuntut Kaghomasa untuk bijak memilah. Selain itu, karena Kaghomasa secara konsisten mempertahankan cita rasa specialty coffee, kapasitas produksi mereka alami dan terbatas, tak bisa dipaksakan layaknya industri masal.
“Kami belajar memahami apa yang diminta pasar luar tanpa harus mengorbankan kualitas dan harga diri petani kami,” tutur Mama Lina.
Membentengi Tanah Udayana dari Cengkeraman Modal
Pengakuan dunia terhadap kualitas Kaghomasa membawa dampak ekonomi yang nyata, tetapi juga menghadirkan ancaman baru. Seiring populernya reputasi kopi Bajawa, arus investor berduit tebal mulai memadati kawasan Ngada. Mereka mengincar lahan-lahan subur milik warga untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan korporasi besar.
Di situlah letak nilai humanis dan pilar ekonomi kerakyatan Kaghomasa. Demi menjaga agar tanah udayana tidak beralih kepemilikan dan para petani tidak terdesak menjadi buruh di tanah sendiri, Kaghomasa memilih mengandalkan kebun-kebun milik warga sendiri. Strategi ini bukan sekadar menjaga kepastian pasokan kopi, melainkan bentuk benteng pertahanan adat dan kemandirian ekonomi lokal.
Setiap cangkir kopi Kaghomasa yang diseduh di New York, Los Angeles, atau Jakarta, pada hakikatnya adalah napas kehidupan bagi keluarga-keluarga petani di dataran tinggi Bajawa. Setiap bulir kopi yang dibeli secara adil adalah jaminan bahwa anak-anak petani Ngada dapat terus bersekolah tanpa perlu menjual tanah warisan leluhur mereka.
Mimpi Mama Lina tetap bersahaja: Kaghomasa ingin terus mengepakkan sayap di pasar dunia, namun kakinya tetap menancap kokoh di bumi Bajawa. Dari lereng gunung di Flores hingga meja-meja kopi dunia, Kaghomasa membuktikan bahwa ekonomi yang tumbuh dari rahim kerakyatan dan kearifan lokal tak hanya mampu bersaing, tetapi juga memberi martabat bagi mereka yang merawatnya. ***

















