Stabilitas.id – Kota ini semakin sulit ditebak. Di musim hujan yang berubah-ubah dan udara yang kian berdebu, kita hidup dalam kota yang pelan-pelan memberi tanda bahaya. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa air hujan yang turun di Jakarta kini mengandung partikel mikroplastik. Sebuah fakta yang menyentak: polusi kini datang “dari langit.” Ia tidak lagi hanya mengendap di jalanan atau tersembunyi di sungai, tapi jatuh di atap rumah kita, menelusup diam-diam ke ekosistem perkotaan.
Di tengah kondisi itulah satu pertanyaan mengemuka: bagaimana masyarakat bisa mengambil sikap?
Jawaban itu salah satunya datang dari Langkah Membumi Ecoground 2025, sebuah festival keberlanjutan tahunan yang sudah memasuki tahun keempat. Diselenggarakan oleh Blibli Tiket Action—payung program ESG dari ekosistem Blibli Tiket yang menaungi Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma—festival ini bukan sekadar ajang berkumpul komunitas pencinta gaya hidup hijau. Ia menjadi ruang belajar sosial, tempat kolaborasi, dan laboratorium kecil bagaimana gaya hidup ramah lingkungan bisa dilakukan secara aplikatif dan menyenangkan.
BERITA TERKAIT
Tema tahun ini: “CollaborAction for the Earth.” Satu frasa yang menyodorkan pesan sederhana namun mendesak—bahwa isu lingkungan terlalu besar untuk ditangani sendirian. Harus ada aksi, kolaborasi, dan pengalaman nyata yang membuat publik merasa menjadi bagian dari solusi.
Festival dengan Empat Zona Kehidupan
Langkah Membumi Ecoground 2025 menghadirkan lebih dari 30 kelas olahraga, wellness, hingga workshop keberlanjutan. Pengunjung tidak datang hanya untuk menonton, tapi untuk mengalami. Untuk merasakan sendiri bagaimana hidup sadar lingkungan dimulai dari aktivitas sehari-hari.
Festival ini dibagi ke dalam empat zona utama. Eco Motion: area sport dan aktivitas kebugaran. Eco Market: ruang bertemu produk ramah lingkungan dari UMKM dan brand lokal. Eco Labs: pusat workshop dan edukasi praktis. Eco Stage: panggung diskusi, musik, dan kolaborasi komunitas.
Tahun ini, festival juga dihuni lebih dari 50 mitra lintas sektor—mulai dari korporasi, akademisi, media, hingga komunitas. Salah satu wajah baru yang menarik perhatian adalah microsite resmi Langkah Membumi Ecoground, yang diluncurkan pada konferensi pers di Puja Bumi Kenduri. Di sana, jadwal kegiatan, informasi program, hingga cara berpartisipasi di festival bisa diakses publik.
Namun yang membuat pendekatan festival ini berbeda adalah bagaimana setiap detail dirancang dengan prinsip keberlanjutan. Energi terbarukan digunakan dalam pelaksanaan acara. Pengunjung diminta membawa wadah minum dan alat makan ramah lingkungan. Area daur ulang disiapkan. Merchandise pun dibuat dari material ramah lingkungan.
Bagi penyelenggara, keberlanjutan bukan aksesori slogan. Ia adalah sistem kerja.
Olahraga sebagai Mata Uang Sosial
Salah satu wajah baru Langkah Membumi Ecoground tahun ini terlihat di zona Eco Motion. Festival ini melihat olahraga sebagai medium sosial yang efektif untuk membangkitkan kepedulian lingkungan.
Data Populix mengonfirmasi tren itu—bahwa 94% masyarakat Indonesia berolahraga setidaknya sekali dalam seminggu, dan 18% aktif dalam komunitas olahraga. Olahraga telah menjadi the new social currency.
Blibli Tiket Action memanfaatkan tren tersebut. Bagi mereka, olahraga bukan hanya soal kesehatan fisik. Ia jadi pintu masuk mengajak publik bergerak bersama. Di panggung festival ini, sport adalah bentuk kolaborasi yang merangkul gaya hidup hijau.

Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menegaskan hal itu. “Di tahun keempat ini, kami konsisten menghadirkan Langkah Membumi Ecoground bukan sekadar festival, tetapi sebagai melting pot tempat edukasi dan practical skills bertemu. Yang terpenting, setiap langkah dan aktivitas pengunjung memiliki arti, karena satu kontribusi berarti satu pohon mangrove yang ditanam untuk bumi,” tegasnya dalam siaran pers di Jakarta (6/11/2025).
Pernyataan Lisa merangkum gagasan utama dari festival ini: setiap langkah publik dihitung sebagai kontribusi lingkungan.
Langkah Membumi tahun ini juga menggandeng Cinta Laura sebagai Changemaker Partner. Selama dua tahun berturut-turut, Cinta hadir sebagai representasi gerakan yang dekat dengan anak muda. Ia membawa semangat Act of Love, mengajak publik melihat isu lingkungan dari akar nilai empati.
Gerakan itu ia kampanyekan di tiga universitas: Universitas Multimedia Nusantara, President University, Universitas Indonesia
“Gerakan lingkungan bagi saya selalu berawal dari rasa cinta — cinta pada diri sendiri, sesama, dan bumi tempat kita hidup,” pungkas Cinta Laura.
Ini bukan sekadar slogan motivasional. Generasi muda, terutama di kampus, adalah medan paling penting dalam membangun kesadaran ekologis. Dari kampus pula ide-ide baru tentang keberlanjutan lahir, berkembang, dan menyebar ke komunitas yang lebih luas.

Kolaborasi Seisi Ekosistem
Yang membedakan festival ini dari banyak acara sustainability lainnya adalah keterlibatan ekosistem multi-sektor. Ada dukungan dari Djarum Foundation. Ada keterlibatan sektor teknologi—Samsung Indonesia. Ada media, akademisi, komunitas, dan para mitra korporasi lain. Semua merapat, masing-masing dengan kontribusinya.
“Kolaborasi seperti Langkah Membumi Ecoground sejalan dengan semangat kami yang terejawantahkan dalam gerakan Siap Darling,” kata Communication Director Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara.
Sementara Andi Airin, Head of Marketing & Demand Generation Samsung Indonesia menegaskan komitmen keberlanjutan di industri teknologi. “Kami yakin teknologi dan sustainability dapat berjalan beriringan dan perlu dilakukan bersama.”
Kolaborasi itu divisualkan dengan satu gestur simbolik: perwakilan Blibli, ekosistem Blibli Tiket dan para mitra menorehkan jejak warna di atas kanvas. Menandai komitmen kolektif menjaga bumi.
Kontribusi Kecil, Dampak Nyata
Festival ini dibuka untuk publik hanya dengan Rp50.000. Nilai itu dihitung setara dengan satu bibit mangrove. Artinya, setiap pengunjung secara langsung menyumbang penanaman pohon.
Ada juga pertunjukan musik dari Sal Priadi dan Adrian Khalif. Ada workshop keterampilan. Ada pasar hijau. Ada kelas olahraga. Semua diadakan di Taman Kota PERURI, Jakarta, pada 8–9 November 2025.
Setiap kontribusi peserta dikonversi menjadi aksi nyata penanaman mangrove bersama Jejakin. Selain itu, dampak acara diukur menggunakan standar ISO 14040/44 oleh Life Cycle Indonesia.
Festival ini mencoba menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep. Ia perlu sistem, platform, dan aksi terukur.
Di sinilah pesan terbesar Langkah Membumi Ecoground 2025 bergema. Bahwa perubahan besar datang dari langkah kecil. Bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak harus rumit. Bahwa harapan besar harus dimulai dari tindakan sehari-hari. Dan bahwa bumi tidak hanya perlu diselamatkan. Ia perlu dicintai. ***

















