Stabilitas.id – PT Bank Danamon Indonesia Tbk memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2026 masih akan ditopang oleh stabilitas konsumsi domestik, pelonggaran kebijakan moneter, serta stimulus fiskal yang masif hingga kuartal I/2026. Economist Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan prospek sektor keuangan dan pasar keuangan Indonesia relatif terjaga di tengah ketidakpastian global, terutama setelah pasar mengantisipasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada akhir tahun.
Menurutnya, respon kebijakan moneter dan fiskal pemerintah menjadi faktor utama yang menopang ketahanan pasar. “Pelonggaran suku bunga dan stabilitas sistem keuangan menjadi prasyarat pertumbuhan 2026. Dampaknya mulai terlihat pada likuiditas serta penurunan imbal hasil obligasi,” ujarnya.
Stabilitas Rupiah dan Likuiditas Membaik
BERITA TERKAIT
Bank Indonesia menahan BI-Rate di level 4,75% sejak Oktober 2025 setelah pemangkasan sebesar 125 bps pada tahun ini. Ekspansi likuiditas tercermin dari penurunan INDONIA menjadi 4,00% serta imbal hasil SRBI yang turun ke kisaran 4,85% per pertengahan November.
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun berada di level 4,8% dan tenor 10 tahun di 6,2%. Namun, transmisi kebijakan dinilai belum sempurna. Suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 bps menjadi 4,25% dan bunga kredit hanya turun 20 bps menjadi 9,00% pada Oktober 2025.
Arus modal asing terus menguat dan IHSG juga mencatatkan tren pemulihan. Meski demikian, rupiah masih melemah terhadap USD dengan depresiasi 3,66% sejak awal November, dengan proyeksi USD/IDR berada di kisaran 16.500–16.700.
Proyeksi 2026: Konsumsi dan Stimulus Masih Menjadi Penopang
Sejumlah indikator makro menunjukkan konsumsi domestik tetap solid. Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 121,2 (+0,08% YoY), sementara defisit fiskal meningkat menjadi Rp479,7 triliun atau 2,02% dari PDB.
Pada saat yang sama, pemerintah tetap mempertahankan kebijakan fiskal ekspansif melalui paket stimulus sebesar Rp54,6 triliun pada kuartal IV/2025. Dana fiskal juga dipindahkan ke perbankan komersial sebesar Rp276 triliun untuk mendukung pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 2,14% dan mempercepat penyaluran kredit.
Sektor Kunci dan Peluang 2026
Danamon melihat beberapa sektor memiliki ketahanan kuat, terutama transportasi, F&B, logistik, pariwisata, serta ICT. Stimulus Kredit Likuiditas Makro (KLM) dan kebijakan Bank Indonesia diperkirakan mempercepat penyaluran kredit modal kerja. Sektor properti berpotensi pulih seiring penurunan suku bunga KPR.
Di industri otomotif, penjualan sepeda motor diperkirakan mencapai 6,5 juta unit sepanjang 2025, sementara penjualan mobil diproyeksikan bergerak ke 785 ribu unit didorong kenaikan kendaraan listrik (BEV) jelang berakhirnya insentif Desember 2025.
Sementara itu, program Koperasi Merah Putih mencatat alokasi terbesar di Jawa Tengah sebesar Rp25,7 triliun dengan 8.563 koperasi penerima. Pada 2026, belanja pemerintah diproyeksikan Rp3.800 triliun sementara transfer ke daerah turun menjadi Rp693 triliun.
Risiko Global Tetap Mengintai
Hosianna menjelaskan bahwa pergerakan pasar global masih berpotensi mempengaruhi sentimen domestik, termasuk kebijakan The Fed, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan dinamika harga komoditas. Meski demikian, Indonesia masih menawarkan suku bunga riil positif dan ketahanan permintaan domestik.
Pertumbuhan di kawasan ASEAN juga diperkirakan tetap kuat, dipimpin Vietnam (7,5%) dan Filipina (5,3%). “ASEAN masih menjadi salah satu kawasan paling resilien, dan Indonesia berada di antara yang paling stabil secara makro,” kata Hosianna. ***





.jpg)










