• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, September 17, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Market

Formula Baru Price-Impact Ratio Rilis, 37 Saham Masuk Daftar HSC BEI

oleh Stella Gracia
16 Juli 2026 - 09:28
21
Dilihat
Hari Ini BEI Mulai Pencatatan Obligasi Tiga Emiten
0
Bagikan
21
Dilihat

BEI menegaskan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) diharamkan masuk indeks utama seperti LQ45 dan IDX30. Simak kriteria baru price-impact ratio.

Stabilitas.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas demi menjaga kredibilitas produk indeksnya. Otoritas bursa menegaskan bahwa saham-saham yang masuk dalam kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi alias High Shareholding Concentration (HSC) diharamkan menjadi konstituen indeks utama, seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.

  • Baca juga: Langkah Taktis di Ujung Tenggat: BRI Eksekusi Buyback Rp90,7 Triliun demi Bantalan Internal

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut berlaku mutlak bagi seluruh saham yang terdeteksi memenuhi kriteria HSC, termasuk emiten-emiten baru yang terjaring lewat metodologi teranyar bursa, yaitu indikator price-impact ratio.

“Seluruh saham dalam kategori high shareholding concentration tidak akan kami masukkan dalam indeks utama di bursa seperti LQ45, IDX30, dan indeks utama lainnya,” tegas Jeffrey dalam konferensi pers, Senin (14/7/2026).

BERITA TERKAIT

Langkah Taktis di Ujung Tenggat: BRI Eksekusi Buyback Rp90,7 Triliun demi Bantalan Internal

Ujian Likuiditas Akhir Tahun, BRI Tuntaskan Seri C Sebelum Hadapi Obligasi Jumbo Rp2,35 Triliun

Kembalinya Short Selling: Karpet Merah yang Memantik Alarm Kewaspadaan

Nakhoda Baru di Tubuh SMF: Manuver Purbaya Susun Ulang Barisan Direksi

Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi saham baru yang ingin masuk (screening awal), melainkan juga berlaku sebagai sanksi didepak bagi saham yang saat ini sudah telanjur parkir di dalam indeks utama.

BEI akan melakukan pembersihan konstituen secara berkala sesuai dengan jadwal evaluasi berkala dari masing-masing indeks.

  • Jadwal Evaluasi Terdekat: Proses evaluasi untuk indeks utama seperti LQ45 dijadwalkan pada akhir Juli 2026 dan mulai efektif berlaku pada awal Agustus 2026.

  • Periode Pembaruan: BEI sengaja merilis daftar saham HSC ini lebih awal agar dapat langsung dijadikan instrumen penyaring (filter) dalam evaluasi indeks bulan ini, serta akan diperbarui rutin setiap tiga bulan sekali.

    • Baca juga: Ujian Likuiditas Akhir Tahun, BRI Tuntaskan Seri C Sebelum Hadapi Obligasi Jumbo Rp2,35 Triliun

Status HSC Tidak Permanen

Meski memberikan pembatasan ketat, Jeffrey menjelaskan bahwa status HSC yang disematkan pada emiten tidak bersifat abadi. BEI memberikan ruang bagi manajemen perusahaan tercatat untuk memperbaiki struktur kepemilikan saham mereka di publik (free float).

Apabila emiten telah melakukan distribusi saham ke publik secara lebih merata dan sehat, mereka dipersilakan mengajukan peninjauan kembali kepada otoritas bursa.

Jika dalam proses screening ulang terbukti bahwa indikasi konsentrasi tinggi tersebut telah hilang, BEI akan mengumumkan pencabutan status HSC emiten tersebut ke publik. Dengan begitu, saham tersebut kembali memiliki hak dan peluang untuk bersaing masuk ke dalam jajaran indeks elit bursa.

Efek Formula Baru

Langkah pengetatan ini menyusul keputusan BEI yang merevisi metodologi penilaian HSC. Dengan menambahkan indikator price-impact ratio, pergerakan harga saham yang tidak wajar akibat tebal-tipisnya likuiditas dan dominasi pemegang saham tertentu menjadi lebih mudah terdeteksi.

Imbas dari perubahan formula ini, radar BEI langsung menangkap 37 saham baru yang memenuhi kriteria tidak sehat tersebut.

  • Baca juga: Kembalinya Short Selling: Karpet Merah yang Memantik Alarm Kewaspadaan

Dengan tambahan tersebut, total jajaran saham yang masuk dalam pengawasan kategori HSC membengkak dari yang semula hanya belasan, kini menjadi 51 saham. ***

Tags: BEIBursa Efek Indonesiaevaluasi indeksHigh Shareholding ConcentrationHSCIDX30IDX80Jeffrey HendrikLQ45price-impact ratio
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Pastikan Efisiensi Anggaran MBG 2026, Kopdes Wajib Lolos Audit BPKP

Selanjutnya

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Langkah Taktis di Ujung Tenggat: BRI Eksekusi Buyback Rp90,7 Triliun demi Bantalan Internal

oleh Sandy Romualdus
16 September 2026 - 15:04

BRI (BBRI) menuntaskan aksi buyback 31 juta lembar saham senilai Rp90,73 miliar pada batas akhir periode (11 September 2026). Saham...

Terdampak Sebaran Abu Vulkanik, TransNusa Siapkan Solusi bagi Penumpang di CGK dan TKG

Ujian Likuiditas Akhir Tahun, BRI Tuntaskan Seri C Sebelum Hadapi Obligasi Jumbo Rp2,35 Triliun

oleh Sandy Romualdus
16 September 2026 - 14:49

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyiagakan dana Rp507,87 miliar pada instrumen aset likuid berkualitas tinggi (HQLA) untuk melunasi Obligasi...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

IHSG Menanti Arah Suku Bunga dan Dinamika Kabinet Fiskal; Cermati Saham Big-Cap dan Peluang Swing Trade di Area Support 6.480

oleh Sandy Romualdus
16 September 2026 - 07:00

Analisis lengkap pasar keuangan 16 September 2026 prapembukaan: IHSG uji support 6.480, Rupiah stabil di Rp 17.590/USD, minyak Brent tembus...

BEI Siapkan Penyempurnaan Mekanisme FCA, Batas Auto Rejection Diperluas Jadi 4 Kelompok

Kembalinya Short Selling: Karpet Merah yang Memantik Alarm Kewaspadaan

oleh Stella Gracia
15 September 2026 - 22:08

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi kembali memberlakukan transaksi short selling mulai 15 September 2026. Analis mengingatkan potensi sentimen negatif pasar...

Era Baru Tata Kelola di Bursa

IHSG Fluktuatif: Pasar Cermati Reshuffle Menkeu, Aturan Short Selling, dan Gejolak Minyak Global

oleh Sandy Romualdus
15 September 2026 - 11:36

 IHSG menguji support 6.485 jelang penutupan Sesi I. Simak analisis Rupiah, minyak Brent US$ 106/bbl, serta strategi saham MEDC, BMRI,...

Kinerja SMF Semester I-2026: Laba Rp 391 Miliar, Pembiayaan Tembus Rp 14,09 Triliun, NPL Tetap 0%

Nakhoda Baru di Tubuh SMF: Manuver Purbaya Susun Ulang Barisan Direksi

oleh Stella Gracia
14 September 2026 - 14:47

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merombak susunan direksi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dengan mengangkat Budi Susanto sebagai Direktur Utama...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Desak Bank KBMI 1 Konsolidasi, Buka Opsi Merger Demi Penuhi Free Float 15%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Bidik Rantai Ekonomi Umrah, Bank BSN Eksplorasi Ekosistem Digital Bersama JARDY Travel

Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

Agresivitas BNI Amankan Likuiditas: Deposito Meledak 63%, Laba Bersih Tembus Rp14,3 Triliun

Laju Terukur BCA: Tembus Laba Rp40 Triliun di Tengah Limpahan Dana Murah

Langkah Taktis di Ujung Tenggat: BRI Eksekusi Buyback Rp90,7 Triliun demi Bantalan Internal

Bom Waktu Rp240 Triliun: LPEM UI Peringatkan Ancaman Kopdes Merah Putih bagi APBN

Ujian Likuiditas Akhir Tahun, BRI Tuntaskan Seri C Sebelum Hadapi Obligasi Jumbo Rp2,35 Triliun

Anomali Utang Luar Negeri: Saat Korporasi Menahan Diri, Asing Justru Guyur SBN Internasional

Geliat Gen Z Menabung Haji: Tambang Dana Murah Triliunan Rupiah bagi BSI

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance