Oleh Romualdus San Udika
Saat regulasi ketat industri asuransi dan peluang pertumbuhan sektor syariah, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) atau BBTN mempersiapkan langkah ambisius untuk memperkuat ekosistem bisnisnya. Rencana akuisisi perusahaan asuransi umum dan pendirian anak usaha multifinance pada semester II 2026 bukan hanya diversifikasi, tapi strategi jangka panjang untuk mengintegrasikan mortgage insurance, meringankan beban KPR nasabah, dan mendiversifikasi pendapatan di luar bunga kredit. Ditambah momentum spin-off BTN Syariah menjadi Bank Syariah Nasional (BSN), ini diharapkan jadi katalis utama bagi performa saham BBTN, dengan analis memproyeksikan upside hingga 30% dalam 12 bulan ke depan.
Langkah ini datang saat industri keuangan Indonesia menghadapi dinamika baru: regulasi modal minimum asuransi yang naik bertahap hingga Rp1 triliun pada 2028, serta pertumbuhan perbankan syariah yang mencapai 10-15% tahunan. “Ini bukan sekadar ekspansi, tapi transformasi BTN dari bank KPR spesialis menjadi pemain ekosistem terintegrasi,” kata analis senior dari BRI Danareksa Sekuritas, Naura Reyhan Muchlis, dalam laporan terbaru. Dengan aset mencapai Rp503,99 triliun per November 2025 (naik 12,16% YoY), BTN punya fondasi kuat untuk mengeksekusi rencana ini.
BERITA TERKAIT
Rencana Ekspansi
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan rencana ini berawal dari kebutuhan mortgage insurance terintegrasi. Saat ini, nasabah KPR BTN bergantung pada asuransi jiwa dan kebendaan dari pihak ketiga, yang sering membuat premi mahal dan menambah cicilan. “Karena kalau preminya mahal kan kasihan KPR-nya. Itu aja sih,” ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR RI akhir Januari 2026. Rencana ini sudah termaktub dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026, dengan proses pengajuan izin ke Otoritas Jasa Keuangan (Danantara) sedang berjalan.
Detailnya, akuisisi perusahaan asuransi umum dengan modal awal Rp250 miliar, target semester II 2026. Pendirian anak usaha multifinance—termasuk syariah—memerlukan investasi Rp3-5 triliun, juga semester II 2026. Total aksi korporasi mencapai Rp6 triliun lebih, termasuk penguatan modal inti Rp2 triliun dan penerbitan obligasi/wholesale funding Rp4 triliun. “Ini selaras dengan strategi BUMN untuk konsolidasi asuransi jadi tiga pilar: life, general, dan credit insurance,” tambah Nixon.
Nixon menjelaskan, rencana akuisisi asuransi bertujuan untuk menyediakan paket premi lebih murah, mengintegrasikan asuransi hipotek dengan KPR. Prosesnya sudah masuk RBB, tapi masih menunggu presentasi ke Danantara. “Kita baru masukin RBB, tapi belum presentasi, lagi minta waktu Danantara,” kata Nixon.
Untuk multifinance, fokus pada pembiayaan syariah untuk ekspansi segmen non-bankable. “Perseroan juga berencana mendirikan anak usaha di sektor multifinance dengan nilai investasi sekitar Rp3-5 triliun,” ujar Nixon dalam RDP. Ini bagian dari inisiatif BTN di 2026 untuk penguatan permodalan asuransi dan pembentukan anak usaha baru.
Nixon menegaskan, pelaksanaan akuisisi ditargetkan tahun ini sesuai RBB. “Kita memang masih ngusulin ke pemerintah dalam hal ini Danantara, untuk kita boleh mengakuisisi satu perusahaan yang asuransi terutama,” kata Nixon. Rencana ini mencakup penguatan capital di perusahaan asuransi dan pendirian multifinance syariah.
Ekspansi ini diharapkan terealisasi semester II, dengan total dana hingga Rp11 triliun untuk aksi korporasi. “Ini adalah seluruh inisiatif BTN di tahun 2026 ini,” ujar Nixon. Langkah ini selaras dengan target laba bersih naik 20-22% di 2026.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melalui Direktur Eksekutif Cipto Hartono menilai rencana BTN “strategis dan wajar” menghadapi regulasi modal minimum: Rp250 miliar akhir 2026, naik jadi Rp500 miliar–Rp1 triliun pada 2028. Banyak perusahaan kecil kesulitan, sehingga akuisisi jadi jalan keluar. “Ini bisa bantu market creation, tingkatkan demand asuransi yang masih rendah di Indonesia,” kata Cipto.
Cipto menambahkan, ekspansi ini mirip strategi bank besar seperti BRI dan Mandiri, yang sudah punya anak usaha serupa dan mencatat laba stabil meski ekonomi volatile. Memang, risikonya adalah integrasi operasional dan biaya jangka pendek, tapi dengan track record BTN—laba bersih Rp2,91 triliun hingga November 2025 (naik 21,10% YoY)—fondasi solid. “Langkah ini dianggap strategis menghadapi regulasi modal,” tambah Cipto.
Keuntungan Berlapis
Koordinator Indonesia Financial Watch Abraham Runga Mali menilai, jika terealisasi, akuisisi asuransi oleh BTN akan berikan keuntungan berlapis. Dimulai dari premi internal lebih murah (turun 10-15%), cicilan KPR ringan, volume penyaluran naik. “Proteksi risiko kredit kuat, dimana BTN sebagai pemegang polis utama kurangi default. Maka pendapatan fee-based baru dari premi, potensi miliaran rupiah dengan portofolio KPR Rp386,47 triliun (naik 8,74% YoY),” ungkap Abraham.
Di sisi lain akan terjadi cross-selling, dimana paket asuransi jiwa, kebendaan, dan mortgage dalam satu pintu. Ini tentnya meningkatkan loyalitas.
Untuk multifinance, prosepknya adalah ekspansi non-bankable. Meliputi pembiayaan mobil, renovasi, elektronik. “Ini mengurangi ketergantungan pada KPR.” Diversifikasinya adalah fee-based income naik, target regulator tercapai. Sinergi KPR memberikan kesempatan bagi nasabah untuk lebih mudah mengakses pembiayaan tambahan.
Secara keseluruhan, dengan memilki BSN di lini syariah, BTN berubah jadi “financial ecosystem player” lengkap. Seperti kata Nixon dalam BTN Expo 2026: Ekspansi beyond mortgage ke gaya hidup dan bisnis terintegrasi.
bicar BSN tentu jadi pilar krusial. Jelang spin-off jadi BSN sebelum akhir 2025 lalu saja, performa impresif BSN ditunjukkan degan laba bersih Q3 2025 sebesar Rp592 miliar (naik 8,4% YoY), pembiayaan Rp51,10 triliun (naik 19,7% YoY), DPK Rp56,90 triliun (naik 19,3% YoY), aset Rp68,36 triliun. Per Agustus 2025, pembiayaan Rp50,1 triliun (naik 18,2% YoY), melebihi industri.
Pasca-spin-off, BSN punya modal Rp6,5 triliun, aset Rp70 triliun, ekspansi digital, dan potensi IPO 2-3 tahun ke depan. “Dalam 2-3 tahun, BSN bisa jadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia,” kata Nixon dalam sebuah kesempatan. Sudah barang tentu, BSN ke depan menopang grup BTN, dengan menangkap nasabah milenial syariah, dan sinergi multifinance syariah.
Ekspansi ini jadi katalis saham BBTN. Harga terkini Rp1.220 per lembar (turun 0,81% dari Rp1.230), dengan volume 49,15 juta lembar. Target laba 2026 naik 20-22% YoY, kredit 10-11%, NIM naik 4 basis poin, NPL <3%, COC 1-1,2%. ROE diproyeksikan 14-15% dari 12,5%.
Rekomendasi analis BRI Danareksa: Buy, dengan target Rp1.300 (upside 6,5%). Sementara Bareksa: Rp1.500 (upside 23%). Rata-rata target menyiratkan 20-30% upside dalam 6-12 bulan. “Proyeksi pertumbuhan kredit 10-12% pada 2026, pertumbuhan DPK,” kata analis IndoPremier. BBTN undervalued dengan PBV 0,7x vs peer 0,8-1x.
“Pertahankan rekomendasi beli BBTN dengan target Rp 1.300 didukung prospek KUR perumahan 2026, NIM naik, dan kinerja kredit solid,” ujar BRI Danareksa. “BTN (BBTN) naik 9,8% mendekati target 10-11%,” tambah BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya.
Kendati demikian, Rencana ini bisa jadi game changer, ubah BTN jadi ekosistem beyond properti. Sukses bergantung eksekusi, tapi dengan dukungan industri dan proyeksi positif, investor optimis. “Penerbitan wholesale funding Rp4 triliun bisa tekan margin jika mahal,” ingat analis BRI Danareksa Sekuritas.
Dengan GDP proyeksi 5-6%, BTN siap hadapi persaingan. Risiko global tetap ada, tapi fondasi solid. ***





.jpg)










