Jakarta – Kendati kehadiran BPJS Kesehatan sempat membuat kinerja industri farmasi menurun di masa transisi (2013), ke depan Iswanto, Dirut Phapros, meyakini pasar farmasi akan berkembang di tanah air. Pasalnya kehadiran BPJS yang melayani seluruh masyarakat akan mendorong kebutuhan pengobatan dan obat.
Selain itu, menjelas pasar terbuka Asean di 2015, juga menjadi potensi industri farmasi untuk perluas pasar ekspor. "Pasar farmasi Asean sudah mulai terbuka, kita mesti siapkan fondasi untuk mampu berkompetisi," ujar Iswanto, Direktur Utama Phapros di Jakarta, Rabu (11/6).
Untuk itu, phapros akan me-launcing produk baru Antimo, sejumlah 5 miliar tablet. Menurut dia, produk ini sudah dikenal masyarakat sehingga diharapkan bisa menyerap lebih banyak kebutuhan kesehatan masyarakat.
BERITA TERKAIT
Dia menguraikan, pasar ndustri farmasi di Indonesia saat ini mencapai Rp 53 triliun rupiah dengan pertumbuan sebesar 12,93%. Secara umum, produsen lokal masih menguasai, namun lagi-lagi ada ketimpangan karena impor bahan baku. “Impor bahan baku farmasi masih sekitar 90 persen. Sementara jual dalam rupiah. Ini dilemma. Jadi mungkin pemerintah perlu dorong agar ada pabrik bahan baku farmasi di dalam negeri. Tetapi pemerintah harus berikan insentif fisak untuk investor yang berniat membuka pabarik bahan baku tersebut,” harap dia.
Di sisi lain, alokasi biaya kesehatan di Indonesia masih 2% terhadap PDB. Dari persentase tersebut, sumbangan industri farmasi sekitar 30%. Menurut Iswanto, dengan potensi pertumbuhan ekonomi lebih baik, income per kapita tinggi, alokasi dana kesehatan bisa tumbuh lebih besar. Saat ini, Indonesia masih kalah dari negara-negara di Asean. "Singapura 4,3%, Malaisya 3,5%, kita masih 2,5% terhadap PDB. Kita harapkan bisa tumbuh jadi 4% ke depa," kata dia.
Dengan rata-rata pertumbuhan pasar farmasi 10% per tahun, Iswanto pesimis dengan pasar farmasi di 2020 yang hanya mencapai Rp100 triliun. Padahal, kata dia, kalau mengggunakan asumsi alokasi dana kesehatan 4% ke PDB, dengan pertumbuhan ekonomi 7%, pasar farmasi bisa mencapai Rp400 triliun dalam beberapa tahun ke depan.





.jpg)










