• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Jalan Pintas Yang Inklusif

by Sandy Romualdus
4 Februari 2014 - 00:00
6
VIEWS
Jalan Pintas Yang Inklusif
0
SHARES
6
VIEWS

Seringkali sebuah masalah yang rumit yang nyaris dirasa tak ada rumus penyelesaian, solusinya justru ada di depan mata dan murah. Beberapa bukti yang ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya The Outliers, menunjukkan hal itu. Dan jika rendahnya jumlah masyarakat yang menggunakan jasa keuangan menjadi sebuah masalah maka sejatinya solusinya pun ada di depan mata.

Berdasarkan data dari survei yang dilakukannya, Otoritas Jasa Keuangan cukup gelisah melihat rendahnya jumlah penduduk Indonesia yang sudah pernah berhubungan dengan bank atau lembaga keuangan formal lainnya. Oleh karena itu, OJK yang baru setahun terbentuk, tak henti-hentinya melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih mengenal lembaga keuangan sehingga memahami manfaatnya dan akhirnya menggunakannya untuk memudahkan kehidupannya.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Akan tetapi di saat OJK dan lembaga keuangan bersusah payah merangkul masyarakat agar mau mendekat, orang-orang di sektor teknologi informasi begitu mudah melakukannya. Dengan makin banyaknya penduduk yang memegang alat komunikasi telepon genggam, makin mudah pula orang-orang di sektor telekomunikasi mengantarkan mereka ke lembaga keuangan.

BERITA TERKAIT

Aset Dapen Terpusat di Jakarta, BPA Brokers Bidik Pendampingan Korporasi di Sentra Ekonomi Daerah

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

IMF Peringatkan Beban Utang Tinggi dan Defisit Fiskal Batasi Ruang Gerak Ekonomi Global

Literasi Asuransi di Angka 42,84 Persen, DAI Perkuat Edukasi UMKM di 7 Kota

Berdasarkan data dari tiga operator besar di Tanah Air, jika jumlah pelanggannya digabung maka akan ada sekitar 230 juta orang yang memiliki nomor telepon selular. Bisa dibilang hampir seluruh masyarakat Indonesia telah memilki ponsel. Di sisi lain, dari jumlah penduduk yang mencapai 240 juta, yang memiliki rekening di bank hanya 60 juta orang. Sementara sebanyak 120 juta orang terhitung layak untuk punya rekening tapi tidak punya rekening.

Dengan logika yang sangat sederhana saja, dari fakta tersebut, jelas lebih mudah merangkul masyarakat untuk menggunakan jasa keuangan lewat ponsel ketimbang harus bersusah payah mengenalkan mereka lewat sosialisasi. Dan langkah itu makin terasa mudah ketika penyedia jasa telekomunikasi memunculkan layanan pengiriman uang lewat jalur elektronik (e-money) yang sudah diimplementasikan sejak 2008. Sebut saja layanan T-Cash bagi pelanggan pelanggan Telkomsel, XL Tunai dari XL, maupun Dompetku oleh Indosat.

Dengan ketiga jenis teknologi e-money yang ditawarkan operator tersebut, pelanggan operator telekomunikasi bahkan di tempat terpencil sekalipun bisa menikmati layanan transaksi keuangan meski tidak ada kantor bank, asalkan ada sinyal. Mereka yang biasanya harus menempuh jalan ke kota puluhan kilometer untuk mengetahui informasi perbankan seperti transfer uang ke kantor bank atau kantor Pos, kini cukup menggunakan ponsel mereka. “Saudara-saudara kita di pedesaan melihat kantor bank apalagi pintunya tertutup, sudah grogi. Melihat pegawai bank, sudah buyar konsentrasinya. Tapi dengan pedagang pulsa, mereka lebih akrab,” tutur Mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution.

Bank Indonesia tahu persis bahwa ponsel bisa menjadi solusi jitu dan murah agar lembaga keuangan lebih inklusif. Karena itulah, pada tahun lalu, untuk meningkatkan penetrasi e-money, BI memprakarsai bersatunya layanan Telkomsel, XL dan Indosat dalam layanan pengiriman uang elektronik lintas operator. Tujuannya jelas, seluruh pelanggan tiga operator yang berjumlah sekitar 230 juta pelanggan, dapat melakukan transaksi pengiriman uang. Contohnya pelanggan TCASH (Telkomsel) dapat melakukan transaksi transfer ke pelanggan XL Tunai (XL) maupun ke pelanggan Dompetku (Indosat), begitupun sebaliknya.

Interkoneksi layanan transfer antar operator seluler, lanjut Darmin, bertujuan untuk efisiensi industri sistem pembayaran dan diharapkan dapat mendorong percepatan adopsi uang elektronik secara massal. Selain itu, interkoneksi juga akan memberikan lebih banyak kemudahan bagi nasabah untuk melakukan transfer dana ke perusahaan atau institusi lain.

Dengan cara tersebut, petani tak perlu bertransaksi secara tunai. Jika membutuhkan uang tunai, petani bisa menemui agen-agen bank atau agen perusahaan telekomunikasi untuk menarik uangnya. Nantinya, pengguna yang memakai layanan e-money di ponsel bisa melakukan transfer uang dan pembayaran tagihan listrik, telepon, hingga pembayaran tiket transportasi. “Nantinya, mau beli kambing, petani bisa bayar pakai SMS,” ucap Darmin.

Saat ini operator telekomunikasi sudah mulai menerapkan hal itu. Misalnya layanan XL, saat ini telah menggandeng korporasi besar seperti PLN, Garuda Indonesia, Lion Air, dan First Media. Pelanggan XL Tunai di daerah kini sudah bisa melakukan pembayaran tagihan empat perusahaan itu dengan e-money.

Bahkan, XL tunai telah menambah tiga fitur baru, yakni cash in (menerima deposit dana secara tunai) melalui mesin ATM, transfer antar bank ke seluruh rekening bank, serta pembayaran online. Sehingga XL Tunai kini memiliki tujuh fitur dan akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Tujuh fitur itu adalah cash in, cash out (menarik dana secara cash maupun transfer rekening antar bank), isi ulang pulsa, pembayaran untuk belanja online, pembayaran tagihan secara online, pembayaran di toko dan pengiriman uang domestik.

XL juga memperluas kerjasama dengan berbagai merchant, termasuk menggandeng Bank Internasional Indonesia (BII). Merchant baru yang bergabung antara lain layanan e-commerme Blbli.com dan jaringan minimarket Alfamart. ‘’Di 6.000 gerai Alfamart pelanggan bisa melakukan cash in, cash out dan belanja menggunakan layanan XL Tunai,’’ ujar Chief Commercial Officer XL, Nicanor P Santiago.

Demikian juga dengan Telkomsel. Anak usaha PT Telkom ini mengklaim, layanan T-Cash tumbuh kurang lebih 40 persen per tahun. Di tahun 2012, pelanggan T-Cash mencapai 11,5 juta, dibandingkan tahun awal 2011 hanya 8 juta pelanggan. Di 2013 lalu, Telkomsel mematok target pelanggan T-Cash menjadi 20 juta.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Tren positif ini diprediksi akan terus naik seiring perubahan cara bertransaksi di kalangan pelanggan seluler. Jika masyarakat sudah familiar, layanan T-Cash akan membantu transaksi microfinance yang menjadi solusi untuk daerah terpencil. Menunjang hal tersebut, Telkomsel turut serta dalam program USO (universal service obligation), yakni investasi jaringan dan Internet di daerah terpencil. Sepanjang tahun 2009-2010, operator yang bergerak di bawah Kementerian BUMN itu telah menambah jaringan di 24 ribu desa terpencil melalui program USO serta program Internet masuk desa di 880 desa.

Berbeda dengan dua produk di atas, layanan Dompetku dari Indosat baru resmi beroperasi secara penuh pada Juli 2013. Selain bisa digunakan untuk berbelanja di sejumlah jaringan minimarket dan operator billing untuk pembelian di toko aplikasi, Dompetku kini telah berkembang lebih jauh bekerja sama dengan Bank QNB Kesawan. Kerja sama ini merupakan perluasan kerja sama Ooredoo Group (sebagai induk Indosat) dan QNB (sebagai induk QNB Kesawan) yang sama-sama berbasis di Qatar, di mana akun Dompetku (dan nomor Indosat) akan dikaitkan dengan kartu debit sehingga pengguna Dompetku bisa melakukan tarik tunai di ATM tanpa perlu memiliki akun tabungan.

Presiden Direktur & CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan, dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa dan penetrasi telepon seluler yang melebihi 100 persen, tapi penetrasi perbankan hanya mencapai angka 40 persen, Indonesia adalah satu di antara negara paling atraktif untuk segi keuangan secara mobile. Dompetku saat ini telah menghasilkan 800.000 basis pelanggan dan membentuk kerja sama dengan 5.000 mitra.

Tantangan Industri

Meski bisa menjadi solusi buat program inklusi keuangan, bukan berarti tidak ada masalah pada jalur ini. Bukti nyatanya bisa dilihat dari masih tertatih-tatihnya penetrasi layanan e-money. Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) mencatat pengguna e-money untuk ponsel di Indonesia masih di kisaran 12 juta pengguna. Bahkan dari 12 juta pengguna e-money lewat ponsel, yang aktif hanya 6 persen, jauh dari penetrasi ponsel sendiri yang sudah mencapai 120 persen.

Kendala utamanya adalah literasi atau pengetahuan masyarakat yang minim mengenai industri keuangan itu sendiri. Sehingga ketika, operator telco masuk ke area masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah, jasa keuangan yang ditawarkan sulit diterima.

“Tantangan terbesar adalah mengubah perilaku pengguna yang terbiasa menggunakan uang tunai menjadi uang elektronik. Ada faktor kepercayaan, ada faktor ketidak tahuan, adapula faktor merasa belum perlu untuk saat ini,” kata Yessie D Yosetya, VP Digital Service Delivery XL Axiata.

Menghadapi tantangan rendahnya adopsi, menurut dia diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya konsisten melakukan komunikasi, mencoba cara-cara baru untuk memperkenalkan uang elektronik dan menumbuhkan perilaku berulang untuk menggunakan layanan uang elektronik.

Tantangan lainnya adalah peraturan mengenai Know Your Customer (KYC) di mana saat ini registrasi hanya bisa dilakukan dengan tatap muka dan tanda tangan basah, dan tidak bisa dilakukan oleh pihak ketiga. “Dangan mempertimbangkan kecanggihan teknologi, kita bisa menggunakan alternatif solusi, seperti registrasi menggunakan handphone,” kata Yessie.

Menurut Yessie, sejatinya regulasi e-money bisa diperlunak tanpa mengorbankan manajemen risiko. Contoh aturan registrasi yang disebutkan di atas, bisa ditambah ketentuan dengan memperbolehkan pengguna mengirimkan uang elektronik tanpa registrasi tapi hanya bisa 2 kali sehari, misalnya. Apabila pengguna mempunyai kebutuhan lebih dari 2 kali mengirimkan uang, baru diperlukan registrasi. Hal-hal seperti itu, lanjut Yessie, lebih mempermudah adopsi masyarakat terhadap layanan finansial.

Sementara itu Ketua ATSI, Alex J Sinaga mengatakan, minimnya transaksi e-money di wilayah operator telekomunikasi lebih disebabkan karena ekosistem e-money di ponsel belum terbentuk. Sejauh ini layanan e-money masih terbatas hanya di antara operator seluler.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Maka dari itu, Alex memprediksi layanan e-money di ponsel ini akan semakin berkembang ke depan jika dilakukan secara bersama dalam sebuah ekosistem, yang tidak hanya teridiri dari lintas operator, tetapi juga melibatkan lebih banyak pelaku industri perbankan. Hal ini sama saja saat operator mengembangkan layanan pesan singkat sesama operator pada waktu dulu. “Tapi saat layanan SMS bisa dilakukan lintas operator, maka bisnis SMS semakin berkembang. Ini (e-money) akan sama saja dengan layanan SMS,” jelas dia optimis.

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah instrumen e-money mencapai 21,87 juta dengan volume transaksi sebanyak 100 juta per tahun pada akhir 2012. Sementara itu, untuk nominal transaksi tercatat tumbuh dua kali lipat dari Rp 981,29 miliar selama tahun 2011 menjadi Rp 1,97 triliun selama tahun 2012. Sedangkan untuk posisi akhir Januari 2013, tercatat instrumen e-money sudah bertambah menjadi sebanyak 22.246.347 dengan volume transaksi 9.984.560 bernilai Rp 219,71 miliar selama Januari 2013.

 
 
 
 
 
Previous Post

Langkah Pasti Industri Asuransi

Next Post

Regulasi Harusnya BIsa Diperlunak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Aset Dapen Terpusat di Jakarta, BPA Brokers Bidik Pendampingan Korporasi di Sentra Ekonomi Daerah

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

IMF Peringatkan Beban Utang Tinggi dan Defisit Fiskal Batasi Ruang Gerak Ekonomi Global

Literasi Asuransi di Angka 42,84 Persen, DAI Perkuat Edukasi UMKM di 7 Kota

Tembus Buyer Belanda di ISEF 2026, UMKM Binaan BI Jakarta Raup Potensi Ekspor Rp4,4 Miliar

Suku Bunga Bertahan Tinggi, Citi Soroti Ketatnya Perebutan Modal Pemerintah dan Swasta

Pengguna Aktif Tumbuh 75 Persen, Tokocrypto Perkuat Kepatuhan dan Perlindungan Konsumen

Dorong Ekonomi Komunitas Lewat Strategi 3S, Kopdit Pintu Air Perkuat Jaringan di Jawa Barat

Dukung Transformasi Kota Global, Bank Jakarta Biayai Elektrifikasi Transjakarta dan Pedestrian Deck MRT Dukuh Atas

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Euforia Uang Digital

Bitcoin, Uang Digital Kontroversial

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance