JAKARTA, Stabilitas — Pemerintah sebagai pemegang saham terbesar PT Bank Mandiri Tbk menunjuk Kartika Wirjoatmodjo sebagai Direktur Utama yang baru menggantikan Budi Gunadi Sadikin. Penunjukan tersebut dikukuhkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Mandiri, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/3) sore.
Pria yang akrab dipanggil Tiko itu sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri sejak tahun lalu. “Terimakasih kepada Pak Budi (Dirut) dan Pak Sentot (Direktur), saya rasa ini tantangan dan amanah yang besar kepada seluruh stakeholder dan mohon dukungan dari rekan-rekan media agar perjalanan Bank Mandiri lebih baik lagi,” ujar Tiko saat jumpa pers.
Kartika mengatakan akan membawa bank tersebut ke kancah internasional. Saat ini, dia berupaya mendapatkan lisense dari bank sentral Malaysia dan Singapura untuk menambah cabang baru di dua negara jiran tersebut. “Itu dua strategi yamg bisa kami jalankan secara pararel,” katanya.
Dia optimistis kedua rencana tersebut bisa berjalan. Dari struktur permodalan misalnya, saat ini modal Bank Mandiri sebesar Rp 120 triliun. Dengan revaluasi aset, Iko yakin akan ada tambahan Rp 27 triliun. Maka permodalan Bank Mandiri bisa mencapai Rp 138 triliun hingga Rp 140 triliun atau setara US$ 10 miliar. Dengan begitu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Mandiri bisa mencapai 20 persen.
Tiko lahir pada 18 Juli 1973 di Surabaya. Ia merupakan jebolan Universitas Indonesia (UI) jurusan Ekonomi dan Akuntansi pada 1996 dan Rotterdam School of Management pada 2001. Ia memulai karier sebagai Konsultan Pajak dan Akuntan di RSM AAJ pada 1995-1996. Tiko kemudian bekerja sebagai Analis Kredit di Bank Industri Jepang (1996-1998), Konsultan Senior di PwC Financial Advisory Services (1998-1999) dan Boston Consulting Group (2000-2003).
Tiko bergabung di Bank Mandiri pada 2003 dan menjabat sebagai Head of Strategy & Financial Analysis at Strategy and Performance Group. Ia pun kemudian menjadi kepala grup tersebut. Pada 2008, Tiko ditugaskan ke Mandiri Sekuritas sebagai managing director.
Ia lalu melepas jabatan di Mandiri Sekuritas pada 2011, untuk menduduki kursi CEO di Indonesia Infrastructure Finance, anak usaha PT SMI (Persero) pada 2011-2013.
Pada 2014, Tiko ditunjuk Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjabat sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ia kemudian kembali “pulang” ke Bank Mandiri setelah rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) mengangkatnya sebagai direktur.

















