Sabtu, 11 Juli 2009, auditorium utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta terasa hening tatkala Ahmad Riawan Amin memaparkan pikiran-pikirannya di hadapan Sidang Senat Terbuka UIN. Hari itu, Riawan menyampaikan pidato ilmiahnya sebelum dikukuhkan sebagai Doktor Honoris Causa di bidang perbankan syariah oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat.
Dalam pidatonya, Riawan yang ketika itu masih menjadi Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), mengatakan sistem ekonomi kapitalis yang masih diterapkan oleh pemerintah saat ini sudah semestinya direformasi.
Menurutnya, sistem kapitalis tidak bisa dipertahankan karena efisiensi yang dijanjikan dan keadilan bagi semua pelaku ekonomi tidak terbukti. “Sistem ekonomi syariah dengan anti maysir, gharar, riba dan bathil-nya secara teknis terbukti memberikan solusi atas kelemahan sistem kapitalis,” paparnya.
Perbankan syraiah, ia melanjutkan, berperan juga dalam memacu UMKM yang menjadi jantung bagi perekonomian Indonesia.
BERITA TERKAIT
Berbicara soal ekonomi dan perbankan syariah, memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Riawan Amin. Bahkan ketika di bawah Riawan, BMI, bank syariah pertama di Indonesia menjadi bank syariah dengan perolehan laba terbesar di Indonesia. Lahir dari pasangan Mr Sultan Mohammad Amin dan Cut Maryam di Tanjung Pinang, Riau pada 27 April 1958, darah pergerakan memang sudah mengalir sejak awal. Ayahnya adalah seorang anggota Komisi besar Indonesia Muda (KBIM), bersama Mr Mohammad Yamin saat pra kemerdekaan. “Ayah saya adalah Gubernur Sumatra Utara yang pertama. Pemerintahannya dari Banda Aceh,” kata Riawan.
Tahun 1960-an, saat pergolakan di daerah tak bisa terelakkan, Riawan kecil bersama keluarga hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, saat bersekolah mulai tampak
kegemarannya dalam membaca. Meski termasuk anak pendiam, dia tergolong cerdas dan berpengetahuan luas karena sudah banyak membaca aneka ragam buku, dari komik sampai sejarah dunia dan tokoh-tokoh dunia.
Kegemaran Riawan membaca tak lepas dari hobi membaca yang dimiliki sang ayah, yang juga seorang penulis buku dan kolumnis. “Selain sudah
menelurkan 12 buku, ayah juga rajin menulis kolom-kolom di beberapa media terbitan Jakarta kala itu. Kritis pedas dalam setiap tulisannya cukup membuat
dahi para petinggi negeri ini berkerut,” katanya mengingat masa kegigihan sang ayah.
Karenanya, tambah anak bungsu dari lima bersaudara ini, tak mengherankan bila keberadaan buku ayahnya terpaksa diterbitkan di Malaysia karena tidak boleh beredar di Indonesia.”Di antara buku yang dilarang beredar di Indonesia berjudul Indonesia di Bawah Rezim Demokrasi Terpimpin,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, Riawan mulai merasakan kebenaran kata-kata ayahnya: “Jangan membungkuk-bungkuk pada kekuasaan, melainkan pada kebenaran.” Dan nasihat itu pulalah yang dituliskannya di buku karangannya, seperti “The Celestinal Management “ (2004), sebuah buku tentang konsep perbankan Islami. Selain itu lahir buku “Indonesia Militan, Intelek, Kompetitif, Regeneratif “ (2008), “Perbankan Syariah Solusi Tepat Perekonomian Nasional” (2009), “Menata Perbankan Syariah di Indonesia” (2009) dan “Satanic Finance” (2009).
Soal kegemarannya menulis, tutur Riawan, tak jauh dari tabiatnya semasa kecil. “Semasa duduk di bangku SD, saya paling suka bercakap-cakap dan menceritakan sesuatu kepada teman saya,” katanya. Dengan kepandaiannya bercakap itulah, Riawan menuliskan gagasan. Tulisan itu ia perkaya dengan kegemarannya membaca.
Sifat pemberani Riawan juga mengalir dari ayahnya. Semasa kuliah, ia aktif dalam pergerakan mahasiswa yang kala itu sedang menghangat. “tak jarang saya bermalam di kampus dan keesokan paginya masuk kuliah dengan mengenakan sarung dan sandal jepit,” kisahnya. Riawan dan kawan-kawannya juga pernah mengelas pagar besi di pintu gerbang kampus UI Salemba untuk menghalangi tentara “menjelajah” kampusnya.
Karena dianggap terlalu “bandel”, pada tahun 1980, ia drop out (DO) dari Fakultas Teknik UI. “Namun dalam waktu yang bersamaan, saya diterima sebagai
mahasiswa FISIP di kampus yang sama.
Saat mendengar saya dikeluarkan dari fakultas, solidaritas temen-temen menggelombang,” katanya menjelaskan status DO akhirnya dibatalkan. Riawan akhirnya meneruskan kuliahnya di Amerika Serikat (AS). Dia meraih gelar Bachelor of Science of Architectual, Technology New York Ints, tahun 1985. Bahkan dia melanjutkan studinya di AS dan meraih Master of Science of Interdisiplinary Study dari University of Texas dan sempat bekerja di sana sebagai Enviromental Engineer AEGIS International, El Paso, Texas (1987-1989).
Kini, meski disibukkan dengan pekerjaan, ayah tiga orang putri, Gianina Amadira. Calsta Sakina dan Adiazzahra ini mengaku masih punya waktu luang untuk keluarga. “Saya merasa waktu luang untuk keluarga banyak sekali,” tutur suami dari Mira Sri Ratna Damariati ini. Karena, ia tidak membedakan antara kehidupan rumah tangga, ibadah dan kehidupan di kantor.
Malah bila suatu saat sedang jalan-jalan dengan keluarga, tak jarang ia mampir ke kantor untuk mengambil beberapa tugas yang perlu dia selesaikan. Kini, setelah tidak menjadi petinggi di BMI pun, pria yang pernah dianugerahi sebagai Best Chief Executive Officer (2008) versi Bisnis Indonesia ini tak lantas menjadi pengangguran. Kini dia sudah ditunjuk menjadi Independent Non-Executive Director dari CIMB Islamic Bank Berhad, Malaysia.
Riawan efektif menjabat posisi itu sejak Oktober 2010. Sebelum di BMI dan CIMB Islamic bank Berhad, Riawan sempat berkarier di PT Bank Duta dan Bank Universal Tbk. Belakangan, Ketua Dewan Kehormatan Asbisindo ini didaulat menjadi Direktur Utama Bank Jabar Banten Syariah.





.jpg)










