Laporan LSEG mencatat nilai pasar ekonomi hijau global menembus US$10 triliun, menjadikannya sektor terbesar ketiga di dunia melampaui sektor kesehatan.
Stabilitas.id — Nilai pasar ekonomi hijau global mencatatkan rekor baru setelah menembus angka US$10 triliun (sekitar Rp176,92 kuadriliun). Akselerasi ini didorong oleh kuatnya permintaan terhadap elektrifikasi, efisiensi energi, serta upaya peningkatan ketahanan energi di tengah gejolak harga bahan bakar fosil.
Berdasarkan laporan Investing in the Green Economy 2026: Resilience and Reacceleration edisi ketujuh yang dirilis London Stock Exchange Group (LSEG), pendapatan dari sektor hijau tumbuh 5,3% pada tahun lalu menjadi US$5,5 triliun (sekitar Rp97,31 kuadriliun). Angka ini mencakup omzet dari lebih dari 21.000 perusahaan serta 133 jenis produk dan layanan ramah lingkungan.
Dengan pencapaian tersebut, ekonomi hijau kini mengukuhkan posisinya sebagai sektor industri terbesar ketiga di dunia. Posisinya berada tepat di bawah sektor teknologi dan industri, serta berhasil melampaui kapitalisasi sektor kesehatan.
BERITA TERKAIT
Tak hanya itu, pasar obligasi berwawasan lingkungan (green bond) global turut membukukan rekor penerbitan tertinggi sepanjang masa sebesar US$605 miliar (sekitar Rp10,7 kuadriliun) pada 2025, atau tumbuh 5,7% secara tahunan (year-on-year). Sektor swasta mendominasi dengan menyumbang 68% dari total penerbitan green bond global.
“Yang kita lihat saat ini adalah lahirnya ekonomi hijau sebagai penggerak utama pertumbuhan global, yang didukung oleh perluasan pendapatan di berbagai sektor, kinerja jangka panjang yang kuat, serta pasar modal yang kian dalam,” ujar Jaakko Kooroshy, Kepala Riset Investasi Berkelanjutan Global LSEG, dikutip Jumat (28/8/2026).
Kinerja Keuangan dan Imbal Hasil Unggul
Secara finansial, perusahaan-perusahaan yang berada dalam Indeks FTSE EOAS (perusahaan dengan porsi pendapatan hijau di atas 20%) mencatatkan kinerja 1,4% lebih tinggi dibandingkan pasar saham secara umum selama periode 12 bulan hingga April 2026.
Bahkan, bagi korporasi dengan porsi pendapatan hijau melebihi 50%, marjin laba sebelum pajak, bunga, dan penyusutan (EBITDA) tercatat 2% hingga 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan non-hijau di Indeks FTSE All-World. LSEG menguraikan bahwa sejak 2008, saham-saham sektor hijau secara kumulatif telah mengungguli indeks saham dunia hingga 130%, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 18% dibanding rata-rata pasar 12%.
Studi terpisah dari World Economic Forum (WEF) dan Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan ekonomi hijau bakal menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$7 triliun (sekitar Rp123,84 kuadriliun) pada 2030.
Peta Kekuatan: Dominasi AS dan Asia
Dari pemetaan wilayah, Amerika Serikat (AS) masih memimpin dari sisi nilai pasar ekonomi hijau yang mencapai US$6 triliun (sekitar Rp106,15 kuadriliun) atau menyumbang 57% dari total global. Lebih dari seperempat pendapatan hijau dunia berasal dari AS, dengan kontribusi utama disokong oleh perusahaan komputasi awan (cloud computing), pengolahan limbah, energi nuklir, dan sistem irigasi modern.
Dari segi investasi fisik, China menempati posisi puncak sebagai investor energi bersih terbesar di dunia dengan nilai alokasi US$625 miliar pada 2025 (30% dari total investasi dunia), disusul AS sebesar US$400 miliar per tahun.
Secara kawasan, Asia menyumbang hampir separuh dari total pendapatan hijau global berkat aktivitas bisnis di China, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan. Sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan pendapatan mencapai US$62 miliar, di mana satu dari empat mobil yang terjual secara global pada tahun lalu merupakan mobil listrik.
“Transisi hijau kini memasuki babak baru yang tidak hanya ditentukan oleh pengurangan emisi karbon, tetapi juga oleh ketahanan energi dan daya saing ekonomi,” pungkas Kooroshy. ***
















