Citi menyoroti ketatnya persaingan modal antara pemerintah dan swasta di tengah suku bunga tinggi serta tren optimalisasi cadangan emas bank sentral.
Stabilitas.id – Citigroup Inc. (Citi) menilai era baru persaingan memperebutkan modal di pasar global telah dimulai. Saat ini, pemerintah di berbagai negara dan korporasi swasta bersaing ketat menyerap pendanaan yang terbatas di tengah pesatnya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta tren suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher-for-longer).
Pemerintah membutuhkan likuiditas besar untuk membiayai proyek infrastruktur, ketahanan energi, pertahanan, serta prioritas pembangunan lainnya. Di sisi lain, sektor swasta tengah gencar menanamkan modal masif pada pengembangan AI, pusat data (data center), dan infrastruktur digital.
Global Head of Public Sector Group Citi Stephanie von Friedeburg menyatakan bahwa dinamika tersebut memicu perubahan fundamental di pasar modal global.
BERITA TERKAIT
“Kami melihat ada perubahan mendasar di pasar modal global. Pemerintah melakukan peminjaman untuk mendanai pembangunan, infrastruktur, dan prioritas strategis, sementara sektor swasta berinvestasi besar pada AI dan infrastruktur digital. Dengan persaingan modal yang semakin ketat, akses terhadap pembiayaan dan solusi pendanaan yang inovatif akan menjadi sangat penting,” ujar Stephanie di sela-sela Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, dikutip dari keterangan resmi Citibank, N.A., Indonesia.
Tingginya suku bunga dolar Amerika Serikat (AS) turut mendorong emiten pemerintah maupun korporasi beralih ke pasar mata uang lokal seperti renminbi China (RMB), dolar Australia (AUD), dolar Hong Kong (HKD), dan dolar Singapura (SGD). Strategi pendanaan multi-currency ini ditempuh guna melengkapi pendanaan dolar AS, mengoptimalkan biaya modal, serta memperluas sumber likuiditas.
Citi juga menyoroti menguatnya peran dana kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) dalam menopang strategi pembangunan nasional, khususnya di negara-negara Teluk (Gulf). Selain mengalokasikan modal besar untuk infrastruktur domestik dan teknologi AI, investor kawasan Teluk kian strategis berperan sebagai penghubung arus modal antara pasar Barat dan Asia.
Dari sisi otoritas moneter, tren kenaikan harga emas turut memicu minat bank-bank sentral dalam mengoptimalkan cadangan devisa. Para pengelola cadangan kini aktif mencari solusi lindung nilai (hedging), pengelolaan likuiditas, serta skema pembiayaan dengan jaminan cadangan emas.
“Bank-bank sentral semakin giat mengevaluasi cara untuk mendiversifikasi cadangan devisa, mengelola risiko konsentrasi, dan memanfaatkan aset neraca secara lebih efisien. Ini termasuk mengeksplorasi strategi pembiayaan dan hedging berbasis emas sebagai bagian dari tujuan pengelolaan cadangan yang lebih luas,” tambah Stephanie.
Kendati diskusi mengenai dedolarisasi terus berlanjut, Citi memperkirakan dolar AS akan tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia. Posisi ini ditopang oleh ekosistem pasar keuangan AS yang mendalam, likuid, dan berskala besar.
Adapun bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tekanan beban utang dan tingginya biaya pinjaman di tengah keharusan membiayai infrastruktur, Citi mendorong pendekatan pembiayaan inovatif. Solusi tersebut meliputi skema transaksi debt-for-development serta program pengelolaan kewajiban utang (liability management exercise/LME) guna menjaga keberlanjutan fiskal jangka panjang. ***

















