Stabilitas.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui program BRInita (BRI Bertani di Kota). Kegiatan ini dikemas dalam acara Panen Raya BRInita yang digelar di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2025.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan bahwa kegiatan urban farming menjadi solusi modern dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di tengah pesatnya urbanisasi. “Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk menambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujarnya.
Program BRInita merupakan bagian dari BRI Peduli, payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perseroan, yang mendorong pemanfaatan lahan sempit di wilayah padat penduduk untuk kegiatan pertanian produktif.
BERITA TERKAIT
BRI tidak hanya memberikan bantuan infrastruktur seperti rumah tanaman (green house) dan bibit, tetapi juga pelatihan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola lahan pertaniannya secara mandiri. Dalam kegiatan Panen Raya tersebut, masyarakat juga mendapatkan edukasi budidaya buah dan pelatihan bercocok tanam untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas dan bernilai ekonomi.
Dhanny menambahkan, urban farming tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga berperan dalam mengurangi polusi, menambah keasrian kota, dan mengelola sampah rumah tangga. “Urban farming dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan program Asta Cita Pemerintah,” jelasnya.
Sejak diluncurkan pada 2022, program BRInita telah hadir di 31 titik lokasi dan memberi manfaat bagi lebih dari 1.160 jiwa. Program ini juga berkontribusi terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum sebesar 86,48%, serta 20,16% terhadap IPM perempuan.
Selain memberdayakan masyarakat, BRInita turut menghasilkan 9,5 ton sayuran, 112 tanaman obat keluarga (Toga), serta berkontribusi 11,27% terhadap penurunan angka stunting. Dari sisi lingkungan, program ini menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco-enzim, 80 kg maggot BSF, dan efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 238,61 kg CO₂-eq.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar, Neni, mengungkapkan bahwa kehadiran BRInita memberikan ruang bagi masyarakat untuk berdaya melalui pertanian kota. “Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menanam, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira, bisa menikmati hasil panen bersama,” katanya.
Menutup kegiatan, Dhanny mengajak masyarakat untuk menjadikan urban farming sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. “Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim,” ujarnya. ***





.jpg)










