• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Memaknai Angka 50 Tahun

by Sandy Romualdus
13 Februari 2012 - 00:00
810
VIEWS
Memaknai Angka 50 Tahun
0
SHARES
810
VIEWS

Bank yang telah melewati usia setengah abad tentu diekspektasikan sebagai bank yang memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik dibanding bank yang lebih muda. Namun soal kinerja, sepertinya ekspektasi itu tidak selalu terbukti di lapangan.

Oleh : Syarif Fadilah

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

“With age comes experience”. Begitulah orang-orang bijak sering berkata. Manusia yang berusia lebih tua lazimnya memang memiliki pengalaman yang lebih banyak dibanding mereka yang muda. Dan pengalaman inilah yang membedakan mereka dari yang lain dalam menghadapi hidup.

Sebagaimana manusia, sebuah perusahaan yang berusia lebih dewasa umumnya juga memiliki pengalaman dan daya tahan yang lebih baik ketimbang perusahaan sejenis yang baru beberapa tahun berdiri. Namun apakah hal di atas tetap akan seperti itu setelah usia 50 tahun terlewati? Kalau analoginya adalah manusia, maka yang tersisa adalah pengalaman yang berisi kebijaksanaan hidup yang membuat mereka yang berumur 50 tahun lebih unggul. Sebaliknya, soal daya tahan tentu akan berbanding terbalik.

Jika usia setengah abad itu dikaitkan dengan perusahaan, tentu keunggulan di sisi pengalaman dan daya tahan itu relatif tetap dimiliki oleh perusahaan yang lebih tua. Karena makin lama sebuah perusahaan bertahan – yang berarti makin panjang umurnya, maka pelajaran yang sudah dimilikinya dalam mengarungi bisnis makin besar. Begitu juga yang seharusnya terjadi dengan sebuah bank.

Namun sebagai institusi kepercayaan, bank yang bisa bertahan lebih lama juga dapat disimpulkan dengan bank yang memperoleh kepercayaan nasabah. Kalau tidak bagaimana bank tersebut bisa bertahan? Jadi kepercayaan dan keberlangsungan sebuah bank –bahkan hingga 50 tahun–adalah suatu sebab akibat yang tidak dapat dipisahkan.

Bahkan menurut pengamat dari Lembaga Manajemen Universitas Indonesia, Toto Pranoto, sebuah perusahaan termasuk bank yang bisa bertahan sampai lebih dari 50 tahun merupakan perusahaan yang luar biasa. Bagi dia, sebagaimana organisme, sebuah bank yang bisa terus hidup hingga waktu tersebut tentunya memang memiliki sesuatu yang membuatnya bisa bertahan. “Ada empat hal yang membuat sebuah perusahaan termasuk bank bertahan hingga waktu yang lama,” kata Toto.

Mengutip buku ‘The Living Company’, karya Arie de Geus, Toto mengatakan bahwa keempat hal tersebut adalah adaptasi, kohesivitas, pengelolaan keuangan yang konservatif dan desentralisasi. Buku yang merupakan hasil penelitian atas lebih dari 50 perusahaan yang berusia di atas 50 tahun itu menjelaskan bahwa yang dimaksud adaptasi adalah kemampuan melakukan penyesuaian. Sementara kohesivitas berarti rasa memiliki, pengelolaan keuangan yang konservatif adalah bersikap pruden serta toleransi dan terakhir desentralisasi artinya memberi kesempatan luas untuk melakukan inovasi.

“Keempatnya tidak bisa dipisahkan, karena bank akan bertahan kalau bisa meng-handle ancaman dari dalam dan dari luar. Ditambah lagi Industri perbankan merupakan industri yang highly regulated,” ujar Toto.

Dengan kondisi seperti itu tidaklah mengherankan jika tak banyak bank yang masih bertahan hingga setengah abad apalagi satu abad. Lihat saja, dari sekitar 120 bank umum yang ada di Indonesia, yang sudah melewati umur 50 tahun mungkin tidak sampai sepertiganya. Meski demikian tidak sedikit dari bank yang berusia emas itu yang kinerjanya tidak seistimewa usianya. Malahan ada bank-bank yang usianya masih separo usia emas namun kinerja lebih mengkilap ketimbang bank-bank berusia emas.

Bank Mandiri adalah contohnya. Meski belum berumur 20 tahun, namun bank yang dibentuk dari penggabungan empat bank negara sudah mencuat menjadi bank terkemuka di Indonesia. Namun untungnya ada BRI, BCA dan BNI yang masih bisa membuktikan bahwa bank berusia di atas 50 tahun memang memiliki keunggulan di sisi pengalaman dan daya tahan.

Lalu apa yang menyebabkan bank-bank berusia matang itu kalah dengan bank yang lebih muda? Menurut Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Subarjo Joyosumarto, mengkilapnya kinerja sebuah bank tidaklah bergantung dari usia yang sudah dilewatinya tetapi dari sejauh mana ia belajar dari perubahan.

Bagi dia, kemampuan sebuah bank dalam menyesuaikan diri dengan perubahan adalah kunci untuk mencetak prestasi gemilang. Dia menyingkat faktor kemampuan belajar (learning) dengan L dan perubahan (change) dengan C. “Jika L sebuah perusahaan lebih rendah dari C maka siap-siap saja karena perusahaan itu akan kolaps,” kata Subarjo.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Perusahaan, lanjut dia akan tumbuh jika L lebih besar dari C sementara perusahaan hanya akan bertahan jika L sama dengan C. Oleh karena itu bank harus terus meningkatkan kemampuan belajar dengan mencetak lebih banyak Sumber Daya Manusia yang bisa menyerap dan menyesuaikan dengan perubahan.

Belajar dari perubahan

Faktor perubahan ini kerap membawa dampak yang sangat besar bagi perusahaan jika tidak benar-benar bisa menyesuaikan. Banyak contoh, perusahaan yang akhirnya tutup ketika tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan bahkan parahnya lagi tidak mau berubah.

Contoh termutakhir adalah Kodak. Perusahaan yang dulunya bernama Eastman Dry Plate.Co, saat dibentuk sebagai rekanan pada 1881 oleh George Eastman, sebetulnya adalah salah satu raksasa blue chip Amerika. Bahkan namanya sangat sinonim dengan pengambilan foto dan kehadiran film dalam kotak kuning yang bisa ditemukan di mana-mana. Namun perusahaan itu lambat merespons kompetisi dari bisnis film dari Fuji Film Jepang yang berujung pada pemotongan harga produk.

Tak hanya itu, meski periset merekalah yang menemukan kamera digital pertama kali pada 1975. Kodak lagi-lagi lambat menjalankan bisnis fotografi digital dan terus fokus pada pembuatan film. Akhirnya perusahaan itu kembali dilibas pesaingnya.

Meski demikian banyak juga perusahaan yang akhirnya selamat dari perubahan bahkan bisa memimpin industri setelah melakukan perubahan signifikan dalam evolusi bisnisnya. Sebut saja American Express. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau perusahaan asal AS yang berdiri tahun 1850 ini awalnya adalah perusahaan jasa pos. Namun seiring dengan perubahan zaman, perusahaan ini terkenal dengan provider jasa keuangan ternama dunia.

Atau contoh lain adalah Shell. Siapa sangka kalau perusahaan minyak asal Ingris yang berdiri 1833 ini semula adalah hanya berbisnis mengimpor kulit kerang? Atau misalnya Samsung yang terkenal sebagai perusahaan rekayasa teknologi terkenal di dunia awal berdiri ternyata merupakan perusahaan pembuat mie.

Kendati tidak mungkin melakukan perubahan bisnis inti, bank sejatinya bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di atas bagaimana menghadapi perubahan dan menyesuaikan diri terhadapnya.

Bank-bank bisa melakukan perubahan-perubahan terkait dengan perkembangan bisnis jasa keuangan sendiri. Misalnya di tengah perkembangan teknologi informasi (TI) yang pesat, bank-bank pun harus segera merancang produk atau layanan yang sesuai dengan perkembangan itu, seperti phone banking, internet banking, ataupun sms banking.

“Agar bisa bertahan lama, bank harus meningkatkan TI-nya, infrastrukturnya dibaguskan, dan harus seinovatif mungkin,” kata Kepala Divisi Pusat Kajian dan Pengembangan Manajemen Risiko lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Subardiah.

Sebagai sebuah entitas bisnis, bank juga melewati beberapa fase dalam menjalani bisnis walaupun tidak seperti perusahaan di industri lainnya. Menurut pengamat perbankan dari Vibiz Consulting Alfred Pakasi bank memulai bisnisnya dengan melayani usaha ritel dan kecil menengah. Lambat laun setelah berhasil menggarap sektor itu bank mulai bersiap mengincar sektor korporasi.

“Kalau sudah ada semua mulai dari ritel sampai korporat, bank akan membuka layanan private banking dan syariah. Setelah itu akan mengembangkan sektor mikro,” kata dia.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Tidak semua bank memang melewati tahap-tahap itu secara sempurna, namun sedikit banyak tahapan itu sudah dilewati oleh bank-bank yang berusia 50 tahun. Lalu apa yang seharusnya didapat oleh bank-bank tersebut? Yang pasti bukan cuma sekadar bertahan dan sekedar dapat pengalaman. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Berharap Perubahan dari Davos

Next Post

Bank Emas yang Tak Berkilau

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Untuk Bertahan Butuh Core Value Kuat

Untuk Bertahan Butuh Core Value Kuat

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance