Oleh: Romualdus San Udika
Di lantai bursa dan ruang-ruang rapat korporasi, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) selama puluhan tahun identik dengan satu kata: KPR. Namun, memasuki awal 2026, bank pelat merah ini sedang mempertontonkan sebuah simfoni transformasi yang jauh lebih kompleks dari sekadar urusan cicilan rumah.
Sebut saja melalui gelaran BTN Expo 2026 yang mengusung tema provokatif “Build, Battle, and Beat”, bank yang baru saja merayakan hari jadi ke-76 ini secara de facto mendeklarasikan diri sebagai pemain utama dalam ekosistem gaya hidup terintegrasi. Bukan lagi sekadar penyalur kredit, melainkan dirigen bagi orkestra ekonomi yang menghubungkan hunian, UMKM, teknologi, hingga talenta masa depan.
Melampaui Tembok Bata dan Semen
Transformasi ini dipicu oleh kesadaran bahwa rumah bukanlah komoditas tunggal yang berdiri sendiri. Dalam visi Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, sektor perumahan memerlukan “pengungkit” baru untuk terus bertumbuh di tengah dinamika ekonomi global yang volatil. BTN Expo 2026 menjadi panggung pembuktian di mana akses perumahan, peluang usaha, hingga pengembangan karier dilebur dalam satu platform. Strategi ini merefleksikan pergeseran paradigma dari product-centric menuju ecosystem-centric, sebuah langkah berani yang menempatkan BTN selangkah di depan dalam kompetisi bank modern di Indonesia.
Nixon menegaskan bahwa BTN Expo bukan sekadar pameran properti musiman yang mengejar angka penjualan sesaat. Lebih dari itu, ajang ini merupakan kristalisasi dari strategi jangka panjang perseroan untuk merangkul seluruh mata rantai ekonomi perumahan. Dari pengembang besar hingga UMKM kuliner, dari pencari kerja hingga inovator startup, semua ditarik masuk ke dalam orbit bisnis BTN. Hasilnya mulai terlihat pada fundamental perusahaan; di tengah transformasi masif ini, BTN tetap mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,5 triliun, sebuah validasi bahwa strategi ekosistem tidak mengabaikan profitabilitas.
Pendekatan berbasis ekosistem ini juga menjadi benteng pertahanan BTN dalam menghadapi fluktuasi industri keuangan. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menekankan bahwa pertumbuhan yang sehat bukan hanya soal mengejar volume angka, melainkan kualitas aset dan ketahanan model bisnis. Dengan membangun fondasi yang kuat pada tata kelola dan inovasi, BTN berupaya menciptakan ketergantungan positif antara nasabah dan bank. Ketika seorang nasabah mencicil rumah di BTN, mereka juga menggunakan aplikasi BTN untuk belanja kebutuhan UMKM, mencari talenta kerja, hingga mengelola limbah rumah tangga.
Integrasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai sticky behavior di kalangan nasabah lintas segmen. Kehadiran merek kuliner legendaris seperti Sate Mak Syukur, Gudeg Yu Djum, hingga Bebek Sinjay dalam expo tersebut bukanlah tanpa alasan. Ini adalah upaya taktis untuk memperluas titik sentuh (touchpoints) bank dengan masyarakat, sekaligus mendukung ekonomi kreatif. Dengan menggabungkan literasi keuangan, hiburan, dan peluang kerja, BTN secara perlahan namun pasti sedang meredefinisi identitasnya dari bank spesialis menjadi pendamping gaya hidup masa kini.
Housingpreneur: Inkubator di Jantung Properti
Salah satu inovasi pertumbuhan paling vital dalam transformasi ini adalah program BTN Housingpreneur. Sejak diluncurkan, program ini telah menjelma menjadi pusat gravitasi bagi para inovator muda yang ingin mendobrak inefisiensi di sektor perumahan. Pada edisi 2025, program ini mencatat angka partisipasi yang fantastis dengan 1.170 submission. Ini membuktikan bahwa ada gairah besar dari akar rumput untuk memberikan solusi kreatif atas masalah mendasar seperti ketimpangan antara suplai dan permintaan (backlog) hunian yang layak dan terjangkau di tanah air.
Inovasi yang lahir dari ajang ini sangat beragam, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) hingga teknologi material bangunan. Kelompok GeoFloodAI, misalnya, menawarkan solusi mitigasi bencana dengan memetakan risiko banjir secara presisi pada lokasi pengembangan hunian. Sementara itu, PRANA TECH melalui inovasi TRAIN-O menghadirkan otomatisasi konstruksi yang mampu menekan biaya dan waktu pembangunan. Inovasi-inovasi seperti inilah yang dibutuhkan BTN untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan melalui KPR memiliki nilai jangka panjang dan risiko yang terkendali.
Pemerintah melalui Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, negara membutuhkan energi anak muda untuk memecahkan masalah hunian nasional yang makin kompleks. Kehadiran BTN sebagai enabler yang menghubungkan startup dengan pengembang properti adalah langkah strategis yang belum pernah dilakukan secara masif oleh lembaga keuangan lain. Dengan total hadiah sebesar Rp1,5 miliar, BTN bukan hanya memberikan modal, tetapi juga akses pasar yang nyata bagi para finalis untuk mengimplementasikan ide mereka di lapangan.
Eksistensi Housingpreneur juga memberikan dampak langsung pada kualitas ekosistem perumahan BTN. Dengan menyaring 57 inovator baru yang visioner dan solutif, BTN secara tidak langsung memiliki “katalog solusi” yang bisa ditawarkan kepada mitra pengembang mereka. Ini menciptakan simbiosis mutualisme: pengembang mendapatkan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi, sementara startup mendapatkan akses pembiayaan dan jaringan proyek. Inilah cara BTN mengorkestrasi industri perumahan agar tidak lagi berjalan secara tradisional dan konvensional.
Keberhasilan program ini juga terlihat dari profil pesertanya yang didominasi oleh Generasi Z dan Milenial. Hal ini selaras dengan target reposisi BTN yang ingin lebih dekat dengan generasi muda, sang calon pemilik rumah pertama. Melalui ajang seperti BTN Champions Arena yang berkolaborasi dengan Ruangguru, BTN sedang menanamkan benih literasi keuangan sejak dini. Bank memahami bahwa investasi terbaik bukan hanya pada aset fisik, tetapi pada pengembangan talenta dan sumber daya manusia yang akan menjadi penggerak ekonomi di masa depan.
Lebih jauh lagi, Housingpreneur telah melahirkan pahlawan baru di bidang material bangunan hijau. Nama-nama seperti Plustik dan Green Brick adalah bukti nyata bahwa limbah plastik yang dulunya tidak bernilai kini bisa menjadi komponen dinding dan lantai berkualitas tinggi. Melalui bimbingan BTN, startup-startup ini kini telah bermitra dengan developer besar untuk membangun rumah-rumah contoh yang ramah lingkungan. Transformasi ini membuktikan bahwa BTN mampu menjembatani idealisme keberlanjutan dengan realitas bisnis properti yang kompetitif.
Ambisi Hijau
Satu hal penting di tengah isu krisis iklim global, BTN mengambil posisi tegas dengan mempertebal portofolio Green Banking. Perseroan menargetkan pembiayaan hingga 20.000 unit rumah rendah emisi pada tahun 2026 sebagai bagian dari peta jalan besar menuju Net Zero Emission. Strategi ini bukan sekadar tren, melainkan langkah mitigasi risiko jangka panjang. Rumah yang dibangun dengan prinsip rendah emisi cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih rendah bagi penghuninya, yang secara otomatis menurunkan risiko gagal bayar bagi bank.
Setiyo Wibowo mengungkapkan bahwa perjalanan menuju hunian hijau ini telah menunjukkan tren positif yang signifikan. Hingga pengujung 2025, BTN sukses mendanai 11.000 unit rumah rendah emisi yang tersebar di wilayah strategis seperti Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah. Angka ini diproyeksikan akan terus melesat hingga mencapai 150.000 unit pada 2029 dan menyentuh angka 200.000 unit pada 2030. Target ini merupakan pernyataan ambisius yang menempatkan BTN sebagai pemimpin pasar dalam pembiayaan keberlanjutan di sektor perumahan nasional.
Keunikan dari program rumah rendah emisi BTN terletak pada integrasi material eco-friendly dari startup lokal. Dengan memanfaatkan sampah plastik seperti bungkus mi instan dan sachet sabun yang diolah oleh startup seperti Rebrick, BTN menciptakan ekonomi sirkular di situs konstruksi. Setiap rumah rendah emisi yang dibangun menjadi bukti kontribusi nyata dalam mengurangi beban sampah plastik rumah tangga. Setiyo menegaskan bahwa BTN terus mencari pengusaha baru di setiap pulau untuk memastikan bisnis inklusif ini dapat menjangkau seluruh pelosok negeri.
Untuk memastikan partisipasi pengembang, BTN memberikan insentif konkret yang sangat menarik bagi dunia usaha. Penurunan suku bunga hingga 25 basis poin bagi developer yang berkomitmen membangun hunian hijau adalah salah satu “peluru” utama. Selain itu, standarisasi insentif lainnya sedang dipersiapkan untuk memudahkan pengembang beralih dari metode konstruksi konvensional ke metode yang lebih berkelanjutan. Respons positif datang dari pemain besar seperti ISPI Group, yang telah mulai mengimplementasikan konsep ini di proyek-proyek skala besar mereka.
Komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) BTN ini pun telah mendapatkan pengakuan global yang bergengsi. Pencapaian ESG Rating AA dari MSCI ESG Ratings pada 2025 menjadi bukti autentik bahwa BTN adalah bank yang paling terdepan dalam penerapan prinsip keberlanjutan. Tak tanggung-tanggung, BTN berambisi meningkatkan porsi portofolio pembiayaan berkelanjutan hingga mencapai 60% pada tahun 2026. Angka ini mencakup pembiayaan rumah bersubsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), yang secara inheren membawa misi sosial dalam kerangka ESG.
Puncaknya, BTN juga melibatkan nasabah secara langsung melalui program revolusioner “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”. Bekerja sama dengan startup Rekosistem, nasabah KPR kini bisa menyetorkan sampah rumah tangga mereka yang kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan untuk memotong cicilan bulanan hingga 10-15%. Inovasi ini bahkan mendapat pujian langsung dari Ratu Belanda Queen Maxima dalam kapasitasnya di PBB. Program ini membuktikan bahwa keberlanjutan lingkungan bisa berjalan selaras dengan kesehatan finansial keluarga, sebuah strategi cerdas yang menguntungkan semua pihak.
Tabel: Proyeksi Portofolio Berkelanjutan BTN
| Indikator | Capaian 2025 | Target 2026 | Target 2030 |
| Unit Rumah Rendah Emisi | 11.000 Unit | 20.000 Unit | 200.000 Unit |
| Porsi Portofolio ESG | 52% | 60% | – |
| ESG Rating (MSCI) | AA | Pertahankan AA | Target Peningkatan |
Raksasa Ekosistem Finansial Terintegrasi
Melihat rangkaian manuver yang dilakukan, jelas bahwa BTN sedang bertransformasi dari sekadar “pemberi pinjaman” menjadi “penyedia solusi hidup”. Keberhasilan mengumpulkan hampir 6.000 pengunjung dalam beberapa hari gelaran expo menunjukkan tingginya kepercayaan publik terhadap wajah baru BTN. Integrasi antara perumahan, gaya hidup, dan teknologi bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas bisnis yang sudah dijalankan. BTN kini hadir lebih dekat dengan denyut nadi masyarakat, dari urusan perut lewat festival kuliner hingga urusan masa depan melalui bursa kerja dan kompetisi startup.
Strategi Build, Battle, and Beat memberikan gambaran tentang ketajaman visi manajemen BTN dalam menghadapi dekade mendatang. Membangun fondasi (Build) melalui penguatan permodalan dan laba yang stabil menjadi modal awal. Bertarung (Battle) dengan inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan menjadi cara mereka memenangkan persaingan di industri keuangan yang makin terdisrupsi. Dan pada akhirnya, mengalahkan (Beat) tantangan ekonomi dengan menciptakan ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan adalah tujuan akhir yang ingin dicapai.
Ke depannya, tantangan bagi BTN adalah menjaga konsistensi dan skalabilitas dari berbagai inisiatif hijau ini. Dengan target 200.000 rumah rendah emisi, BTN membutuhkan dukungan dari ribuan startup dan developer di seluruh Indonesia. Namun, dengan pondasi yang telah diletakkan melalui program Housingpreneur dan apresiasi internasional yang telah diraih, optimisme pasar terhadap BTN berada di level tertinggi. Bank ini telah membuktikan bahwa keberhasilan finansial tidak harus mengorbankan tanggung jawab sosial dan lingkungan; keduanya justru bisa menjadi mesin pertumbuhan yang saling menguatkan.
Reposisi sebagai bank modern juga menuntut BTN untuk terus berinovasi di sisi layanan digital. Rencana pembukaan hingga 100 digital store pada tahun 2027 menjadi langkah taktis untuk memastikan bahwa ekosistem ini dapat diakses dengan mudah oleh nasabah di mana saja. Dengan integrasi teknologi digital, proses KPR yang dulunya rumit kini menjadi lebih efisien dan transparan. Ini adalah bagian dari upaya BTN untuk memenangkan hati generasi muda yang menginginkan segala sesuatunya cepat, mudah, dan berdampak positif bagi lingkungan.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan BTN adalah sebuah cetak biru bagi perbankan nasional. Mereka membuktikan bahwa perbankan bisa menjadi agen perubahan yang kuat dengan menjembatani kesenjangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian alam. Melalui setiap unit rumah rendah emisi yang dibiayai dan setiap kilogram sampah yang dikonversi menjadi cicilan, BTN sedang merajut masa depan Indonesia yang lebih hijau dan sejahtera. Di bawah kepemimpinan yang progresif, raksasa spesialis KPR ini telah benar-benar bangun dan siap mendominasi ekosistem finansial masa depan.
Bagi para investor dan pelaku industri, transformasi BTN adalah studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah institusi tradisional dapat melakukan pivot yang sukses tanpa kehilangan jati dirinya. Fokus pada sektor perumahan sebagai core business tetap terjaga, namun kini diperkuat dengan lapisan-lapisan bisnis baru yang membuat fundamental perusahaan semakin tebal. BTN telah menunjukkan bahwa dengan keberanian untuk berinovasi dan komitmen pada prinsip keberlanjutan, sebuah bank bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang tak terbendung, sekaligus menjadi kebanggaan bangsa di kancah internasional. ***





.jpg)










