Sebuah roket tidak akan menjadi sebuah roket jika tidak ada ada bahan kimia pendorong yang disebut propelan. Dan mungkin juga industri pertahanan tidak akan bisa terdorong tanpa kehadiran PT Dahana. Ya, perusahaan negara yang memproduksi mesiu itu akhirnya bisa memproduksi propelan sendiri, yang selama ini harus diimpor.
Kepastian itu terjadi pada pertengahan bulan lalu saat diresmikannya pembangunan pabrik bahan baku utama amunisi kaliber kecil dan indutri lainnya di wilayah Energic Material Center milik PT Dahana (Persero), di Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang Jawa Barat.
Selama ini perusahaan itu adalah pemain utama dalam menyuplai bahanbahan peledak untuk keperluan industri dan militer di Tanah Air. Produknya juga sudah diekspor ke lebih dari 26 negara, yang kebanyakan adalah negara di kawasan Asia Tenggara.
Kini dengan kehadiran pabrik propelan, Dahana bisa melempangkan jalan Indonesia untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju di bidang persenjataan. Dengan memproduksi propelan terbuka kemungkinan suatu negara untuk menciptakan roket ruang angkasa sendiri.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro yang kala itu masih menjabat mengatakan bahwa propelan adalah industri yang sudah dicanangkan sejak lama. “Propelan ini adalah mimpi lama kita yang kini akan terwujud. Dengan proses yang panjang melalui KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) akhirnya kita bisa melakukan proses awal pembangunan Industri Propelan di tanah PT Dahana,” terang Purnomo.
Meski demikian, untuk menjalankan pabrik penghasil propelan, Dahana dalam beberapa tahun ke depan masih akan menggandeng dua perusahaan asal Prancis. Perusahaan mengakui belum memiliki teknologi dalam menghasilkan propelan dan memutuskan untuk menggandeng dua perusahaan yang memang sudah berpengalaman memproduksi propelan, yaitu Eurenco dan Roxel.
Eurenco merupakan perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial. Sedangkan Roxel France adalah perusahaan yang memiliki keahlian dalam bidang desain, pengembangan, produksi dan pemasaran motor roket dan peralatan terkait hardware dan perangkat ledak untuk semua jenis misil taktis, roket, guided airbone bombs, tactical or cruise weapons, mengintegrasikan motor roket propelan padat, ramjet dan teknologi sensitif mesiu.
Alasan lain menggandeng Roxel dan Eurenco adalah karena mereka bersedia melakukan transfer teknologi dan memberikan keleluasaan kepada PT Dahana menjual propelan produksinya ke pasar domestik maupun internasional. PT Dahana akan mengadopsi teknologi serta fasilitas modern dari Roxel dan Eurenco. Kerjasama ini juga merupakan kelanjutan dari perjanjian antara Prancis dan Indonesia pada Juni 2011.
Kebutuhan dan Kemandirian
Indonesia telah lama membutuhkan kehadiran pabrik yang menghasilkan bahan kimia utam untuk memproduksi bahan peledak ini. Apalagi kebutuhan industri dalam negeri terhadap propelan sudah begitu tinggi, yaitu mencapai 400 ton setiap tahunnya. Dengan mempunyai pabrik propelan sendiri, Indonesia tidak akan lagi bergantung kepada negara lain. Dan ini akan sangat berpengaruh terhadap kemandirian persenjataan Indonesia ke depan. Bahkan bila melampaui kapasitas produksinya, PT Dahana bisa menjual propelan ke luar negeri.
Direktur Utama Dahana, F Harry Sampurno mengatakan, dengan adanya pabrik ini, diharapkan lima tahun ke depan kemandirian industri pertahanan Indonesia dapat meningkat. “Karena untuk setiap Rp1 triliun investasi di industri propelan diperkirakan akan mampu mendorong pertumbuhan output dari sektor hilirnya sebesar Rp 40 miliar, bukan tidak mungkin selain untuk kebutuhan dalam negeri (PT Pindad), kita juga bisa ekspor ke luar,” kata Harry.
Proyek yang dibangun di atas tanah seluas 50 ha tersebut dibangun dalam dua tahap pembangunan. Tahap pertama pembangunan tempat untuk pembuatan nitrogliserin dan bahan-bahan pendukung pembuatan propelan lainnya. Nitrogliserin adalah sebuah senyawa kimia, cairan peledak yang berat, tak berwarna, beracun, berminyak, dan diperoleh dari menitratkan glycerol. Senyawa ini digunakan dalam pembuatan peledak, terutama dinamit, dan digunakan dalam industrik konstruksi dan penghancuran.
Tahap berikutnya, pembangunan untuk pembuatan propelan komposit, roket motor dan lain sebagainya. Pembangunan pabrik propelan yang menelan investasi sekitar 400 juta euro direncanakan akan selesai pada 2018. ““Bahan baku untuk membuat propelan semuanya sudah tersedia di Indonesia, tinggal penerapan teknologi,” jelas Harry.
Selama ini seluruh kebutuhan terhadap propelan dipasok dari luar negeri alias impor terutama dari Belgia. Dengan berdirinya pabrik milik sendiri, diharapkan tidak akan lagi timbul kekhawatiran terjadinya embargo yang mungkin saja dilakukan oleh negara pemasok. Padahal propelan merupakan komponenutama dalam pembuatan berbagai macam persenjataan seperti meriam, kanon, dan roket yang berfungsi sebagai pendorong atau peluncur.
Roket merupakan salah satu sarana yang dapat dipergunakan sebagai peluncur, bisa untuk pendorong misil atau untuk membawa instrumen pengamatan cuaca. Propelan sendiri terdiri atas dua jenis, propelan double base yang terdiri dari komponen nitrogliserin dan nitroselulosa ditambah bahan lain. Dan propelan triple base atau komposit yang terdiri atas fuel binder, oksidator, dan logam tambahan.
Pabrik propelan yang akan dibangun terintegrasi dengan PT Dahana ini akan menjadi pabrik pertama berdiri di Indonesia yang memproduksi propelan. Sebelumnya institusi riset negara seperti BPPT dan Lapan hanya membangun laboratorium penelitian propelan karena terbentur dengan investasi teknologi yang begitu besar.
Dalam sambutannya seusai peletakan batu pertama, menteri pemerintahan sebelumnya, Purnomo Yusgiantoro, yang didampingi Menteri Perindustrian MS Hidayat, Dirut Dahana F Harry Sampurno, dan Direksi BUMN strategis hingga perwakilan pemerintah Prancis mengatakan, pembangunan pabrik propelan pertama ini bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkan kemandirian di dalam pemenuhan alat utama sistem senjataan (alutsista). Tidak hanya kemandirian yang akan didapat. Dengan memiliki pabrik sendiri, akan terjadi penghematan anggaran yang cukup besar, sekitar Rp1 triliun per tahun.
Pada kesempatan yang sama, Purnomo mengingatkan kepada jajaran Direksi PT Dahana agar memperhatikan ketersediaan bahan baku propelan. “Itu tantangan bagi Dirut Dahana.Ini harus digarisbawahi. Faktor produksi sangat bergantung kepada raw material.Harus tepat dengan spesifikasi yang dibutuhkan,” jelasnya.
Nitrogliserin merupakan bahan utama pembuatan propelan double base. Berdasarkan tinjauan proses, nitrogliserin dapat diproduksi dengan bahan utama gliserin dan oleum yang merupakan juga bahan utama untuk industri makanan, farmasi dan minyak. Gliserin dan oleum merupakan produk samping dari industri pengolahan kelapa sawit.
Dirut Harry Sampurno mengatakan, bahan baku yang dihasilkan dari pabrik propelan itu nantinya akan diserahkan ke PT Pindad (Persero), BUMN manufaktur yang memproduksi alutsista atau perlengkapan perang. “Bahan baku ini akan diserahkan ke Pindad untuk dijadikan peluru. Karena Pindad sudah sebagian besar memproduksi peluru,” jelasnya.
Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pertahanan, Silmy Karim mengatakan, pembangunan pabrik propelan akan menghabiskan anggaran lebih dari 400 juta euro. Investasi tersebut bukan berasal dari anggaran Kementerian Pertahanan, melainkan dipenuhi dari Dahana serta dua perusahaan asing tersebut.“Anggarannya dari Dahana, dua perusahaan Prancis dan pinjaman perbankan. Dengan porsi51 persen dari Dahana dan konsorsium Roxcel serta Eurenco 49 persen,”ucapnya.
Sementara menurut Muhammad Sid Didu, salah satu anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan, kerja sama yang dilakukan PT Dahana dan Roxel serta Eurinco sangat baik bagi Indonesia. Dengan model membentuk perusahaan patungan, maka Indonesia akan terlibat langsung dalam proses produksi, sehingga alih teknologi bisa terjadi.“Pihak Roxel akan menyerahkan seluruh kepemilikan saham kepada Indonesia apabila putra-putra Indonesia bisa mengerjakannya sendiri.Divestasi itu diperkirakan akan terjadi setelah enam tahun perusahaan berjalan,” kata Said Didu.
BERITA TERKAIT
Pindad Menyambut
PT Pindad, satu-satunya perusahaan negara yang menyediakan berbagai produk mesin seperti generator dan senjata untuk militer, menyambut baik pendirian pabrik propelan. Tidak hanya itu, perusahaan yang bermarkas di Bandung itu telah mendatangani nota kesepahaman dengan PT Dahana. Intinya, PT Pindad akan membeli propelan atau bahan peledak hasil racikan PT Dahana. “Dengan kerja sama ini maka kami bisa memperoleh jaminan pasokan propelan dari produksi dalam negeri,” kata Sudirman Said, ketika masih menjadi Direktur PT Pindad.
Sudirman, yang kini ditunjuk menjadi menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral oleh Presiden Joko Widodo mengatakan, selama ini, untuk memenuhi kebutuhan propelan untuk ratusan juta butir peluru hasil produksinya, Pindad masih harus mengimpor dari Belgia, Korea, dan Taiwan.“Kami berharap, setelah pabrik propelan milik Dahana rampung, kami akan mendapatkan pasokan propelan dengan harga yang lebih kompetitif daripada harga impor,”ucapnya.Dalam setahun, Pindad bisa memproduksi sebanyak 150 juta butir amunisi kecil.Ia berharap, dengan kehadiran propelan produk Dahana akan membuat produksi amunisi Pindad lebih kompetitif di pasaran.
Apalagi Pindad tengah membangun pabrik amunisi di Turen, Malang Jawa Timur, dengan menggandeng perusahaan asal Afrika Selatan, Rheinmetall Denel Munition (RDM). Di pabrik seluas 160 hektar itu PT Pindad akan memproduksi berbagai macam amunisi atau eksplosif. Tentu bila pabrik di Malang mulai beroperasi, kebutuhan PT Pindad terhadap bahan propelan akan semakin melonjak. Kini, dalam setahun Pindad sudah membutuhkan sekitar 200-250 ton propelan. Ke depannya, kata Sudirman, jika permintaan peluru dari dalam dan luar negeri meningkat, otomatis kebutuhan propelan bisa meningkat mencapai 500 ton setahun.
Industri propelan merupakan salah satu dari tujuh program nasional untuk kemandirian alutsista yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Tim Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Ketujuh program nasional tersebut adalah pengembangan program jet KFX/IFX, pembangunan kapal selam, pembangunan industri propelan, pengembangan roket nasional, peluru kendali nasional, radar nasional, dan medium tank. Komite yang dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010, memberikan angin segar bagi BUMN yang terkait dengan alutista, salah satunya Pindad.
Pindad telah menjelma menjadi produsen produk militer yang disegani di tingkat global. Tidak hanya senjata ringan, Pindad juga mampu memproduksi kendaraan tempur kelas ringan dan berat yang mengadopsi dan berkiblat ke industri militer Eropa dan NATO (North Atlantic Treaty Organization).
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pelantikan 453 taruna Akademi Militer di Magelang Jawa Tengah beberapa bulan lalu pernah menegaskan, negara wajib memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) sendiri. Dan Indonesia telah mampu memproduksi alutsista modern.“Alutsista harus dapat diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.





.jpg)










