Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) menegaskan ketahanan sektor perbankan nasional tetap kokoh di tengah langkah Moody’s Ratings yang merevisi outlook lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji ketahanan atau stress test yang dilakukan bank sentral, perbankan domestik menunjukkan resiliensi yang kuat terhadap skenario tekanan eksternal, khususnya terkait likuiditas.
“Liquidity stress test yang dilakukan Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter, dan Market (DSMM) menunjukkan ketahanan perbankan terhadap skenario tekanan eksternal,” ujar Thomas dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
BERITA TERKAIT
Koordinasi Narasi Ekonomi
Dalam penampilan perdana pasca-pelantikan sebagai Deputi Gubernur BI periode 2026-2031, mantan Wakil Menteri Keuangan ini menjelaskan bahwa BI tengah menyiapkan koordinasi lintas sektoral untuk memperkuat narasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah ini diambil guna menyamakan persepsi kepada investor global maupun lembaga pemeringkat kredit (credit rating agency) mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.
“Kami sedang mempersiapkan koordinasi lebih lanjut untuk membangun narasi yang terpadu mengenai pertumbuhan ekonomi yang dikhususkan bagi investor maupun lembaga pemeringkat yang akan datang di kemudian hari,” tambah Thomas.
Efek Domino Peringkat Utang
Revisi outlook oleh Moody’s pada pekan lalu terhadap lima bank kelas atas—PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)—merupakan dampak dari revisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia sehari sebelumnya.
Meski outlook berubah menjadi negatif akibat tekanan eksternal, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit (credit rating) Indonesia di level Baa2, begitu pula dengan peringkat masing-masing dari kelima bank tersebut.
Sebagai informasi, Thomas Djiwandono resmi mengisi kursi Deputi Gubernur BI menggantikan Juda Agung yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak awal Februari 2026. Transisi kepemimpinan di otoritas moneter ini diharapkan tetap menjaga stabilitas kebijakan di tengah tantangan dinamika pasar global. ***





.jpg)










