Jakarta – Pemerintah mengalokasi belanja pemerintah dalam draft RAPBN 2014 sebesar Rp 1.904,1 triliun sementara pendapatan negara Rp 1.749,9 triliun. Akibatnya, defisit anggaran merosot menjadi Rp 154,2 triliun atau 1,5% dari PDB. Belanja tersebut sudah memperhitungkan tantangan defisit kembar yang saat ini terjadi di perekonomian Indonesia: defisit keseimbangan primer dan defisit transaksi berjalan.
Di sisi penerimaan, target penerimaan pajak ialah Rp 1.364,3 triliun, menjadikan tax ratio 13,26%. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) nilainya Rp 383,7 triliun. Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah psuat Rp 1.300,1 triliun di mana belanja kementerian/lembaga Rp 561,2 triliun dan belanja non K/L Rp 739 triliun. Transfer daerah akan menjadi Rp 603,9 triliun. Anggaran pendidikan tetap 20% dari total belanja yaitu Rp 380,8 triliun.
BERITA TERKAIT
"Target pertumbuhan ekonomi domestik harus inklusif menjadi target, juga infrastruktur dan investasi," ujar Plt Menteri Keuangan Hatta Rajasa di Jakarta, Selasa (30/4).
Adapun asumsi makro untuk 2014 adalah sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi: 6,4-6,9% – 6,8%, Inflasi 3,5-5,5% – 4,5%, SPN 3 bulan 4,5-5,5% hingga 5%, Nilai tukar Rp 9.600-9.800 hingga Rp 9.700, ICP US$100-120 per barel hingga US$110 per barel, Lifting minyak 900-930 ribu barel perhari hingga 915 ribu barel perhari, Lifting gas 1,240-1,325 jtua barrel perhari hingga 1,240 juta barel perhari.
Hatta juga menyampaikan prediksi makro yang terjadi pada 2013 yang berbeda dengan asumsi dalam APBN 2013. Prediksi tersebut adalah sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi: 6,5%, Inflasi: 5% (belum termasuk dampak kenaikan harga BBM), SPN 3 bulan: 5%, Nilai tukar: Rp 9.700, ICP: US$110 perbarel, Lifting minyak: 840 ribu barel perhari, Lifting gas 1,240- juta barel perhari.





.jpg)










