JAKARTA, Stabilitas.id – Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:
- Perkembangan Nilai Tukar 1 – 5 Agustus 2022
Pada akhir hari Kamis, 4 Agustus 2022
- Rupiah ditutup di level (bid) Rp14.930 per dolar AS.
- Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 7,20%.
- DXY[1] melemah ke level 105,69.
- Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun naik ke level 2,688%.
Pada pagi hari Jumat, 5 Agustus 2022
BERITA TERKAIT
- Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.890 per dolar AS.
- Yield SBN 10 tahun turun di level 7,16%.
Aliran Modal Asing (Minggu I Agustus 2022)
- Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke 117,03 bps per 4 Agustus 2022 dari 113,08 bps per 29 Juli 2022.
- Berdasarkan data transasksi 1 – 4 Agustus 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp0,80 triliun terdiri dari beli neto Rp3,42 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp4,22 triliun di pasar saham.
- Berdasarkan data setelmen s.d. 4 Agustus 2022, nonresiden jual neto Rp129,86 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp60,28 triliun di pasar saham.
- Perkembangan Inflasi
- Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I Agustus 2022, perkembangan inflasi sampai dengan minggu pertama Agustus 2022 diperkirakan mengalami deflasi sebesar 0,08% (mtm).
- Komoditas utama penyumbang deflasi Agustus 2022 sampai dengan minggu pertama yaitu bawang merah sebesar 0,13% (mtm), cabai merah sebesar 0,07% (mtm), cabai rawit dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,05% (mtm), angkutan udara sebesar 0,04%, (mtm), daging ayam ras sebesar 0,03% (mtm), tomat sebesar 0,02% (mtm), serta bayam dan jeruk masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang mengalami inflasi pada periode minggu pertama Agustus 2022 yaitu Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) sebesar 0,07% (mtm), rokok kretek filter sebesar 0,02% (mtm), air kemasan dan kentang masing-masing sebesar 0,01% (mtm).
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.***





.jpg)










