Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) membukukan laba sebesar Rp13,01 triliun untuk periode yang berahir September (Q III) 2012,. Jumlah tersebut tumbuh 24,77% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,43 triliun.
Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni menjelaskan, pertumbuhan laba didapat dari pendapatan bunga bersih yang naik tipis 1,98% dari Rp26,2 triliun menjadi Rp26,7 triliun. "Laba operasional juga naik dari Rp 12,59 triliun menjadi Rp 15,73 triliun," ujarnya di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (31/10).
BERITA TERKAIT
Selain itu, Achmad mengungkapkan, kenaikan laba juga diperoleh dari operasional perseroan, khususnya pertumbuhan kredit yang naik 15,30% dari Rp 275,82 triliun menjadi Rp 318,01 triliun. Komposisi kredit terdiri dari ritel (38,96%), mikro (31,78%), BUMN (14,27%), korporasi (10,33%) dan kredit menengah (4,66%).
Sebagai bank yang mempunyai bisnis micro banking terbesar di dunia, sampai triwulan III 2012 secara year on year, BRI berhasil melakukan penyaluran kredit mikro sebesar Rp84,9 triliun kepada 3,9 juta debitur mikro baru. Penyaluran kredit tersebut menghasilkan outstanding kredit sebesar Rp101,1 triliun.
Ekspansi kredit mikro yang dibarengi peningkatan jumlah debitur, menurut Achamd, mencerminkan perluasan jangkauan dan pelayanan BRI ke dalam masyarakat mikro Indonesia. "Walaupun terus berekspansi, BRI tidak melupakan prinsip kehati-hatian," katanya.
Hal tersebut tercermin dari penurunan NPL Gross dari 3,26% di triwulan III 2011 menjadi 2,33% di triwulan III 2012. Bahkan, tingkat NPL kredit mikro selalu terjaga di bawah 2% dalam 5 tahun terakhir.
Sementara dalam penghimpunan dana, perseroan berhasil meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 20,48% dari Rp309,71 triliun menjadi Rp373,14 triliun. Komposisi DPK giro Rp68,12 triliun, tabungan Rp 158,63 triliun dan deposito Rp 146,39 triliun.
"Pencapaian tersebut tidak lepas dari dukungan kegiatan pemasaran yang telah dilakukan, pengembangan jaringan unit kerja maupun electronic channel dan pengembangan fitur produk simpanan, serta peningkatan dana murah," tutur Achmad.
Dengan adanya peningkatan penyaluran kredit dan pertumbuhan DPK, maka komposisi loan to deposit ratio (LDR) menjadi 85,23%. Rasio profitabilitas mengalami peningkatan dari 4,67% menjadi 4,87% dan capital adequancy ratio (CAR) meningkat dari 14,84% menjadi 15,95%.
"Peningkatan efisiensi dapat dilihat pada nilai BOPO yang menurun dari 67,93% pada triwulan III 2011 menjadi 61,76% pada treiwulan III 2012," pungkas Achmad.
Sementara itu, menyikapi permintaan penurunan suku bunga dasar kredit dari kalangan pengusaha, Direktur Utama BRI Sofyan Basyir mengatakan, pihaknya sudah melakukan jal tersebut. "Itu sudah kami lakukan perlahan. Kami terus mencoba mengurangi dari 50 basis poin sampai 100 basis poin," katanya.
Upaya itu dilakukan dengan memperluas jaringan teknologi selama lima tahun terakhir. "Niat kami sudah berjalan dengan baik. Nanti arah kami terus mengembangkan dana yang murah dan meningkatkan fee base income sehingga lambat laun kami bisa bersaing dari tingkat suku bunga. dalam arti kata menurunkan secara bertahap perlahan-lahan," pungkasnya.





.jpg)










