Stabilitas.id – Forbes baru saja merilis daftar 10 mata uang terlemah di dunia per 7 April 2026. Dalam laporan tersebut, Rupiah menempati posisi kelima dengan nilai tukar berada di kisaran Rp17.066 per dolar AS. Peringkat ini disusun berdasarkan nilai nominal unit mata uang per dolar AS.
Forbes dalam laporannya menyebutkan bahwa meski Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kekayaan komoditas, mata uang nasional dinilai merosot akibat kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi.
BERITA TERKAIT
Namun, penilaian tersebut segera menuai kritik dari kalangan ekonom. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa pemeringkatan Forbes tersebut hanya benar dalam konteks yang sangat sempit, yakni hanya melihat sisi nominal kurs, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang.
“Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per dolar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang. Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks,” ujar Josua kepada Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Josua menekankan bahwa indikator yang jauh lebih relevan untuk menilai kekuatan mata uang adalah Real Effective Exchange Rate (REER). Berdasarkan indikator ini, rupiah saat ini berada di bawah level 100, yang menunjukkan posisi mata uang yang cenderung undervalued (sekitar 2 hingga 5 persen dari nilai fundamentalnya). Posisi ini justru membuka ruang bagi rupiah untuk menguat jika tekanan global mereda.
Klaim mengenai ekonomi Indonesia yang lemah juga dipatahkan oleh sejumlah data fundamental ekonomi domestik yang solid hingga kuartal I/2026:
-
Pertumbuhan Ekonomi: Tercatat kuat di angka 5,11% pada 2025.
-
Inflasi: Terjaga di level 3,48% per Maret 2026.
-
Cadangan Devisa: Mencapai sekitar 148,2 miliar dolar AS.
-
Investasi: Realisasi investasi 2025 melampaui target, yakni mencapai Rp1.931,2 triliun.
-
Sektor Perbankan: Kredit tumbuh 9,37% dan simpanan tumbuh 13,18% (data Februari 2026).
“Jadi, kalau membaca rupiah dari kacamata REER, pertumbuhan, cadangan devisa, investasi, dan ketahanan sistem keuangan, rupiah lebih tepat disebut sedang tertekan oleh sentimen global, bukan mata uang yang rusak secara fundamental,” ungkap Josua.
Faktor Eksternal Jadi Pemicu Utama
Josua menjelaskan bahwa tekanan yang dialami rupiah saat ini lebih dominan dipicu oleh faktor eksternal atau sentimen risiko global. Setidaknya terdapat empat sumber tekanan utama pada 2026:
-
Ketegangan geopolitik (termasuk di Timur Tengah).
-
Ketidakpastian perang dagang.
-
Arah suku bunga global yang tinggi.
-
Perlambatan ekonomi China.
Dinamika ini mendorong penguatan dolar AS secara global dan memicu arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang. Tercatat, arus keluar portofolio pada Maret 2026 mencapai sekitar 2,98 miliar dolar AS, dan sepanjang kuartal I 2026 mencapai 1,78 miliar dolar AS.
“Level rupiah di atas Rp17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dolar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah,” tegasnya.
Potensi Penguatan
Meski saat ini tertekan, Josua optimistis rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat ke bawah Rp17.000 per dolar AS. Hal ini didukung oleh mulai melemahnya dolar AS dalam beberapa pekan terakhir dan penurunan harga minyak mentah Brent sebesar 9,1% ke level 90 dolar AS per barel, seiring dengan adanya indikasi meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Jika tren penurunan tekanan global ini berlanjut, ruang bagi rupiah untuk kembali ke fundamentalnya yang lebih kuat tetap terbuka lebar. ***

















