• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, September 6, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000, Chatib Basri Tegaskan Kondisi RI Berbeda Jauh dari Krisis 1998

oleh Stella Gracia
10 Juni 2026 - 19:38
46
Dilihat
Rupiah Tembus Rp18.000, Chatib Basri Tegaskan Kondisi RI Berbeda Jauh dari Krisis 1998
0
Bagikan
46
Dilihat

Stabilitas.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran publik akan bayang-bayang turbulensi ekonomi masa lalu. Kendati demikian, ekonom senior sekaligus Menteri Keuangan periode 2013–2014 Chatib Basri menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini memiliki perbedaan mendasar dan jauh lebih resilien dibandingkan dengan krisis moneter (krismon) 1998.

Chatib memaparkan, jangkar pembeda paling krusial terletak pada penerapan sistem nilai tukar yang kini menganut rezim mengambang fleksibel (flexible exchange rate), serta dewasanya kemampuan para pelaku ekonomi domestik dalam mengelola risiko fluktuasi kurs (currency risk management).

  • Baca juga: Aktivitas IPO Masih Bergairah, Menko Airlangga: Cermin Optimisme terhadap Ekonomi Nasional

“Sama nggak 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa? Yang membedakan paling besar itu ialah flexible exchange rate,” ujar Chatib Basri dalam gelaran Grab Business Forum 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (10/6/2026).

BERITA TERKAIT

Aktivitas IPO Masih Bergairah, Menko Airlangga: Cermin Optimisme terhadap Ekonomi Nasional

Jaga Daya Beli, Menkeu Purbaya Siapkan Stimulus Ekonomi Tambahan di Kuartal II/2026

Berdasarkan data kemurnian pasar Bloomberg pada Selasa pagi (9/6), kurs rupiah memang sempat bertengger di posisi Rp18.058 per dolar AS. Namun, Chatib menggarisbawahi bahwa depresiasi tersebut tidak serta-merta menciptakan tekanan sistemik (systemic risk) yang dapat melumpuhkan total arsitektur perbankan dan korporasi nasional.

Dunia Usaha dan Kelas Menengah Atas Sudah Lakukan Hedging

Faktor pengaman lain yang membedakan era ini dengan tahun 1998 adalah mitigasi proaktif dari pelaku usaha dan masyarakat kelas menengah ke atas. Kelompok yang memiliki eksposur kewajiban dalam mata uang asing dinilai telah jauh lebih siap mengantisipasi pelemahan nilai tukar dengan memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging).

“Di kelompok yang atas, terutama menengah atas, itu sebetulnya depresiasi rupiah sudah diantisipasi sejak lama. Mereka yang punya anak sekolah di luar negeri itu sudah taruh rupiahnya di dalam dolar. Dia sudah hedge. Company, dia sudah hedge,” urainya.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan potret kelam 1998. Kala itu, mayoritas korporasi di Indonesia mengantongi utang menggunung dalam denominasi dolar AS tanpa adanya proteksi hedging, sementara sumber pendapatan (revenue) operasional mereka sepenuhnya berbentuk rupiah. Imbasnya, ketika nilai tukar anjlok, beban utang seketika membengkak eksposional dan memicu ledakan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di industri perbankan.

Rezim flexible exchange rate yang berlaku saat ini dinilai bertindak sebagai katup pengaman (shock absorber), yang memungkinkan masyarakat dan dunia usaha melakukan penyesuaian (adjustment) penetapan harga dan biaya secara lebih dini sebelum dampak sistemik meluas.

  • Baca juga: Jaga Daya Beli, Menkeu Purbaya Siapkan Stimulus Ekonomi Tambahan di Kuartal II/2026

Waspadai Imported Inflation di Kelompok Lemah

Kendati fondasi makro terbilang aman dari risiko kebangkrutan massal, Chatib mengingatkan bahwa dampak rembetan depresiasi rupiah ini tetap akan memukul kelompok masyarakat berpendapatan rendah (lower-middle income).

Pelemahan kurs berpotensi memicu lonjakan harga bahan baku impor (imported inflation), terutama pada komoditas pangan esensial seperti kedelai dan gandum. Kondisi ini dikhawatirkan bakal mengerek harga jual barang konsumsi harian masyarakat banyak, mulai dari tahu, tempe, hingga mi instan.

Oleh karena itu, Chatib menyarankan agar fokus bauran kebijakan pemerintah saat ini diarahkan pada penguatan jaring pengaman sosial (social safety net) guna menjaga daya beli riil masyarakat rentan dari tekanan inflasi pangan.

Indonesia Jauh dari Jurang Resesi

Di tengah kepungan sentimen negatif tersebut, Chatib optimistis perekonomian domestik Indonesia tidak akan terjerumus ke dalam jurang resesi ekonomi (negative growth). Laju pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan bertengger di kisaran 4,5% hingga 5% dinilai masih masuk kategori sangat impresif di tengah peta perekonomian global yang dilingkupi ketidakpastian.

“Orang boleh berdebat angkanya 5,6% atau 5,1%, 4,7%, berapapun angkanya itu tidak negative growth. Jadi saya bilang bahwa ekonomi kita kalau bicara dari global standar, 4,5% sampai 5% is not bad at all di saat dunia seperti ini,” pungkasnya.

  • Baca juga: Ketergantungan Fiskal dan Tekanan Margin UMKM Bayangi Resiliensi Ekonomi Indonesia

Tantangan terbesar kabinet saat ini bukan lagi menahan kepanikan krisis likuiditas ala 1998, melainkan ketepatan akurasi eksekusi kebijakan dalam melindungi isi dompet masyarakat kelas bawah dari hantaman kenaikan harga barang. ***

Tags: Analisis Chatib Basri 2026Chatib BasriFlexible Exchange Rate IndonesiaImported Inflation KedelaiKrisis 1998Lindung Nilai Sektor KorporasiPerbandingan Krisis 1998 dan 2026Pertumbuhan Ekonomi RIRupiah Tembus 18000
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Proyeksi 2027: BI Optimistis Rupiah Menguat ke Rp16.800 & Ekonomi Tembus 5,9%

Selanjutnya

Tembus 1,2 Juta Pengguna, Bank Raya (AGRO) Obral 111 Fitur Baru dan Program Loyalitas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

Perkuat Strategi Ritel Mikro, SIG Luncurkan Semen Kujang Berteknologi Active Micro Particle

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 09:40

SIG resmi menghidupkan kembali merek legendaris Semen Kujang untuk menguasai pasar ritel Jawa Barat, ditopang teknologi Active Micro Particle buatan...

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

Dorong Konsep Total Building Solution, SIG Buka Prospek Positif Pasar Semen 2H26

oleh Stella Gracia
3 September 2026 - 22:37

SIG mencatatkan lonjakan laba bersih 471% yoy menjadi Rp228 miliar pada Semester I/2026, ditopang kenaikan pendapatan Rp17,65 triliun dan penurunan...

Ketergantungan Fiskal dan Tekanan Margin UMKM Bayangi Resiliensi Ekonomi Indonesia

Ketergantungan Fiskal dan Tekanan Margin UMKM Bayangi Resiliensi Ekonomi Indonesia

oleh Sandy Romualdus
3 September 2026 - 17:20

Office of Chief Economist Bank Mandiri memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3%-5,4% pada 2026, ditopang belanja pemerintah di tengah pengetatan likuiditas...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Menkeu Purbaya: Modal Asing Masuk Rp140,6 Triliun, Stabilitas Ekonomi Jaga Kepercayaan Global

oleh Stella Gracia
2 September 2026 - 13:15

IHSG ditutup menguat 1,14% ke level 6.599,9 pada Selasa (1/9/2026) didorong net buy asing Rp2,03 triliun, di mana saham BBRI...

Perkuat Resiliensi Makro, Kemenkeu Dorong Sinergi Kebijakan KSSK dan Konsolidasi BUMN Danantara

Tekan Kerugian Bencana Rp22,85 Triliun, Kemenkeu Dorong Strategi Pre-Disaster Planning

oleh Stella Gracia
2 September 2026 - 13:14

Kemenkeu merilis sistem ARISE bersama UNDRR dan ITB untuk membantu pemda mengidentifikasi dan mengantisipasi dampak fiskal dari risiko bencana. Stabilitas.id...

Perkuat Resiliensi Makro, Kemenkeu Dorong Sinergi Kebijakan KSSK dan Konsolidasi BUMN Danantara

Perkuat Resiliensi Makro, Kemenkeu Dorong Sinergi Kebijakan KSSK dan Konsolidasi BUMN Danantara

oleh Stella Gracia
2 September 2026 - 13:14

Wamenkeu Suahasil Nazara menegaskan resiliensi APBN dan memaparkan asumsi makro RAPBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 6% serta defisit 2,4%...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Sejarah, Bale Syariah BSN Jadi Mobile Banking Pertama Bisa Top Up KMT Commuter Line

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Sinyal Hawkish The Fed Membingungkan Pasar, Keputusan Suku Bunga September Bergantung Data Inflasi

MARKET INSIGHT : IHSG Melesat ke 6.667 & Emas Antam Tembus Rp 2,71 Juta

JPMorgan Patok Target IHSG 7.000 di Akhir 2026, Soroti Resiliensi Emiten dan Disiplin Fiskal

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

RUPSLB BTN Rombak Lima Kursi Direksi, Nixon Napitupulu Tetap Menjabat Dirut

AAUI Soroti Target OJK dan Tantangan Reasuransi di Tengah Tergerusnya Laba Industri

Penarikan Dana SAL Ditunda, Dirut BTN Sebut Tekanan Perebutan DPK Mulai Mereda

Perkuat Customer Experience, CIMB Niaga Tebar Promo dan Gelar Engagement di Harpelnas 2026

Arah IHSG, Nasib Rupiah, dan Prospek Saham Blue Chip Jelang Akhir Pekan

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Kinerja Kuartal I/2026: Bank Raya Bukukan Laba Rp6,79 Miliar, Kredit Digital Melesat 33%

Tembus 1,2 Juta Pengguna, Bank Raya (AGRO) Obral 111 Fitur Baru dan Program Loyalitas

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance