Stabilitas.id – Dalam dunia Public Relations, nama seseorang jarang berdiri di depan sorotan. Mereka tidak tampil di layar kaca, tidak membacakan pidato, tidak menandatangani kesepakatan besar di panggung paling tinggi. Namun, dari balik layar, mereka menggerakkan banyak hal—mengarahkan pesan, membangun persepsi publik, mengamankan reputasi, hingga memastikan satu hal yang paling penting terjadi: orang lain tampil dengan tepat, dan cerita besar dibicarakan oleh orang banyak.
Itulah yang terjadi di balik panggung PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli). Tim Public Relations-nya bekerja seperti dirigen. Nampak tenang, tapi presisi. Tidak semua orang menyadari bahwa ritme komunikasi yang berjalan konsisten, strategi naratif yang tertata, hingga reputasi yang terbentuk tidak hadir dalam ruang hampa. Ada arsitektur komunikasi yang mereka bangun dari waktu ke waktu—pelan, fokus, sistematis.
Dalam perusahaan yang bertumbuh cepat seperti Blibli, peran PR bukan sekadar menulis press release atau mengirim siaran kepada media. Ia adalah fungsi strategis yang berada di jantung arah bisnis, membangun citra sekaligus menyusun pondasi pesan yang menyatukan berbagai elemen ekosistem perusahaan.
Model komunikasi yang dibangun pun bukan lagi berdasarkan ide abstrak. Ia berdiri di atas messaging architecture—sebuah kerangka yang memastikan seluruh narasi berada dalam satu jalur strategis, tetapi tetap memungkinkan setiap brand di bawah ekosistem Blibli Tiket memiliki warna dan gaya ceritanya sendiri.
Di sana kita melihat cara kerja PR kontemporer yang mulai bergeser. Komunikasi tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tetapi menyusun pengalaman, membangun persepsi, bahkan menyambungkan kepercayaan yang stabil antara perusahaan dengan masyarakat.

Dari Storytelling ke Storyliving
Efisiensi menjadi salah satu fondasinya. Tim PR Blibli menerapkan prinsip efficient resource with high impact result. Setiap program memiliki target yang jelas, stakeholders yang terdefinisi, timeline yang konkret, metrik keberhasilan, serta strategi yang bisa diukur.
Pendekatan itu terlihat kuat dalam berbagai inisiatif PR selama 2024–2025. Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah Blibli Media Soirée: Appreciating The 2024 Journey. Di banyak perusahaan, acara media gathering hanya menjadi ajang temu sapa rutin. Namun di tangan tim PR Blibli, acara itu menjadi ruang kepercayaan, ruang dialog, dan ruang membangun masa depan narasi bersama media.
Ada pula kampanye Kenal Lebih Dekat Ekosistem Blibli Tiket. Di titik ini, PR menunjukkan peran yang lebih strategis, bukan hanya penyampai pesan. Dari obrolan sederhana dengan jurnalis, mereka menemukan masih ada pertanyaan mendasar: apa bedanya multichannel dan omnichannel? Alih-alih menjawab dengan terminologi teknis, PR Blibli melakukan media perception audit. Mereka mendengar, membaca, dan memetakan opini. Temuan itu kemudian menjadi pondasi narasi baru yang lebih sederhana dan membumi.
Peralihan ini menjelaskan arah PR masa kini: bukan hanya tentang storytelling, tetapi storyliving—bagaimana audiens mengalami langsung nilai dan produk sebuah brand.
Strategi itu diterapkan dalam kampanye yang sama. Tim PR memberikan pengalaman langsung kepada jurnalis: mencoba fitur-fitur omnichannel di dalam ekosistem Blibli Tiket. Teknologi, retail, dan lifestyle tidak lagi menjadi slogan; ia menjadi pengalaman nyata.
Pengakuan Publik Hadir
Alhasil, langkah panjang itu mendapat perhatian. Tahun ini Blibli menerima dua kategori penghargaan dalam ajang Indonesia PR of the Year 2025. Pertama, kategori PR Program of the Year (ESG Campaign) dengan predikat Excellent melalui Langkah Membumi Festival 2024.
Lebih jauh lagi, kampanye ini juga meraih predikat Indonesia PR Program of the Year (Outtakes Index) berdasarkan data Ripple10 Digital Listening Tools, yang mencatat Langkah Membumi Festival 2024 sebagai program ESG dengan Outtakes Index tertinggi. Ini bukan sekadar kemenangan simbolis. Ini menunjukkan bahwa narasi yang dibangun PR Blibli benar-benar punya gema di masyarakat.
Selain itu, Head of PR Blibli, Nazrya Octora, dinobatkan sebagai Indonesia PR Practitioner of the Year 2025 (Senior PR Practitioner) dan Journalists’ Choice untuk kategori Trade & Services Industry. Penghargaan itu tidak lahir dari ruang kosong. Nazrya telah berkecimpung lebih dari 15 tahun dalam industri PR dengan pendekatan komunikasi yang menyatukan strategi, pengalaman, dan kemampuan membaca situasi bisnis dengan cepat.
Dalam perspektif tim PR, penghargaan itu bukan tujuan akhir. Ia hanyalah penanda kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: kerja mereka dirasakan oleh banyak orang.
Tahun ini pun kampanye Kenal Lebih Dekat Ekosistem Blibli Tiket meraih gold winner untuk Program PR subkategori Corporate PR di ajang PR Indonesia Award (PRIA) 2025. Selain itu, dua penghargaan juga diraih dalam Indonesia Marcomm and Corcomm Dream Team 2025, masing-masing untuk kategori Indonesia Corcomm Dream Team 2025 dan Marcomm Dream Team Journalist Choice.
Setahun sebelumnya, Blibli juga mendapat pengakuan untuk kampanye #IngatVOMO dan Blibli Annive12sary dalam ajang Indonesia PR of the Year 2024.
Semua penghargaan itu memiliki benang merah yang sama: strategi PR yang matang tidak dibangun dalam hitungan hari. Ia adalah perjalanan panjang dalam mendengar, meramu data, mengolah pesan, menciptakan visual komunikasi yang kuat, dan membangun reputasi yang konsisten.
Kolaborasi sebagai Mesin Besar
Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Di balik setiap kampanye, selalu ada kolaborasi lintas departemen yang menyatu: dari Brand Communications, Social Media, Activation, ESG, hingga jajaran Board of Directors. Semuanya bergerak selaras.
Nazrya menggambarkannya dengan lugas: “Kolaborasi dan dukungan antar-stakeholder di dalam organisasi menjadi kunci bagi PR untuk menghadirkan komunikasi yang solid, kaya data, dan bermakna. Di balik narasi yang informatif dan menarik ini, ada kerja sama erat lintas tim mulai dari Brand Communications dan Social Media untuk keselarasan pesan, Activation untuk konsep dan pelaksanaan acara, ESG, hingga arahan dan dukungan jajaran Board of Directors yang menguatkan langkah. Tidak kalah penting, sentuhan tim kreatif dalam mengolah data menjadi visual yang hidup membuat pesan Blibli semakin mudah diterima publik.”
Kutipan itu seolah menjelaskan karakter paling kuat dari sebuah tim PR: keberhasilan komunikasi bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi bagaimana organisasi membangun koneksi internal untuk saling mendorong.
Banyak yang tidak menyadari bahwa PR hari ini memikul beban yang lebih besar dibanding sebelumnya. Kita hidup dalam era ketika reputasi bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Media sosial mempercepat opini publik. Isu berkembang menjadi sentimen. Narasi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Strategi PR Blibli menunjukkan bagaimana perusahaan ini merespons tantangan itu: melalui riset, messaging architecture, media insight, dan konsistensi komunikasi. PR bukan lagi penyambung pesan. Ia sudah menjadi navigator, bahkan penjaga makna.
Dalam dinamika bisnis digital di Indonesia, pendekatan seperti ini bukan hanya relevan, tetapi juga penting. Reputasi sekarang menjadi aset. Dan PR adalah pengelolanya.
Sunyi yang Menjadi Sorotan
Di dunia PR, tidak ada tepuk tangan gemuruh di akhir pertunjukan. Tidak ada standing ovation. Tidak ada kamera yang fokus pada mereka. Namun ketika penghargaan datang, ia bukan sekadar simbol keberhasilan. Ia adalah pengakuan bahwa langkah–langkah yang mereka jaga selama ini bukan langkah yang sia-sia.
Penghargaan hanyalah jejak kecil dari perjalanan besar itu. Karena pada akhirnya, tugas PR tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari mereka kembali ke layar komputer, merangkai pesan, mendengar suara publik, membangun narasi perusahaan, dan terus menabur kepercayaan.
Mungkin begitulah cara kerja PR: bergerak dalam sunyi, tapi meninggalkan jejak yang tidak pernah bisa diabaikan. ***

















