• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Advetorial

Tantangan Perbankan 2017

by Sandy Romualdus
24 April 2017 - 00:00
24
VIEWS
Tantangan Perbankan 2017
0
SHARES
24
VIEWS

Perekonomian global nampaknya masih terancam dengan beberapa hal, terutama dengan perlambatan perekonomian China. Pertumbuhan Negeri Naga pada 2016 mencapai 6,5 persen, dan tahun 2017 diperkirakan menurun menjadi 6,2 persen.
Penurunan tajam (
hard landing) perekonomian China mungkin tidak dapat dihindari. Pasalnya, selain pertumbuhan ekonomi yang melambat, China juga mengalami persoalan porsi jumlah utang terhadap PDB yang besar. Tantangan lain adalah perubahan kebijakan politik ekonomi dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donal J Trump sebagai Presiden ke-45.
Dengan keterkaitan ekonomi global yang semakin erat, perekonomian Indonesia terkena imbasnya. Indikator redupnya perekonomian nasional dapat ditilik dari kondisi ekspor. Tahun ini saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pada periode Januari-Juli 2016 sebesar 79,08 miliar dollar AS, turun 12,02 persen dari periode yang sama tahun 2015. Sedangkan impor pada periode yang sama mencapai 74,91 miliar dollar AS atau turun 10,85 persen.
Kondisi itu tentu membuat pertumbuhan ekonomi menjadi tidak optimal dan diperkirakan berada di bawah target 5,2 persen. Selanjutnya hal inilah yang juga berakibat menekan target penerimaan pajak.
Di sisi perbankan tantangannya pun akan semakin berat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan lembaga jasa keuangan melambat. Per Juli 2016 kredit perbankan hanya tumbuh 7,74 persen dalam setahun. Pertumbuhan ini menurun lebih dari 1 persen dibandingkan dengan Juni 2016 yang masih 8,89 persen dalam setahun. Itulah yang menumbuhkan risiko kredit.
Terbukti ketika rasio kredit macet atau NPL, kendati masih di bawah 5 persen, pada Juli 2016
 angkanya merangkak naik ke tingkat 3,18 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan NPL per Juni 2016 sebesar 3,05 persen. Kondisi ini membuat perbankan disibukkan dan berkonsentrasi mengatasi NPL, sehingga menahan diri dalam memberikan kredit baru.
Bank yang tidak mau repot dan tergolong
risk avoidance bank tentu akan menanamkan kelebihan dananya dalam bentuk sekuritas yang lebih kecil risikonya (tentu dengan return yang lebih kecil pula). Sehingga secara agregat tetap terjadi ketimpangan dalam laju pemberian kredit.
Hal ini bisa dimengerti karena di saat perlambatan ekonomi, permintaan terhadap barang dan jasa juga melemah. Baik pemenuhan kebutuhan ekspor maupun permintaan domestik. Dengan demikian produksi mengikuti permintaan yang melemah ini. Bila tidak, maka akan terdapat surplus barang dan jasa
yang mengakibatkan barang dan jasa menganggur dengan konsekuensi penambahan biaya penyimpanan dan risiko kerusakan yang akhirnya menimbulkan kerugian perusahaan.

  • Baca juga: Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

Kebijakan Pemerintah

  • Baca juga: PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

Mengutip paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada hari Pahlawan yang lalu, tersirat optimisme pemerintah terhadap ekonomi tahun depan, namun tetap berhati-hati. Artinya bahwa perekonomian 2017 diharapkan melaju lebih kencang dibandingkan perekonomian tahun ini.
Hingga kini pemerintah telah menerbitkan paket kebijakan yang mencapai 14 dan menyentuh segala aspek strategis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya saing nasional dan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Dengan diberlakukannya kebijakan tersebut, lebih dari 200 regulasi telah dideregulasi.
Deregulasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan lingkungan usaha agar lebih kondusif, sehingga bisnis bertumbuh dan berkembang lebih mulus dan kencang. Harapannya adalah meningkatnya level kemudahan berusaha di Indonesia di mata pemodal dunia.
Pemerintah sudah melakukan perbaikan dalam kemudahan mendapatkan fasilitas kelistrikan, pencatatan kepemilikan properti, perolehan kredit dari lembaga keuangan, perlindungan terhadap investor minoritas, kemudahan dalam pembayaran pajak, perdagangan antar negara, eksekusi kontrak kerja, dan pemecahan kasus insolvensi. Walaupun sejatinya masih memerlukan perbaikan di sana-sini.
Menilik program peluncuran kebijakan dan program pemerintah tersebut, perbankan selayaknya merasa optimistis menghadapi tahun 2017. Keberhasilan program yang tentu akan terlihat secara bertahap, akan meningkatkan daya saing industri dan melahirkan usaha dan pengusaha baru yang prospektif. Hal itu tentu berpotensi dibiayai bank dengan risiko kredit yang lebih terkendali dan masuk
risk appetite bank.
Oleh karena itu langkah yang perlu dipersiapkan bank adalah mempelajari kebijakan bidang perekonomian pemerintah tersebut, dan memilih bidang usaha yang sesuai dengan target bisnis bank dan
core competency bank yang bersangkutan. Kemudian menetapkan risk acceptance criteria (risiko yang dapat diterima) dari industri dan perusahaan yang akan menjadi target pembiayaan bank, dan kemudian melakukan manajemen portofolio kredit yang optimal sehingga komposisi risiko industri, segmen kredit dan jenis/tipe kredit terstruktur dengan kombinasi terbaik dari sisi risiko dan return.
Terakhir, secara nasional membuat pemetaan pengembangan kredit yang akan ditargetkan, yang dituangkan dalam 
Corporate Planning berjangka lima tahun dan dijabarkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang berjangka setahun. Dengan melakukan disiplin langkahlangkah tersebut, berarti bank telah melakukan mitigasi risiko stratejik dan risiko kredit dengan cermat.  

BERITA TERKAIT

Sambut MotoGP Mandalika: BNI Tebar Promo Cashback dan Permudah Transaksi via Wondr

Bukan Cuma Urusan Tim IT: Praktisi Teknologi BNI dan CIMB Niaga Ungkap Kunci Sukses Adopsi AI

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

Bank Raya Tunjuk Direktur Bisnis Baru di Tengah Pertumbuhan Kredit Digital 22 Persen

 
 
 
 
 
Previous Post

Askrida Menuju 5 Besar

Next Post

Batu Sandungan Sektor Perbankan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

by Sandy Romualdus
15 Juni 2025 - 09:57

Bank Kalteng terus mengoptimalkan kekuatan lokal untuk meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan bahkan global. Untuk  mewujudkan tujuan menjadi...

PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

by Sandy Romualdus
28 Agustus 2023 - 13:22

Bank Aceh Syariah terus melakukan perubahan demi membangun ekonomi di Bumi Serambi Mekkah. Setelah berhasil melakukan transformasi digital, manajemen bank...

Gubernur BI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,50%

by Stella Gracia
25 Mei 2021 - 16:11

JAKARTA, Stabilitas.id -- Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate pada level 3,5...

OVO dan Bosowa Taksi Jalin Kerja Sama Pembayaran Digital

OVO dan Bosowa Taksi Jalin Kerja Sama Pembayaran Digital

by Admin Stabilitas
13 Februari 2019 - 00:00

Mengukuhkan diri sebagai platform pembayaran digital terdepan, OVO jalin kemitraan dengan penyedia jasa transportasi terkemuka di Makassar.

Bank Ganesha Raih Rekor Muri

Employee Engagement: Program yang Membahagiakan

by Sandy Romualdus
25 April 2017 - 00:00

Ejob description semata.Para karyawan yang termasuk turn over) menurun secara signifkan.Harvard

Menyongsong Bank Masa Depan

Menyongsong Bank Masa Depan

by Sandy Romualdus
30 Juni 2016 - 00:00

Dibutuhkan kreativitas dan inovasi pengembangan produk yang tiada henti, guna menggali sumber fee-based income, baik yang diperoleh dari transaksi yang...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Sambut MotoGP Mandalika: BNI Tebar Promo Cashback dan Permudah Transaksi via Wondr

Bukan Cuma Urusan Tim IT: Praktisi Teknologi BNI dan CIMB Niaga Ungkap Kunci Sukses Adopsi AI

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

Bank Raya Tunjuk Direktur Bisnis Baru di Tengah Pertumbuhan Kredit Digital 22 Persen

Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen: Pemerintah Butuh Investasi Rp2.258 Triliun pada 2027

Permintaan Emas RI Melonjak 40 Persen: Bank Mandiri Hadirkan Ekosistem Bulion Terpadu di Aplikasi Livin’

Investor Muda Tembus 55 Persen Tapi Kuasai Aset Minim, Analis Ingatkan Risiko Saham Rp1 dan Short Selling

Buka Akses Modal Mini: OJK Rancang Regulasi Aset Riil Tertokenisasi dan Stablecoin

Insentif Likuiditas Tembus Rp461 Triliun: BI Guyur Kredit Perumahan Rp68 Triliun Serap 500 Ribu Pekerja

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post

OJK Harap Pertumbuhan Dana Pensiun Capai 5 Persen di 2017

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance