Stabilitas.id — Di sudut-sudut Jalan Jenderal Sudirman, deru pembangunan tak pernah benar-benar senyap. Jakarta, kota yang selama puluhan tahun menyandang beban sebagai pusat pemerintahan, kini sedang bersiap menanggalkan jubah lamanya. Di bawah langit Jakarta yang kian biru, sebuah transformasi besar tengah dirajut. Bukan sekadar perubahan status administratif, melainkan sebuah lonjakan ambisi: menjadi kota global yang sejajar dengan Tokyo, London, atau Singapura.
Di tengah pusaran perubahan itu, PT Bank DKI hadir dengan wajah baru. Seiring dengan peringatan hari jadinya yang ke-65, bank kebanggaan warga ibu kota ini resmi bersalin rupa menjadi Bank Jakarta. Sebuah langkah simbolis yang menandai babak baru dukungan finansial terhadap visi Jakarta sebagai pusat ekonomi dunia.
Simpul Identitas di Panggung Dunia
BERITA TERKAIT
Perubahan nama menjadi Bank Jakarta bukan sekadar urusan estetika logo atau penyegaran warna korporasi. Dalam perspektif ekonomi global, nama adalah aset. Nama “Jakarta” membawa resonansi yang lebih kuat di telinga investor internasional dibandingkan akronim sebelumnya.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, memandang rebranding ini sebagai langkah strategis untuk mempertegas posisi Jakarta. Saat ditemui dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, Pramono menegaskan bahwa Jakarta harus memiliki identitas finansial yang inklusif namun kompetitif.
“Jakarta sebagai kota global memerlukan dukungan perbankan yang tidak lagi berpikir lokal. Bank Jakarta harus menjadi jangkar bagi seluruh ekosistem ekonomi kota, dari penyediaan infrastruktur hingga dukungan bagi warga di gang-gang sempit yang ingin naik kelas,” ujar Pramono Anung dalam sebuah kesempatan.
Bagi Pramono, kemandirian Jakarta pasca-perpindahan ibu kota ke Nusantara (IKN) sangat bergantung pada seberapa lincah BUMD perbankannya bergerak. Rebranding ini diharapkan mampu mengikis sekat-sekat birokrasi dan memperluas jangkauan pasar hingga ke level mancanegara.
Digitalisasi : Napas Kota
Menjadi kota global berarti menuntut kecepatan dan ketepatan. Bank Jakarta memahami betul bahwa teknologi adalah bahasa universal. Selama lima tahun terakhir, bank ini telah melakukan perombakan besar-besaran pada ekosistem digitalnya.
Program JakOne Mobile yang dulu hanya menjadi alat transaksi sederhana, kini telah bermutasi menjadi super apps yang mengintegrasikan seluruh layanan publik. Mulai dari pembayaran pajak, retribusi, hingga tiket transportasi massal seperti MRT, LRT, dan Transjakarta, semuanya terhubung dalam satu genggaman.
Sebabnya, menjadi kota global berarti menuntut kecepatan dan ketepatan. Bank Jakarta memahami betul bahwa teknologi adalah bahasa universal. Indikator paling nyata dari keberhasilan ini adalah ledakan jumlah pengguna aplikasi super apps JakOne Mobile.
Sejak diluncurkan hingga memasuki usia kota yang ke-65, JakOne Mobile telah berevolusi dari sekadar alat transaksi menjadi asisten finansial warga. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan pengguna yang eksponensial dalam lima tahun terakhir:
-
Tahun 2021: 1,2 juta pengguna
-
Tahun 2023: 2,23 juta pengguna
-
Tahun 2025 (Estimasi): 3,1 juta pengguna dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp30 triliun.
“Transformasi digital kami bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menciptakan efisiensi kota. Kami ingin memastikan bahwa setiap transaksi di Jakarta, baik oleh warga maupun wisatawan asing, dapat dilakukan dengan standar keamanan global,” kata Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam pernyataan resminya.
Konektivitas ini menjadi krusial. Dalam standar Global City Index, kemudahan akses finansial dan integrasi sistem pembayaran digital menjadi parameter utama. Bank Jakarta, melalui inovasi Jakarta Tourist Pass, telah memosisikan diri sebagai penyambut tamu internasional, memberikan kemudahan bagi pelancong untuk menikmati Jakarta layaknya warga lokal.
Ketangguhan dalam Angka
Optimisme yang diusung Bank Jakarta bukan tanpa dasar. Jika menilik catatan keuangan dalam lima tahun terakhir, bank ini menunjukkan grafik pertumbuhan yang presisi, bahkan saat dihantam gelombang ketidakpastian ekonomi global.
Kepercayaan masyarakat terpermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berhasil ditekan hingga ke level yang sangat sehat, mencerminkan manajemen risiko yang mumpuni.
Tabel: Statistik Transformasi Bank Jakarta (2021-2025)
| Komponen Kinerja (Triliun Rp) | 2021 | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 (Audit) |
| Total Aset | 70,74 | 78,88 | 82,41 | 85,12 | 90,25 |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 52,35 | 58,27 | 62,15 | 65,40 | 69,10 |
| Kredit & Pembiayaan | 39,67 | 48,37 | 52,10 | 56,20 | 61,45 |
| Laba Bersih | 0,72 | 0,93 | 1,02 | 1,18 | 1,35 |
| NPL Gross (%) | 2,98 | 2,55 | 2,40 | 2,15 | 1,95 |
Sumber: Laporan Tahunan Bank Jakarta
Pertumbuhan laba bersih yang konsisten setiap tahunnya menjadi modal berharga bagi Bank Jakarta untuk segera melantai di pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO). Langkah ini diprediksi akan menjadi salah satu aksi korporasi yang paling dinanti di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2026.
Sinergi dan Keberlanjutan
Namun, menjadi kota global bukan hanya soal gedung pencakar langit dan angka-angka di bursa saham. Jakarta adalah rumah bagi jutaan jiwa yang menggantungkan hidup pada sektor informal. Di sinilah Bank Jakarta menjalankan peran sosialnya melalui pembiayaan UMKM yang berkelanjutan.
Melalui sinergi dengan berbagai dinas di Pemprov DKI, Bank Jakarta aktif menyalurkan kredit produktif dengan bunga kompetitif bagi para pelaku usaha kecil. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat bisnis, tetapi juga menyentuh akar rumput.
“Bank Jakarta harus menjadi pelindung bagi UMKM kita. Saat Jakarta menjadi kota dunia, produk-produk lokal kita juga harus mampu bersaing. Itu memerlukan pendanaan yang stabil,” tegas Pramono Anung dalam pidato perayaan HUT Jakarta.
Selain itu, visi Green Financing mulai diadopsi. Bank Jakarta memberikan insentif pembiayaan bagi sektor-sektor yang mendukung kelestarian lingkungan, sejalan dengan komitmen Jakarta untuk menjadi kota yang rendah emisi di masa depan.
Menatap Cakrawala Baru
Ulang tahun ke-65 ini menjadi titik balik bagi Jakarta dan bank miliknya. Dengan identitas baru sebagai Bank Jakarta, tantangan di depan mata memang tidak ringan. Persaingan dengan bank-bank internasional dan tuntutan layanan digital yang kian kompleks menuntut adaptasi yang cepat.
Namun, dengan fondasi kinerja yang solid dan dukungan penuh dari kepemimpinan yang progresif, harapan itu tetap menyala. Bank Jakarta kini tidak lagi sekadar menyimpan uang warga, tetapi sedang mendanai mimpi sebuah kota untuk menjadi mercusuar ekonomi di Asia Tenggara.
Jakarta sedang bergerak. Dan Bank Jakarta memastikan langkah itu tetap tegak di jalur global, tanpa meninggalkan satu pun warganya di belakang. ***

















