Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi utang jangka panjang.
Stabilitas.id — Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tetap terjaga dan berada dalam struktur yang sehat. Posisi ULN Indonesia pada periode tersebut tercatat sebesar 459,3 miliar dolar AS, atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Berdasarkan keterangan resmi Departemen Komunikasi Bank Indonesia yang dipublikasikan melalui situs resminya, perkembangan ULN ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah penurunan ULN swasta.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa posisi ULN pemerintah pada Agustus 2026 tercatat sebesar 220,9 miliar dolar AS atau tumbuh 3,3 persen (yoy). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN).
BERITA TERKAIT
“Aliran masuk pada SBN mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ungkap Ramdan Denny Prakoso dalam rilis resmi Bank Indonesia yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Ramdan menambahkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel.
Sebagai komponen instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN pemerintah terus diarahkan untuk mendukung sektor produktif. Alokasi utang pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,4 persen), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).
Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.
Di sisi lain, posisi ULN swasta pada Agustus 2026 tercatat sebesar 195,6 miliar dolar AS, atau terkontraksi sebesar 0,8 persen (yoy). Penurunan ini dipicu oleh kontraksi pada kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 0,8 persen (yoy) dan lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 0,6 persen (yoy). Pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan porsi 80,5 persen.
Meskipun terjadi dinamika pada sektor publik dan swasta, BI memastikan struktur ULN Indonesia secara keseluruhan tetap sehat dengan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30,9 persen pada Agustus 2026, yang didominasi oleh utang jangka panjang.
“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan dan pengelolaan ULN sehingga optimal dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Ramdan Denny Prakoso.
Data lengkap mengenai perkembangan ULN Indonesia beserta metadatanya dapat diakses masyarakat melalui publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Oktober 2026 pada situs web resmi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. ***

















