• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Juli 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Finance

Upaya Melepas Beban Psikologis

oleh Sandy Romualdus
13 Januari 2012 - 00:00
15
Dilihat
Upaya Melepas Beban Psikologis
0
Bagikan
15
Dilihat

Dengan pertumbuhan bisnis yang selalu fantastis, bank syariah memasuki 2012 dengan penuh keyakinan, termasuk mencanangkan target market share sebesar 4 persen. Namun untuk segera mencapai pangsa pasar 5 persen, dukungan dari BI dengan beberapa kebijakan saja tidaklah cukup.

Oleh :Yudi Rachman

 

BERITA TERKAIT

BI: Bursa Mineral Bakal Berantas Praktik Nakal ‘Transfer Pricing’ dan Tarik Investasi Riil

Bidik Status Hub Perdagangan Dunia, OJK Targetkan Bursa Mineral Beroperasi 1 Januari 2027

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

Pelaku-pelaku industri perbankan syariah boleh dibilang hingga kini masih membawa beban psikologis. Maklum saja sejak beberapa tahun lalu, Bank Indonesia menetapkan target bahwa pada 2008 pangsa pasar bank syariah sudah harus mencapai 5 persen. Akan tetapi hingga tahun itu berakhir, pangsa pasarnya baru mencapai kurang dari 2,2 persen dengan total asset sekitar Rp50 triliun.

Kemudian, target direvisi: pangsa pasar 5 persen harus dicapai di tahun 2010. Namun apa mau dikata, meskipun asetnya telah tembus Rp100 triliun tapi tetap saja pangsa pasarnya baru bisa menyentuh 3,3 persen. Aset perbankan konvensional yang sudah demikian besar adalah faktor penyebab pangsa pasar syariah sulit mendekati angka 5 persen. Pertumbuhan yang fantastis yang dicatat oleh bank syariah tidak akan berarti banyak jika harus dihadapkan dengan aset bank konvensional yang kini mencapai Rp3.000 triliun lebih dan terus akan bertambah.

Inilah yang kemudian membuat angka 5 persen menjadi sangat sensitif bagi bankir-bankir syariah. Otoritas pun menjadi sangat berhati-hati ketika harus menyebut target pangsa pasar, apalagi harus menyebut 5 persen.

Oleh karena itu, ketika harus menyebut target pangsa pasar syariah 2012, Bank Indonesia tidak menyebutkan 5 persen melainkan “hanya” 4 persen meskipun pertumbuhan bisnisnya tak pernah kurang dari angka 45 persen atau dua kali lipat dibanding bank konvensional. “Angka pesimisnya, tahun Siregardepan aset perbankan syariah akan tumbuh minimal 55 persen. Market share mencapai 4 persen tidak lagi menjadi hal yang mustahil’’ ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah.

Tahun lalu bank syariah kembali mencatat pertumbuhan signifikan. Data hingga Oktober 2011 menyebutkan bahwa aset perbankan syariah tumbuh 47,5 persen dibandingkan 12 bulan lalu menjadi Rp 130,5 triliun. Pertumbuhan yang tinggi tersebut meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah menjadi 3,7 persen dari total aset perbankan nasional. Statistik BI juga mencatat, total pembiayaan perbankan syariah telah mencapai Rp100 triliun atau tumbuh sekitar 50 persen dibanding dengan periode yang sama tahun lalu.

Tahun ini, bank sentral tak ragu untuk menampakkan optimismenya bahwa pertumbuhan bisnis syariah tak akan lebih rendah dari tahun lalu kendati krisis global tetap mengancam.

Namun otoritas tampaknya tak mau jumawa terlalu berlebihan terhadap prospek bisnis perbankan syariah tersebut. BI menetapkan tiga skenario terhadap pertumbuhan syariah: pesimistis, moderat dan optimistis.

Pada proyeksi pembiayaan industri perbankan syariah tahun depan bisa mencapai Rp170 triliun, naik 60 persen dibandingkan pencapaian 2011. Dengan skenario optimis, pembiayaan syariah akan tumbuh Rp190 triliun atau 75 persen dan angka pesimisnya adalah Rp 165 triliun atau 55 persen.

Kemudian untuk dana pihak ketiga (DPK) secara based line diproyeksikan tumbuh sama dengan kenaikan total pembiayaan, yakni pada kisaran 60 hingga 63 persen. Proyeksi optimis sebesar 78-79 persen sedangkan proyeksi pesimis 50-55 persen.

Di sisi lain, total aset perbankan syariah secara based line diharapkan mencapai Rp187 triliun tahun depan. Sementara proyeksi optimis aset akan mencapai Rp200 triliun, dan proyeksi pesimis Rp177 triliun. BI menggunakan proyeksi pesimis dengan pertumbuhan 55 persen saat mengatakan bahwa aset perbankan akan mudah mencapai level 4 persen.

Sangat terbuka kemungkinan bahwa pertumbuhan aset syariah akan lebih besar dari proyeksi BI tersebut. Keyakinan tersebut dilandasi oleh kondisi makroekonomi yang makin positif setelah Indonesia diganjar kenaikan peringkat utang menjadi investment grade. Desember lalu, lembaga Fitch Rating menaikkan peringkat surat utang jangka panjang Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dengan perkiraan stabil. Dengan kondisi itu tentu akan makin banyak investor asing yang ingin membenamkan dananya di Indonesia.

Untuk itu, bank syariah mesti berbenah dengan merambah pembiayaan-pembiayaan korporasi yang nilainya signifikan. Menurut Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya Siregar, peluang perbankan syariah untuk terjun ke dalam beberapa sektor atau industri strategis seperti pertambangan, pertanian, perumahan, maupun franchising masih terbuka.

“Pasar perbankan syariah cukup besar. Salah satunya dimungkinkannya perbankan syariah ikut dalam pembiayaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Perbankan Syariah bisa berperan di dalam program jangka menengah dan panjang itu,” jelas Mulya.

Hal lain yang juga akan menjadi faktor pendorong pertumbuhan bisnis yang lebih islami karena tidak menggunakan sistem bunga adalah munculnya bank-bank syariah yang baru berdiri dan dibentuk pada 2011. Sebut saja BCA Syariah, Panin Syariah dan Bank Victoria. Tentu saja munculnya pendatang baru di perbankan syariah akan mendongkrak kinerja perbankan syariah pada 2012. “Bank-bank syariah baru itu dipastikan akan mengejar ketinggalan mereka dengan bank syariah lainnya yang sudah beroperasi terlebih dahulu. Tentunya ekspansi mereka akan mendorong pertumbuhan perbankan syariah secara nasional,” jelas Halim, Deputi Gubernur BI.

Dukungan Otoritas

Kendati demikian, untuk memastikan pertumbuhan industri syariah mencapai level yang optimal BI merasa perlu untuk menyusun dukungan dalam bentuk kebijakan. Beberapa sokongan dalam bentuk aturan yang akan dilansir otoritas di antaranya adalah pertama, penguatan intermediasi perbankan syariah ke sektor ekonomi produktif. Kedua, pengembangan dan pengayaan produk perbankan syariah yang lebih terarah. Ketiga, peningkatan sinergi dengan bank induk.

Keempat, peningkatan edukasi dan komunikasi atas produk dan layanan perbankan syariah. Kelima, peningkatan good corporate governance dan pengelolaan risiko kegiatan usaha perbankan syariah.

Bahkan terkait strategi ketiga, Halim menyebut bahwa BI tengah mengkaji insentif regulasi yang bakal memperkuat sinergi tersebut. “Kemudahan aturan terkait fasilitas pembukaan cabang, persyaratan. Lingkupnya lebih ke administratif dan prosedur,” ungkap Halim.

Namun dari sederet dukungan kebijakan itu, belum juga muncul adanya peran pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri syariah. Padahal kontribusi pemerintah untuk mendongkrak kinerja syariah sangat diperlukan terutama agar pangsa pasarnya bisa sampai ke 5 persen.

Selama ini perbankan syariah hanya mengandalkan pertumbuhan secara organik. Kontribusi pemerintah baru sebatas regulasi formal seperti mewujudkan UU Perbankan Syariah, UU Sukuk (SBSN), dan peraturan tentang pajak ganda untuk pembiayaan mudharabah. Padahal jika pemerintah mau membuat terobosan kebijakan, seperti mengakuisisi salah satu bank BUMN menjadi bank syariah, aset syariah bisa langsung terdongkrak melampaui 5 persen.

Pelaku perbankan syariah menginginkan dukungan dari pemerintah seperti yang terjadi pada perbankan syariah di Malaysia. Seperti yang diketahui, peran pemerintah Malaysia terhadap perbankan syariah sangat signifikan yang membuat industri syariah tumbuh pesat.

Halim Alamsyah mengatakan perkembangan yang pesat pada perbankan syariah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Karena aktivitas perbankan syariah tidak diatur berdasarkan mekanisme pasar seperti yang terjadi di AS, dan pemerintah memiliki keterlibatan dalam menjaga kemashlatan umat,” ujarnya.

Selain itu perkembangan pesat itu sekaligus juga menghilangkan beban psikologis yang ada di pundak bankir-bankir syariah dan juga bank sentral. SP

 

 
 
 
 
 
Sebelumnya

BI Rate Tetap 6 Persen

Selanjutnya

Penerapan Resiprokal By Accident

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

oleh Sandy Romualdus
17 Juli 2026 - 08:03

Kemenkomdigi merilis daftar bank dan e-wallet yang melaporkan akun judi online (judol) terbanyak. BCA dan DANA memimpin di masing-masing kategori....

Bank DBS Indonesia-Mirae Asset Sekuritas Luncurkan Online Onboarding RDN, Permudah Akses Investasi Digital

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

oleh Stella Gracia
17 Juli 2026 - 07:24

Segmen Wealth Management Bank DBS Indonesia mencetak pertumbuhan AUM private client sebesar 13% dan lonjakan laba bersih 24% per Juni...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

BI Rate Mendaki, OJK Tegaskan Likuiditas Perbankan Tetap Tebal dan Kredit Tumbuh 11,51%

oleh Stella Gracia
17 Juli 2026 - 07:22

OJK menegaskan likuiditas industri perbankan nasional tetap kokoh dan memadai di tengah volatilitas rupiah dan kenaikan BI Rate. Kredit per...

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

oleh Sandy Romualdus
17 Juli 2026 - 07:00

Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melonjak tajam pada Semester I-2026 dengan laba bersih Rp 2,40 triliun (+40,8%...

Perkuat Strategi Beyond Mortgage, BTN Caplok Kredit Konsumer SMBC Indonesia Rp20 Triliun

Berkat Efisiensi CASA, Cost of Fund (CoF) BBTN Susut Jadi 3%

oleh Stella Gracia
16 Juli 2026 - 17:25

Bank Tabungan Negara (BBTN) sukses mencetak kenaikan laba bersih 22,6% di Kuartal I-2026 berkat reformasi radikal tata kelola kredit dan...

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

oleh Stella Gracia
16 Juli 2026 - 12:28

CIMB Niaga dan Cathay Pacific kembali menggelar Cathay Travel Fair 2026 serentak di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Simak rincian promo...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Kejar Target Rp2.357 Triliun, DJP Bidik Rp200 Triliun dari Ekstensifikasi Pajak

    Tarik PPh 22 di Marketplace, DJP Bidik Pajak Digital Melonjak Hingga Rp 24 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DJP Kejar Pajak Digital, Strava dan Kling AI Resmi Kena PPN 11 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Danamon-Manulife Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Laba Rp66,59 Miliar, RUPST KB Bank (BBKP) Rombak Jajaran Direksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Didorong Danantara, PLN Group Bakal Ciutkan 44 Anak Usaha Menjadi 23 Unit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

BI: Bursa Mineral Bakal Berantas Praktik Nakal ‘Transfer Pricing’ dan Tarik Investasi Riil

Bidik Status Hub Perdagangan Dunia, OJK Targetkan Bursa Mineral Beroperasi 1 Januari 2027

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

Fundamental Kokoh, BI Sebut Tekanan Rupiah Murni Terkerek Sentimen Global

BI Rate Mendaki, OJK Tegaskan Likuiditas Perbankan Tetap Tebal dan Kredit Tumbuh 11,51%

Ogah Naikkan Tarif, Menkeu Purbaya Pilih Strategi ‘Angsa Emas’

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

Berkat Efisiensi CASA, Cost of Fund (CoF) BBTN Susut Jadi 3%

STABILITAS CHANNEL

 
Selanjutnya
Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance