JAKARTA, Stabilitas — PT Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRI Syariah) terus mencari cara guna memperkuat permodalannya demi dapat berekspansi kian luas di industri perbankan nasional. Salah satu opsi yang kini tengah dipersiapkan, dikaji dan dimatangkan pelaksanaannya adalah opsi melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
Meski belum diputuskan berapa persen saham yang akan ditawarkan ke publik, perusahaan sudah menetapkan tahun 2018 sebagai momen tepat melaksanakan IPO. “Saat ini belum ada target-target secara spesifik. Masih mau fokus ke (penerbitan) sukuk dulu. Tahun depan, mungkin saat akhir tahun baru akan kami siapkan lebih detil, termasuk target-targetnya. Yang jelas (IPO) di tahun 2018,” ujar Direktur Operasional BRI Syariah, Wildan,di Jakarta, Kamis (13/10).
Dengan melepas saham di lantai bursa, menurut Wildan, pihaknya nantinya akan menangguk dana segar yang cukup besar,yang dapat dimanfaatkan untuk penguatan modal di tier 1. Dengan permodalan yang kuat, Wildan yakin pihaknya bakal dapat semakin ekspansif dalam menjawab tantangan pasar di industri perbankan Tanah Air, khususnya di segmen perbankan syariah.
Saat ini saja, Wildan menjelaskan, pihaknya telah mampu mencatatkan beragam pencapaian positif dalam hal kinerja keuangan. Misalnya saja total aset yang telah menembus angka Rp25 triliun per Juni 2016 lalu. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga telah mencapai mencapai Rp20,9 triliun. Belum lagi pertumbuhan liabilitas yang pada saat yang sama meningkat sebesar Rp526 miliar atau naik 8,19 persen dibandingkan liabilitas per Desember 2015.
“Laba usaha kami pada periode Juni 2016 meningkat 42,65 persen dibandingkan Juni 2015. Kalau aset kami harapkan nanti saat IPO sudah bisa mencapai Rp30 triliun,” tegas Wildan.

















