JAKARTA, Stabilitas— PT Bank Central Asia (BCA) sepanjang tahun 2018 berhasil menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 1,4 persen. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan kondisi NPL ini sudah termasuk baik bila dibandingkan dengan rata-rata industri yang masih di atas 2,5 persen.
“Itu sudah mengalami naik turun. Kalau bisa kita pertahankan NPL dengan jumlah yang sama apalagi di bawah industri itu sudah something banget.”kata Jahja dalam Konferensi Pers Hasil Kerja Tahun 2018 di Jakarta, Kamis (28/2/2019).
Sementara itu, rasio cadangan terhadap kredlt bermasalah (loan loss coverage) tercatat pada level yang memadai sebesar 178.7 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) tercatat pada level yang sehat masing-masing sebesar 23.4 persen dan 81.6 persen.
“Kalau NPL-nya dari sektor mana, susah dibilang karena rata-rata masih dari komersial,”ungkapnya.
Selain NPL, Jahja melaporkan pada tahun 2018 portofolio kredit meningkat 15,1 persen menjadi Rp 538 triliun yang didukung oleh tingginya kebutuhan kredit usaha. Sedangkan kredit korporasi tumbuh 20,4 persen menjadi Rp 213,3 triliun pada akhir tahun 2018.
Untuk kredit komersial dan UKM tercatat mengalami peningkatan 13,4 persen menjadi Rp 183,8 triliun.
“BCA mencatat pertumbuhan kredit usaha yang lebih tinggi, baik pada kredit investasi maupun modal kerja,”imbuhnya.
Meskipun dihadapkan pada peningkatan suku bunga, kredit konsumer tumbuh 9,7 persen menjadi Rp 140,8 triliun. Pada segmen konsumer, KPR tumbuh 12 persen menjadi Rp 87,9 triliun dan KKB meningkat 4,4 persen menjadi Rp 40 triliun 2018. Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit tumbuh 11,8 persen menjadi Rp 12,9 triliun. (Is)

















