Stabilitas.id – Di La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, langkah pengunjung yang memasuki ruang pamer Summarecon Discovery seolah diajak kembali ke tahun 1975. Waktu itu, seorang pengusaha muda bernama Soetjipto Nagaria menapakkan visi perintisnya: bahwa sebuah kawasan kota tak boleh berhenti pada pembangunan hunian. Kota, baginya, adalah sistem kehidupan. Hari ini, sejarah itu dipamerkan dalam bentuk instalasi seni, arsip, maket, hingga mural berskala besar.
Summarecon Discovery dibuka untuk publik mulai 28 November 2025. Tak ada tiket masuk, hanya registrasi daring. Namun yang dihadirkan bukan sekadar pameran. Ia adalah arsip perjalanan perusahaan swasta yang dalam lima dekade telah meninggalkan jejak pembangunan sembilan kota terpadu di Indonesia, mulai dari Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, hingga Makassar dan Karawang.
“Summarecon Discovery kami hadirkan sebagai ruang bagi publik untuk menelusuri perjalanan Summarecon, dari langkah awal di Kelapa Gading hingga berkembang menjadi pengembang sembilan Kota Terpadu,” kata President Director PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi. Ekshibisi ini, lanjutnya, bukan sekadar dokumentasi sejarah. “Kami berharap ruang ini dapat memperkaya wawasan masyarakat tentang bagaimana sebuah kawasan direncanakan, dikembangkan, dan dijaga keberlanjutannya.”
BERITA TERKAIT
Ada nada reflektif dalam pernyataan itu. Summarecon tidak hanya merayakan usia emasnya. Perusahaan ini seperti ingin mengatakan satu hal: bahwa pembangunan kota adalah perjalanan yang panjang, rumit, dan harus dirawat.

Ekshibisi sebagai Narasi Kota
Pameran ini dibagi ke dalam 12 zona naratif. Di dalamnya, sejarah Summarecon bukan ditampilkan sebagai kronik tahun ke tahun, melainkan sebagai kurasi gagasan. Di zona Timeline — 50 Years of Our Journey, perjalanan perusahaan diurai sejak lahan 10 hektare di Kelapa Gading dibeli pada 1975 hingga bertransformasi menjadi korporasi yang mengelola mal, kawasan terpadu, fasilitas publik, dan hunian.
Zona lain seperti Time of Endurance membentangkan kisah tentang bagaimana perusahaan bertahan dari tiga babak krisis nasional: krisis moneter 1998, banjir 2007, dan pandemi Covid-19. Narasi itu bukan sekadar heroisme perusahaan, melainkan potret bagaimana kota dan masyarakatnya menghadapi bencana.
Di tengah ruangan, para pengunjung akan menemukan model kawasan, multimedia interaktif, rekaman video, hingga visual karakter kehidupan urban. Di sini inovasi menjadi tema besar: mulai dari konsep Clubhouse dan Condovilla, standar konstruksi SQII, hingga teknologi tata air mandiri. Fasilitas publik seperti sekolah, pusat perbelanjaan, hingga ruang komunal tampil sebagai bukti bahwa model bisnis Summarecon telah melewati satu tahap dewasa: ia tidak lagi sekadar menjual properti, melainkan mengelola kehidupan sosial.
Zona Our Founder menyajikan kisah pendirinya bukan semata sebagai sosok pemilik modal. Nilai hidup, keluarga, dan dedikasinya dalam pendidikan ditampilkan sebagai pilar ideologi korporasi. Di sinilah prinsip “Aman – Nyaman – Lengkap” lahir, yang kemudian menjadi DNA pembangunan Summarecon: menyediakan kawasan kota terpadu dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, komersial, dan ruang publik.
Kota, menurut visi Soetjipto Nagaria, harus memberi ruang bagi manusianya berkembang. Sebuah gagasan yang hari ini diinterpretasikan ulang melalui zona Wonderful Future, ketika Summarecon membayangkan kota masa depan: transit oriented development (TOD), hunian berkelanjutan, fasilitas publik kelas internasional, sampai konsep human flourishing.
Ketika Sejarah Menjadi Strategi Bisnis
Ekshibisi ini bukan hanya pencapaian estetika. Ini juga strategi. Summarecon telah membuktikan bahwa model kota terpadu dapat tumbuh menjadi kekuatan korporasi. Pengembangan kawasan Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, hingga Bandung menunjukkan bahwa perusahaan ini membangun portofolio dengan formula yang sama: hunian, komersial, investasi aset jangka panjang, dan fasilitas publik.
Dalam 50 tahun, perusahaan telah meraih pengakuan nasional maupun internasional, antara lain FIABCI Prix D’Excellence, Asia Property Awards, hingga Indonesia Property Awards. Ini bukan deretan penghargaan kosong. Ia adalah validasi bahwa Summarecon telah melakukan sesuatu yang sedikit dilakukan pengembang swasta di Indonesia: membangun kota secara bertahap dan terintegrasi.
Yang paling menarik, perayaan 50 tahun Summarecon bukan sekadar seremoni dan refleksi sejarah. Ia juga datang dengan angka-angka baru yang menunjukkan konsistensi perusahaan dalam memasarkan produk properti di tengah ketidakpastian daya beli.
Hingga Oktober 2025, SMRA telah mencatat marketing sales Rp4 triliun, atau setara 80% dari target akhir tahun senilai Rp5 triliun. Angka itu bukan hanya peningkatan kinerja, melainkan juga indikator bahwa model kawasan terpadu masih menjadi segmen yang dicari.
Adrianto menyebutkan bahwa penjualan tersebut tumbuh 26% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode sama tahun lalu. “Walaupun banyak yang sedang prihatin dengan isu daya beli, kami bersyukur karena fokus kami di segmen menengah ke atas memberikan resiliensi. Menjadikan kita bisa mencapai Rp4 triliun hingga Oktober 2025,” ujarnya.
Dengan dua bulan tersisa hingga akhir tahun, SMRA optimistis target Rp5 triliun akan tercapai. “Masih ada November dan Desember, kami yakin tercapai,” kata Adrianto. Optimisme itu juga didukung situasi makro dan kebijakan fiskal yang ramah bagi sektor properti.
Adrianto menambahkan, sektor properti masih menikmati dukungan permintaan terutama dari kelas menengah ke atas. Tetapi momentum terbesar bagi SMRA justru datang dari kebijakan fiskal baru: perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 2027.
Sebelumnya, insentif pajak ini hanya diberikan enam bulanan, membuat pengembang sulit menyiapkan pipeline proyek jangka panjang. Bagi Summarecon, kepastian kebijakan hingga 2027 adalah titik krusial.
“Konsumen langsung dapat diskon 11%. Tapi dari sisi industri, insentif ini akan membuat pengembang membangun rumah secara masif. Ketika konstruksi berjalan, 180 bisnis turunan ikut bergerak. Jadi kontribusinya besar bagi ekonomi nasional,” jelas Adrianto.
Insentif ini juga diprediksi menjadi pendorong penjualan 2026, sekaligus memperkuat strategi township SMRA. Bagi Summarecon, pengembangan kota terpadu tetap menjadi fokus utama. Portofolio bisnis perseroan terdiri dari: 70% property development, 30% recurring business (mal dan hotel)
Adrianto menegaskan bahwa Summarecon tetap menjaga fokus pada model township dan belum berniat memasuki sektor baru seperti kawasan industri atau logistik. Strategi ini merupakan lanjutan dari perjalanan panjang perusahaan dalam membangun kota melalui formula yang sama: hunian, ruang komersial, fasilitas publik, dan rekreasi.

Dua Krisis Besar yang Mengubah Perusahaan
Dalam kurasi sejarah di Summarecon Discovery, narasi tentang keberhasilan bukan satu-satunya kisah yang ditampilkan. Ada fragmen tentang kegigihan menghadapi dua masa tersulit: krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19. Di kedua periode ini, Summarecon memilih strategi yang jarang muncul di buku manajemen krisis.
“PHK adalah pilihan kesekian ratus. Kalau ada yang harus dikorbankan, dilakukan bersama-sama. Begitu juga ketika kita pulih, kita bangkit bersama,” ujar Adrianto.
Pernyataan itu seketika menggambarkan filosofi lama perusahaan: bahwa kota tidak hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan kebersamaan. Prinsip ini pula yang menjelaskan bagaimana perusahaan bisa melewati krisis dan tetap menjaga keberlanjutan kota-kota yang mereka kembangkan.
Summarecon Discovery dibuka setiap Selasa–Minggu, pukul 11.30 – 20.00. Tanpa tiket masuk, ekshibisi ini menawarkan ruang bagi masyarakat untuk melihat bagaimana sebuah kota dibangun dari nol, melalui visi, investasi, dan keberanian bertahan di tengah krisis.
Summarecon memasuki usia ke-50 bukan sebagai perusahaan yang selesai dengan sejarahnya, tetapi sebagai perusahaan yang terus menata masa depannya. Sejarah yang dipamerkan di ruang ini bukanlah album kenangan. Ia adalah peta perjalanan yang menunjukkan bahwa kota tidak pernah selesai dibangun: ia hanya terus berkembang, mengikuti zaman dan manusianya.
Dan mungkin itu pesan terbesar dari ruang pamer ini: Summarecon bukan hanya membangun kawasan. Ia membangun gagasan—bahwa kota adalah ruang kehidupan yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa visi, keberanian, dan komitmen jangka panjang. ***

















