Stabilitas.id – Mastercard Economics Institute (MEI) memproyeksikan kawasan Asia Pasifik akan menjadi salah satu blok ekonomi paling stabil pada 2026, meskipun dunia tengah menghadapi penyesuaian perdagangan akibat perubahan tarif global, akselerasi investasi kecerdasan buatan (AI), serta pola konsumsi yang terus berubah. Dalam Outlook Ekonomi 2026, MEI memperkirakan pertumbuhan PDB riil global melambat tipis menjadi 3,1%, dari estimasi 3,2% pada 2025.
MEI menilai ketahanan Asia Pasifik didukung inflasi yang mereda, kebijakan moneter yang lebih longgar, serta kenaikan pendapatan riil di sejumlah negara. Sementara itu, konsumen semakin mengandalkan teknologi dalam berbelanja, namun tetap selektif dengan prioritas pada pengalaman seperti perjalanan wisata dan hiburan.
Outlook global 2026 dibentuk oleh kombinasi percepatan teknologi dan tekanan eksternal. Stimulus fiskal dan integrasi AI dalam proses bisnis dinilai menjadi pendorong pertumbuhan, sementara distribusi manfaat teknologi yang belum merata berpotensi membatasi ekspansi di beberapa pasar. Fragmentasi baru dalam rantai pasok juga muncul akibat ketegangan geopolitik dan perubahan tarif.
BERITA TERKAIT
“Sebagai pusat perdagangan global, Asia Pasifik menunjukkan ketahanan yang luar biasa meskipun ketidakpastian tarif dan pergeseran rantai pasok berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional,” ujar David Mann, Chief Economist Asia Pasific Mastercard.
MEI mencatat bahwa peta perdagangan global memasuki fase baru setelah penyesuaian tarif pada 2025. Tiongkok semakin mendiversifikasi ekspornya ke pasar alternatif menyusul turunnya porsi penjualan e-commerce ke AS, dari 28% pada 2024 menjadi 24% pada Agustus 2025.
Dampaknya bervariasi di Asia Pasifik. Negara pengimpor barang berbiaya rendah dari Tiongkok mengalami disinflasi pada barang impor. Negara eksportir seperti Jepang dan pasar Asia Selatan menghadapi tekanan akibat pelemahan permintaan eksternal serta tarif AS. India, ASEAN, dan Tiongkok tetap menjadi tiga simpul utama dalam rantai pasok global yang terus beradaptasi.
MEI menekankan bahwa investasi AI dan kebijakan fiskal strategis menjadi pendorong penting pertumbuhan kawasan. Dalam AI Spending Index, Korea Selatan, Jepang, India, dan Hong Kong SAR menunjukkan momentum kuat dari sisi korporasi maupun konsumen.
Investasi yang terus bergulir meliputi pusat AI dan data center, smart city, infrastruktur digital, industri semikonduktor. Dinamika tersebut menempatkan Asia Pasifik sebagai penerima manfaat terbesar dari transisi global menuju produktivitas berbasis AI.
MEI lebih lanjut mengungkapkan, bahwa pariwisata masih menjadi sektor paling tangguh di Asia Pasifik. Semester I/2025 mencatat belanja outbound Singapura: USD 2,7 miliar lebih tinggi dari 2019. Indonesia dan Filipina memimpin pertumbuhan outbound: masing-masing +40% dan +28%. Pariwisata inbound Jepang dan sejumlah negara ASEAN kembali ke tingkat pra-pandemi. Selain itu, kenaikan perjalanan intra-regional menunjukkan pergeseran preferensi konsumen menuju pengalaman (experience) dibanding belanja barang.
Sorotan Outlook 2026 per Kawasan
Tiongkok diperkirakan tumbuh 4,5%, ditopang konsumsi domestik, kategori konsumsi baru seperti beauty, wellness, lifestyle, hingga collectible berbasis fandom. Penurunan suku bunga dan stimulus fiskal di dalam kerangka lima tahunan juga mendukung momentum.
Asia Selatan mempertahankan pertumbuhan kuat:
- India: 6,6%
- Sri Lanka: 3,7%
- Bangladesh: 5%
Jepang diproyeksikan tumbuh 1,0%, dengan pendapatan riil meningkat dan sentimen rumah tangga membaik. Investasi strategis di AI, semikonduktor, dan ketahanan energi menyeimbangkan tekanan dari perlambatan ekspor.
ASEAN-5 menunjukkan dinamika beragam:
- Indonesia: 5,0%
- Filipina: 5,6%
- Malaysia: 4,2%
- Singapura: 2,2%
- Thailand: 1,8%
Risiko terbesar masih berasal dari volatilitas harga energi dan permintaan global yang bisa mempengaruhi pasar tenaga kerja.
Australia dan Selandia Baru diperkirakan tumbuh 2,3% dan 2,4%, ditopang penurunan suku bunga dan belanja rumah tangga pada sektor pengalaman dan hiburan.
UMKM diproyeksikan semakin intensif mengadopsi kanal digital untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkuat ketahanan operasional.
“Meski prospek Asia Pasifik positif, kawasan tetap menghadapi risiko kompleks, mulai dari fragmentasi perdagangan hingga kesenjangan adopsi teknologi,” kata Mann.
“Adaptasi cepat, kesiapan digital, dan pemahaman atas preferensi konsumen menjadi faktor penentu pada 2026.” ***





.jpg)










