Stabilitas.id — Pasar residensial nasional menunjukkan kondisi yang relatif stabil di penghujung tahun 2025. Data terbaru dari Pinhome Home Sell Index (PHSI) mencatat harga jual rumah nasional naik tipis 0,4% secara kuartalan (qtq), dengan segmen rumah tipe kecil menjadi penopang utama pertumbuhan.
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa rumah tipe kecil (≤54) mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 0,8%. Sebaliknya, rumah tipe besar (≥201) justru mengalami koreksi harga sebesar -0,9%, yang dipicu oleh kecenderungan konsumen untuk menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di wilayah kota inti.
“Segmen menengah dan kecil tetap menjadi favorit masyarakat. Sementara itu, penurunan pada tipe besar berkaitan dengan peningkatan inventori berlabel urgensi penjualan pada semester II/2025 di beberapa wilayah komuter,” ujar Dara dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026).
BERITA TERKAIT
Di wilayah DKI Jakarta, pergerakan harga rumah menunjukkan karakter yang sangat spesifik antar wilayah:
-
Jakarta Utara: Tipe menengah (55-120) di Tanjung Priok terkoreksi -5% akibat kekhawatiran banjir rob, namun tipe kecil (≤54) justru naik 3%.
-
Jakarta Barat: Kembangan mencatatkan kenaikan 3% untuk tipe kecil karena harga yang kompetitif.
-
Jakarta Timur: Pertumbuhan signifikan terjadi pada tipe 121-200 di Ciracas (3%) dan Cakung (2%) berkat peningkatan infrastruktur.
-
Jakarta Selatan: Terjadi koreksi selektif pada tipe kecil sebesar -2% di Jagakarsa dan Pasar Minggu, mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati.
Laporan Pinhome Home Rental Index (PHRI) menunjukkan pasar sewa mulai mengambil peran lebih kuat. Indeks Harga Sewa Nasional naik 0,6% (qtq), dengan pertumbuhan tahunan tertinggi pada tipe besar (≥201) mencapai 2,3%.
Tingginya biaya hidup di Jakarta mendorong pergeseran preferensi masyarakat ke pasar sewa. Di Jakarta Selatan, harga sewa rumah tipe kecil naik 3%, sementara di Jakarta Pusat untuk tipe menengah melonjak 3%. Permintaan dari kalangan profesional dan ekspatriat tetap menjadi motor penggerak utama di wilayah pusat aktivitas ekonomi.
Memasuki tahun 2026, Pinhome memprediksi pasar properti akan memasuki fase ekspansif. Hal ini didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat serta ketersediaan likuiditas perbankan yang memadai. Berdasarkan data pendukung, posisi Uang Primer Adjusted nasional mencapai Rp2.027,32 triliun, yang menjamin stabilitas ekosistem pembiayaan properti.
“Kami optimistis bahwa 2026 akan menjadi tahun normalisasi pasar properti. Kombinasi stabilitas makro dan kebijakan yang konsisten akan membuka peluang bagi pemulihan transaksi yang tertunda,” pungkas Dara. ***
















