Jakarta – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk melanjutkan kebijakan pengurangan stimulus ekonomi atau tapering off. Otoritas moneter negeri paman Sam itu memangkas suntikan sebesar US$10 miliar menjadi US$65 miliar pada Februari.
Keputusan itu dihasilkan usai rapat yang dipimpin Gubernur The Feds, Janet Yallen, Rabu waktu setempat atau Kamis (30/1). Pertimbangannya adalah perbaikan ekonomi di AS.
Kebijakan pengurangan stimulus ini telah dilakukan sejak awal tahun ini. Pasalnya, dalam rapat dewan gubernur pada akhir (18/12/2013), diputuskan pengurangan suntikan dana sebesar US$10 miliar, dari US$85 miliar menjadi US$75 miliar. Rapat yang dipimpin oleh Gubernur The Feds kala itu, Ben Bernanke menyatakan hanya akan membeli surat utang properti sebesar US$35 miliar, dan surat utang jangka pendek pemerintah US$40 miliar.
BERITA TERKAIT
"Mulai awal Februari, komite hanya mengeluarkan stimulus sebesar US$30 miliar untuk surat utang properti yang jatuh tempo, dan sebesar US$35 miliar untuk surat utang jangka pendek pemerintah," ujar juru bicara The Feds dalam keterangan tertulisnya.
Indikator perbaikan ekonomi negara Super Power itu terlihat sari pertumbuhan aktivitas bisnis, dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang naik dan investasi yang meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Kendati begitu, The Fed mengungkapkan masih mencermati perkembangan tingkat pengangguran dan inflasi. Kondisi ini menjadi pertimbangan untuk memutuskan tingkat suku bunganya.
"Dewan gubernur juga menegaskan kembali ekspektasi terhadap suku bunga acuannya dalam tingkat yang rendah yakni kisaran 0-0,25% yang akan dilakukan sepanjang tingkat pengangguran dibawah 6,5% dan inflasi dalam 1-2 tahun kedepan masih tidak lebih dari 0,5%," tandas dia.

















