Di Indonesia, industri asuransi memang masih menjadi anak tiri, setidaknya jika dibandingkan dengan perbankan. Pada saat krisis moneter hebat meledak 16 tahun lalu, pemerintah tampak hanya memedulikan lembaga perbankan, sementara asuransi tidak mendapat perhatian layak.
Terbukti, strategi penyelamatan waktu hanya terfokus pada bank-bank dengan menyuntikkan dana demi menyeimbangkan kembali neracanya. Akan tetapi perusahaan asuransi –meski mengalami masalah yang relatif sama– tak mendapat dana dari anggaran negara. Jiwasraya adalah saksi hidup, betapa asuransi harus berjuang sendiri menyelesaikan utangnya tanpa berharap ada ‘uluran tangan’ pemerintah dari uang pajak.
Akibat krisis 1998, Jiwasraya harus memikul utang triliunan karena memiliki kewajiban klaim polis yang timbul saat nilai dollar melonjak dan nasabah berhenti berasuransi. Sepanjang sepuluh tahun pasca krisis, perusahaan yang berdiri pada abad ke-19 itu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalani bisnis sewajarnya. Baru pada 2009, perusahaan yang merupakan hasil nasionalisasi asuransi zaman kolonial Belanda itu mulai melunasi utangnya. Dan tahun ini, utang yang mencapai Rp6,7 triliun itu berhasil disingkirkan dari beban perusahaan tanpa membebani anggaran negara.
Apa yang diupayakan Jiwasraya, selama lebih dari 15 tahun seharusnya bisa memberi pelajaran kepada industri perbankan yang malah banyak membebani negara sejak krisis hingga sekarang ketika kewajiban obligasi rekapitulasi terus menggerogoti anggaran. Bahkan bank terakhir yang memiliki utang kepada negara karena mendapatkan suntikan dana Rp6,7 triliun (sama dengan utang Jiwasraya yang dilunasi), nasib dana dari uang pajak itu belum jelas.
Pelunasan utang Jiwasraya menggunakan strategi pola reasuransi dengan menggandeng mitra perusahaan reasuransi di Amerika Serikat pada 2009. Artinya, perusahaan pelat merah ini yang telah berhasil melunasi utang-utangnya dengan usaha sendiri dalam waktu yang singkat, kurang dari empat tahun.
Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim mengatakan bahwa perusahaannya berhasil melunasi utang-utangnya tanpa membebankan anggaran negara. Setelah beban di pundak sudah bisa terangkat maka tugas selanjutnya yang ingin diselesaikan manajemen adalah menilai kembali aset-aset yang selama ini dimiliki demi optimalisasi bisnis. “Hal ini membuat Jiwasraya akhirnya dapat menyelesaikan masalah cadangan premi yang menjadi kewajiban perusahaan pada akhir tahun 2013,” ujar dia.
Langkah berikutnya adalah memperkuat posisi perusahaan di pasar. Untuk hal tersebut, Jiwasraya memutuskan untuk me-rebranding perusahaan dengan mengganti logo untuk mengukuhkan posisi dan menginformasikan kepada nasabah bahwa Jiwasraya akan melayani dengan lebih baik.
“Kami juga memperkenalkan logo baru sebagai simbol keteguhan hati Jiwasraya untuk tetap bertahan dan berjaya serta menegaskan eksistensi kami di industri asuransi yang terpercaya di Indonesia,” kata Hendrisman.
Logo baru Jiwasraya sekilas seperti gambar pohon, mirip dengan logo sebelumnya. Namun demikian jika diteliti lebih lanjut logo itu adalah gabungan gambar dua hati yang dipadukan dengan memotong siluet orang yang tengah mengangkat tangan.
Menurut Hendrisman logo baru tersebut memiliki makna perlindungan masa depan dan juga bermakna peace of mind, yaitu ketentraman hati dan pikiran. “Kami harus berubah, sebagai lambang perubahan, kami gambarkan dengan perubahan logo jiwasraya yang menggambarkan bahwa kami telah berubah,” ujarnya dalam acara syukuran dan peluncuran logo baru tersebut bulan lalu.
Kick Off Bisnis
Terbebasnya Jiwasraya dari lilitan utang triliunan rupiah itu bisa dikatakan merupakan awal perseroan memulai bisnis yang lebih baik lagi. Jiwasraya dinilai sebagai perusahaan asuransi yang sanggup bertahan di semua zaman, sejak kolonial hingga saat ini.
“Kami berharap jangan cuma syukuran dan peluncuran logo baru, tetapi ini menjadi kick off bagi bisnis baru yang lebih baik lagi asuransi Jiwasraya,” kata Dewan Komisioner Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Zaelani.
Firdaus menambahkan, industri asuransi di Indonesia ini masih memiliki potensi yang besar. Adapun, citra yang masih baik dimiliki oleh Jiwasraya menjadi modal awal untuk memulai bisnis baru yang lebih baik lagi. “Saya yakin masih banyak masyarakat kita yang cinta pada produk dalam negeri, citra Jiwasraya masih bagus,” tukas dia.
Namun Firdaus mengingatkan, dengan capaian tersebut sudah tentu akan memberikan tantangan kepada jajaran direksi Jiwasraya sekaligus menjadi motivasi agar korporasi dapat menguasi pasar premi di Indonesia. Namun demikian, tantangan tersebut juga harus disertai hukuman jika manejemen tidak berhasil mencapainya.
“Saya kasih challenges ke kementerian BUMN, kalau 3 tahun kita kasih target, kalau gagal direksinya diganti, meskipun waktu periodenya sudah habis, tetapi memang harus diberikan target,” kata Firdaus.
Dia menuturkan, tantangan tersebut diajukan lantaran saat ini 60 persen pasar premi di Indonesia masih dikuasai oleh perusahaan joint venture yang meski merupakan badan usaha Indonesia namun pada hakikatnya adalah dikuasai asing. “Banyak yang menyayangkan hal itu,” kata Firdaus. Oleh karena itu, melihat citra Jiwasraya yang masih baik di mata penduduk Indonesia, diharapkan Jiwasraya dapat menjawab tantangan tersebut dalam kurun waktu tiga tahun.
OJK berharap peran Jiwasraya dapat menguasai kembali seperti pada tahun 1990-an, karena Jiwasraya memiliki potensi itu. Perusahaan yang sudah berusia 155 tahun itu antara lain memiliki kekuatan pada jaringan kantor cabang yang banyak dan jumlah sumber daya manusia yang mumpuni.
Sejatinya Jiwasraya telah menyadari bahwa saat ini industri dihadapkan pada kenyataan bahwa masih sedikitnya masyarakat yang memiliki asuransi jiwa di Indonesia dan pemahaman yang kurang memadai tentang asuransi jiwa di tengah masyarakat. Maka itu Jiwasraya pun telah mendesain strategi perusahaan yang lebih jitu.
“Kami yakin sebagai BUMN yang dipercaya untuk mengemban tugas memasyarakatkan asuransi, Jiwasraya akan mampu memberikan kontribusi kepada perkembangan industri asuransi jiwa di Indonesia. Hal ini kami lakukan untuk mendukung cita-cita pemerintah agar industi asuransi dapat menjadi pilar pembangunan ekonomi jangka panjang,” ungkap Hendrisman.
Arsitektur Strategi Perusahaan ini merupakan blue print bagi Jiwasraya untuk terus berusaha mengembangkan bisnis Asuransi Jiwa di Indonesia dengan kebijakan yang terarah dan dinamis dengan keunggulan kualitas pelayanan, pemasaran, inovasi produk, sumber daya manusia yang kompeten dan teknologi yang mendukung efisiensi.
Masuk Properti
Bahkan, dengan kemampuan yang ada, Jiwasraya tak sungkan untuk menjajal bisnis lain seperti properti yang semakin tak terbendung. Setelah memarkirkan dana cukup besar di instrumen ini, perusahaan asuransi jiwa pelat merah itu memutuskan untuk berbisnis properti yang nantinya bakal dijalankan oleh anak usahanya.
Adalah Mitra Seraya dan Stania Bhineka, dua calon subsidiari Jiwasraya yang saat ini masih menanti restu Kementerian BUMN. Keduanya akan melakoni bisnis properti dari penyertaan Jiwasraya. “Jadi, nanti pengelolaan properti ada di dua calon anak usaha kami. Sekarang, masih tunggu izin dulu. Ini sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalisasi aset Jiwasraya dalam bentuk properti,” ujar Harry Prasetyo, Direktur Keuangan Jiwasraya.
Maklumlah, properti merupakan instrumen yang baru dimainkan oleh Jiwasraya dalam dua tahun belakangan ini. Nah, dalam jangka waktu itu, imbal hasilnya cukup menggiurkan. “Ini sangat baik untuk optimalisasi aset,” imbuh dia.
Adapun, saat ini, penempatan dana investasi Jiwasraya di properti mencapai 30 persen dari Rp 15,2 triliun. Sedangkan, 30 persen lainnya dalam bentuk reksa dana, 15 persen di keranjang saham, 13 persen di kas, dan sisanya dalam bentuk obligasi yang ditahan sampai jatuh tempo.
Sampai September 2014, Jiwasraya berhasil membukukan hasil investasi sebesar Rp 1 triliun atau naik 24,07 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 806 miliar. Karena hasil investasinya yang kinclong tersebut, laba perseroan terkerek 387 persen menjadi Rp 151 miliar.
Adapun penyebab pertumbuhan laba cukup tinggi adalah hasil investasi. Menurut Harry, perolehan laba tahun ini masih sesuai dengan anggaran. Tahun lalu laba Jiwasraya tercatat turun karena kondisi pasar yang jelek. Investasi kami terganggu dan berdampak ke laba.
Tahun ini manajemen menjaga investasi agar tetap membeikan imbal hasil yang signifikan. Pada periode yang sama, hasil investasi perseroan tumbuh 24 persen dari Rp 806 miliar menjadi Rp1 triliun.
Hal itu seiring dengan pertumbuhan dana investasi sebesar 72,7 persen dari Rp8,8 triliun menjadi Rp15,2 triliun. Perolehan premi juga mengalami pertumbuhan sebesar 25 persen pada kuartal II ini, menjadi Rp4 triliun dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp3,2 triliun.
Sampai akhir tahun Jiwasraya menargetkan perolehan premi mencapai Rp8triliun atau tumbuh 60 persen dari tahun lalu. Adapun, laba ditargetkan mencapai Rp450 miliar.
Siap Masuk Bursa
Dengan kapasitas yang besar dan potensi pasar yang luas, tak heran jika Jiwasraya didorong untuk melantai di bursa saham atau initial public offering (IPO). Artinya, dengan telah terbebas dari lilitan utang yang nilainya sama dengan Bank Century yaitu sebesar Rp6,7 triliun, tentu Jiwasraya menjadi perusahaan yang layak diperhitungkan dari sisi kapitalisasinya.
Memang, di tengah keberhasilan Jiwasraya melunasi utang, sontak diminati pelaku industri jasa keuangan lain. Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Namun, sepertinya niat BRI untuk mengakusisi Jiwasraya bakal mengalami sedikit hambatan. Pasalnya Jiwasraya lebih memilih untuk melakukan IPO ketimbang akuisisi.
“Begini ya, Jiwasraya ini sudah sehat, itu ibarat perusahaan menarik, Jiwasraya itu pinginnya IPO karena lebih baik dari akuisisi,” ungkap Hendrisman. Namun dirinya belum menyebutkan kapan rencana IPO akan dilakukan meski saat ini Jiwasraya baru saja membentuk tim khusus untuk mengkaji rencana tersebut.
















