Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari Bank DKI ketika pemegang saham dikabarkan telah mencopot Eko Budiwiyono dari jabatan Direktur Utama. Menurut seorang sumber, Eko mengumumkan hal itu dalam sebuah forum internal di aplikasi tukar pesan. “Terhitung mulai hari ini, kami tidak lagi menjabat sebagai direktur utama,” begitu potongan pesan yang dikirim Eko kepada forum tersebut.
Beberapa saat kemudian pemerintah DKI Jakarta sebagai pemegang saham mengumumkan melakukan perombakan di jajaran direksi Bank DKI. Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan mengajak beberapa mantan direksi bank badan usaha milik negara (BUMN) untuk mengisi posisi direksi Bank DKI yang dirombak melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB).
Penempatan mantan direksi bank-bank BUMN dilakukan karena Ahok ingin segera mewujudkan mimpinya membawa Bank DKI ke dalam Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) 4. Menurut Ahok, direksi bank-bank BUMN pasti akan lebih memahami cara dan strategi untuk membawa Bank DKI ke dalam BUKU 4 dalam 2 hingga 3 tahun mendatang.
BERITA TERKAIT
“Kita ambil direksi dari BNI, Mandiri dan dari BCA satu direktur. Kita ambil dari BCA karena beliau mengerti ritel. Komisaris juga ada dari BI. Ada juga yang bagian pengawasan dari BNI,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta.
Ahok diketahui telah mengangkat mantan Direktur Teknologi dan Operasional Bank Mandiri Kresno Sediarsi pada RUPS-LB Bank DKI kemarin. Selain itu, terdapat nama Honggo Widjojo Kangmasto yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasi dan Teknologi Informasi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
Pada laporan sepanjang kuartal pertama tahun ini, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross Bank DKI melonjak menjadi 4,81 persen dibanding periode yang sama setahun sebelumnya 2,65 persen. Bank DKI juga dikabarkan mengalami kerugian lebih dari Rp1 triliun.

















