Jakarta – PT Mandiri Tunas Finance (MTF) mulai memanfaatkan keleluasaan untuk mengembangkan jenis pembiayaan multiguna sebagaimana diatur dalam POJK No. 29 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan, dengan membiayai segmen pendidikan.
“Melalui skema pembiayaan multiguna pendidikan tersebut, saya berpikir pembiayaan pendidikan sebesar Rp 100 miliar sampai dengan akhir tahun ini bisa kita siapkan,” ungkap Direktur Utama MTF, Ignatius Susatyo Wijoyo di Jakarta, Senin (15/6).
Untuk mencapai target tersebut, MTF secara bertahap di tahun 2015 ini akan menjalin kerjasama dengan 5 (lima) Institusi Pendidikan lainnya dengan Akreditasi minimal A. MTF secara perdana bekerjasama dengan PPM School of Management meluncurkan Program Pembiayaan Multiguna Pendidikan. Program pembiayaan multiguna pendidikan ini ditujukan kepada para pegawai atau first jobber yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. “Dengan PPM kita targetkan 10 miliar hingga akhir tahun ini. Kalau kurang, kita tambahkan lagi,” pungkas dia.
Ignatius menjelaskan, MTF memang telah lama ingin memasuki pembiayaan segmen multiguna pendiikan. Dan sejak awal tahun MTF telah melakukan pembicaraan dengan beberapa kampus. ‘Kita 2-4 kampust kita jajaki,” tegas dia. Selain itu, lunjutnya, MTF nanti juga langsung menawarkan ke internal customer (langsung ke mahasiswa), tidak lewat institusi. “Ini juga membuka peluang untuk biaya sekolah di luar negeri. Ini sedang kita kaji,” ungkap dia.
Tahun ini total pembiayaan yang ditargetkan oleh MTF mencapai Rp 20 triliun. Dari angka tersebut didominasi oleh pembiayaan otomotif hingga 95%. “Karena segmen multiguna kita baru pendidikan, mungkin kontribusi maximum 5% dari target pembiayaan yang 20 triliun,” imbuh Ignatius.
Untuk suku bunga pembiayaan segmen pendidikan ini, MTF menetapkan bunga kompetitif di level 8%. Ke depan, jika permintaan ke segmen pendidikan ini tinggi, maka level bunga akan dievaluasi kembali. “Kita harapkan kalau pertumbuhannya bagus, kita akan evaluasi lagi bunganya untuk bisa turun. Karena kita tidak cari profit di sini,” ungkap Ignatius.
Alexander Liang, Ir., M. Eng, DR selaku Ketua STM PPM mengatakan, sejauh ini pihaknya tidak menggandeng jasa keuangan bank karena bunga yang diberikan terlampaui tinggi. “MTF ini yang pertama dan bunganya cocok. Saya menghitung kalau biaya S2 (besar pinjaman) 100 juta, maka dengan cicilan 2-4 juta perbulan itu terjangkau untuk calon mahaiswa yang sudah bekerja,” pungkas Alexander.
MTF menghadirkan kemudahan dalam skema pembiayaan multiguna pendidikan ini, karena konsumen hanya cukup menjaminkan BPKB mobil, angsuran yang terjangkau mulai dari Rp. 2 jutaan dan tanpa harus membayarkan Down Payment (DP) kepada institusi pendidikan.
“Untuk LTV, sama dengan aturannya 70% dari harga pasar. Nah ini mobil bekas, tetapi mobil penumpang dengan dengan tenor 3 tahun. Jadi kalau mobil 2010 bisa dijaminkan, dengan masa pembiayaan 3 tahun, 2018 bisa lunas. Kita preferensi mobil Jepang untuk sementara ini,” tutup Ignatius.

















