BRI memperkuat pembiayaan ekosistem rantai pasok pangan dari hulu ke hilir guna mendukung swasembada protein dengan porsi kredit UMKM mencapai 75,1 persen.
Stabilitas.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung agenda swasembada protein dan ketahanan pangan nasional. Perseroan tidak hanya menyalurkan pembiayaan secara parsial, melainkan mengintegrasikan dukungan permodalan ke dalam ekosistem pangan dari hulu hingga hilir yang mencakup sektor perikanan, peternakan, koperasi, UMKM, hingga industri pengolahan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam forum CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertema “Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global” di Jakarta, Senin (19/10/2026). Forum ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian Saleh Mustafa, serta Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa kedaulatan pangan berkaitan erat dengan kesejahteraan produsen di tingkat akar rumput, khususnya nelayan dan peternak rakyat.
BERITA TERKAIT
“Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu,” ujar Zulkifli Hasan seraya menyoroti pentingnya infrastruktur rantai dingin (cold storage) dan akses kredit perbankan.
Senada, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memaparkan bahwa sektor perikanan memiliki potensi strategis dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui diversifikasi produk olahan bernilai tambah.
“Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” kata Trenggono mengenai potensi pangan berbasis hasil laut.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa perseroan memiliki kapasitas pembiayaan yang komprehensif melalui integrasi Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM, sehingga mampu mendampingi pelaku usaha sejak fase rintisan hingga skala korporasi.
“Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh,” ujar Akhmad.
Menurut Akhmad, pendekatan ekosistem memastikan pembiayaan mengalir ke seluruh siklus produksi. Dukungan mencakup penyediaan pakan dan bibit di sektor hulu, permodalan mesin pengemasan di tahap pengolahan, hingga fasilitas kredit bagi distributor dan pedagang di sektor hilir. Model ini telah terbukti berjalan pada ekosistem peternakan sapi perah di Malang yang menghubungkan peternak rakyat, koperasi penyedia cold storage, dan industri pengolah susu (offtaker).
Hingga akhir Triwulan II 2026, total portofolio kredit BRI menembus Rp1.645 triliun, dengan porsi 75,1 persen dialokasikan ke segmen UMKM. Khusus penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), sekitar 44 persen mengalir ke sektor pertanian dan perikanan.
“Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM,” tegas Akhmad.
Guna memastikan ketepatan pembiayaan, BRI mengerahkan sekitar 30 ribu tenaga pemasar di lapangan yang memiliki spesialisasi sektoral di bidang peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan.
“Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh,” pungkas Akhmad. ***

















