• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, September 14, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Babak Baru Konsolidasi Bank Daerah: Bank Jatim Resmi Suntik Modal, Bank NTT Siap Berbenah

oleh Sandy Romualdus
10 Oktober 2025 - 10:20
60
Dilihat
Bank NTT: 63 Tahun Menenun Asa, Membangun Negeri dari Timur
0
Bagikan
60
Dilihat

Stabilitas.id – Sebuah babak baru perbankan daerah tengah ditulis dari timur Indonesia. Di balik geliat pembangunan dan geliat digitalisasi, dua bank daerah tengah menenun sinergi untuk membangun kekuatan baru perbankan nasional.

Di penghujung September 2025, sinergi dua bank pembangunan daerah resmi dimulai. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menyalurkan penyertaan modal sebesar Rp100 miliar kepada PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT).

  • Baca juga: Indeks Persepsi Risiko Terjaga di Level 57, Perbankan Nasional Waspadai Efek Suku Bunga Global

Langkah ini bukan sekadar transaksi antarbank, melainkan simbol dari tekad membangun kekuatan baru perbankan nasional—dari daerah, untuk daerah. Penyertaan modal itu menjadi tonggak awal terbentuknya Kelompok Usaha Bank (KUB) antara dua bank pembangunan daerah tersebut.

BERITA TERKAIT

Indeks Persepsi Risiko Terjaga di Level 57, Perbankan Nasional Waspadai Efek Suku Bunga Global

Sarjito Resmi Dilantik Jadi KE Pengawas BMKS, Bidik Status Price Maker Komoditas Global

Adopsi Kripto RI Tembus Peringkat 7 Global, Tokocrypto Sebut Pasar Domestik Masih Underrated

Pemerintah Pusat Tepis Isu Pemindahan Gaji ASN, BPD Aman dari Ancaman Krisis CASA

Maka langkah ini bukan hanya soal kepemilikan saham, tapi juga simbol penyatuan visi: memperkuat ketahanan BPD di tengah kompetisi yang kian ketat.

“Pada tanggal 30 September 2025 Bank Jatim telah melakukan pelimpahan penyertaan modal kepada Bank NTT sebesar Rp100 miliar,” tulis manajemen Bank Jatim dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/10/2025).

Penyertaan modal ini akan memperkuat posisi Bank NTT, baik dari sisi permodalan maupun tata kelola. Manajemen Bank Jatim menjelaskan bahwa transaksi ini akan diikuti konsolidasi laporan keuangan, menandakan sinergi yang lebih dalam antara kedua institusi.

Dari sisi Bank NTT, penyertaan modal ini tentu disambut dengan semangat optimisme. Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank NTT, Yohanis Landu Praing sebelumnya mengatakan seluruh skema kerja sama telah dituangkan dalam Shareholder Agreement (SHA) antara kedua belah pihak.

“Semua sudah disepakati. Tinggal realisasi dan proses administrasi terakhir. Bank Jatim akan membantu penguatan tata kelola, mitigasi risiko, hingga pengembangan sistem IT di Bank NTT,” ujar Yohanis belum lama ini di Kupang.

Menurutnya, kemitraan ini akan membuka ruang transformasi besar bagi Bank NTT, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin berbasis teknologi. “Kami ingin membawa Bank NTT menjadi lebih sehat, modern, dan siap bersaing dengan semangat dari timur,” ujarnya.

Dari Regulasi Menuju Kolaborasi

Kebijakan pembentukan KUB merupakan salah satu strategi OJK dalam memperkuat perbankan daerah. Tujuannya sederhana tapi strategis: agar BPD tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank NTT yang digelar September lalu bahkan telah mengesahkan Bank Jatim sebagai pemegang saham pengendali kedua (PSP-2). Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena, selaku pemegang saham utama, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya memperkuat permodalan Bank NTT agar memenuhi ketentuan OJK mengenai modal inti minimum Rp3 triliun.

“Kami ingin Bank NTT tumbuh sehat dan kuat. Sinergi dengan Bank Jatim adalah bagian dari komitmen membangun kekuatan ekonomi daerah dari timur,” kata Melki dalam forum RUPS LB tersebut.

Langkah Bank Jatim dan Bank NTT memperlihatkan arah baru bagi perbankan daerah: dari kompetisi menuju kolaborasi. Bank Jatim, yang sebelumnya telah menggandeng Bank NTB Syariah, Bank Lampung, Bank Banten, dan Bank Sultra, kini menjangkau wilayah timur dengan semangat berbagi kekuatan.

Melalui KUB, Bank NTT akan mendapatkan dukungan dalam sistem perbankan digital, pengelolaan risiko, serta pembiayaan produktif untuk sektor unggulan daerah seperti pariwisata, pertanian, dan UMKM.

  • Baca juga: Sarjito Resmi Dilantik Jadi KE Pengawas BMKS, Bidik Status Price Maker Komoditas Global

Di sisi lain, Bank Jatim memperluas jangkauan pengaruhnya sebagai poros utama BPD yang berperan aktif dalam penguatan ekonomi regional.

“Kerja sama ini bukan hanya soal modal, tapi juga tentang berbagi pengalaman dan kepercayaan,” ujar Yohanis Landu Praing. “Kami ingin Bank NTT berdiri sejajar dengan bank-bank besar, tapi tetap berpijak pada nilai lokal.”

Menuju Konsolidasi Nasional

Seperti diketahui, dua dekade lalu, BPD kerap dianggap hanya sebagai “bank daerah” yang terbatas oleh wilayah administratif dan kas daerah. Kini, lewat KUB, BPD perlahan menjelma menjadi jejaring finansial yang saling menopang — dari Surabaya hingga Kupang, dari barat hingga timur.

Bagi Bank Jatim, Rp100 miliar yang digelontorkan mungkin hanya sebagian kecil dari modalnya. Tapi bagi Bank NTT, itu adalah bahan bakar awal untuk mempercepat transformasi.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi ke BEI, Bank NTT membukukan laba bersih Rp61,5 miliar per 30 Juni 2025. Meski menurun dibanding Rp81,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan operasional bank kebanggaan masyarakat NTT ini masih tumbuh stabil.

Pendapatan bunga tercatat Rp807,0 miliar, sementara beban bunga turun tipis menjadi Rp279,1 miliar, menghasilkan pendapatan bunga bersih Rp527,9 miliar. Pendapatan nonbunga juga menguat dari Rp64,0 miliar menjadi Rp68,4 miliar, didorong peningkatan jasa komisi dan layanan.

Secara total, pendapatan operasional Bank NTT naik menjadi Rp596,3 miliar, dari Rp582,4 miliar pada Juni 2024. Namun, kenaikan beban tenaga kerja dan administrasi—dari Rp463,3 miliar menjadi Rp495,1 miliar—membuat laba operasional hanya tumbuh tipis menjadi Rp101,1 miliar.

Setelah memperhitungkan beban pajak dan item non-operasional, laba bersih turun 24,4 persen (yoy). Meski begitu, total laba komprehensif Bank NTT masih mencapai Rp66,6 miliar, menunjukkan ketahanan fundamental yang baik di tengah proses konsolidasi.

Kinerja semesteran ini menjadi latar penting bagi penyertaan modal dari Bank Jatim. Sebagai bank BUKU 2, Bank NTT masih perlu memperkuat modal inti agar mencapai Rp3 triliun, sesuai ketentuan OJK.

Penyertaan Rp100 miliar dari Bank Jatim menjadi salah satu langkah konkret menuju target tersebut. Dana ini akan menambah rasio kecukupan modal (CAR) serta memberi ruang ekspansi kredit produktif ke sektor perdagangan, pertanian, dan pariwisata lokal.

Koordinator Indonesia Financial Watch Abraham Runga Mali, menilai kolaborasi itu sebagai momentum strategis. “Kalau realisasi modal ini efektif, Bank NTT bisa naik kelas dari sisi daya tahan modal dan diversifikasi pembiayaan. Kepercayaan publik juga ikut meningkat,” ujarnya.

Maka dari itu, meski laba turun, arah bisnis Bank NTT jelas menuju penguatan struktur dan efisiensi. Kombinasi stabilitas kinerja dan dukungan modal baru dari Bank Jatim menjadi bekal penting menuju pertumbuhan jangka panjang.

  • Baca juga: Adopsi Kripto RI Tembus Peringkat 7 Global, Tokocrypto Sebut Pasar Domestik Masih Underrated

“Kami tidak sekadar memperbesar aset, tapi membangun fondasi agar Bank NTT bisa menjadi pusat kekuatan ekonomi dari timur Indonesia,” ujar Yohanis.

Kolaborasi Bank Jatim dan Bank NTT memperlihatkan semangat baru perbankan daerah: bahwa kekuatan finansial tak melulu tumbuh dari Jakarta atau Jawa. Kadang, kekuatan itu justru datang dari Kupang — dari timur — dari kemauan untuk berbenah bersama. ***

Tags: bank jatimBank NTTbpdkinerja semester I 2025konsolidasi perbankan daerahkredit produktifKUBlikuiditasojkpenyertaan modalpenyertaan modal Rp100 miliarperbankan timur Indonesiapermodalan BUKU 2sinergi bank daerahYohanis Landu Praing
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Contoh dan Cara Menghitung RAB Rumah 2 Lantai, Simak Tipsnya dari Semen Merah Putih!

Selanjutnya

KK Sentuh Titik Terendah Sejak 2022, Menkeu Purbaya Tetap Optimistis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Berburu 380 Debitur Mikro, Menolak Godaan Kerja Sama Gelap Lintah Darat

Berburu 380 Debitur Mikro, Menolak Godaan Kerja Sama Gelap Lintah Darat

oleh Stella Gracia
14 September 2026 - 15:01

Menelusuri kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang selama 14 tahun berjuang mengedukasi pedagang pasar di Lampung dan membebaskan mereka dari...

Integrasi UMi Berhasil Angkat 2,3 Juta UMKM Naik Kelas, Ekosistem Emas Capai 153 Ton

Integrasi UMi Berhasil Angkat 2,3 Juta UMKM Naik Kelas, Ekosistem Emas Capai 153 Ton

oleh Stella Gracia
14 September 2026 - 10:36

Kinerja lima tahun Holding Ultra Mikro (UMi) integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM per triwulan II 2026. Berhasil layani 33,8 juta...

Perluas Jangkauan Bisnis, BNI Fasilitasi Solusi Digital di Beyoutiful Symphony Festival 2026

Perluas Jangkauan Bisnis, BNI Fasilitasi Solusi Digital di Beyoutiful Symphony Festival 2026

oleh Sandy Romualdus
13 September 2026 - 11:53

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berkolaborasi dengan Beyoutiful Aesthetic menggelar BSF 2026 guna memperluas penetrasi digital di industri...

Implementasi Sustainable Finance, Portofolio ESG BRI Tembus Rp842,1 Triliun di Triwulan II 2026

Implementasi Sustainable Finance, Portofolio ESG BRI Tembus Rp842,1 Triliun di Triwulan II 2026

oleh Sandy Romualdus
12 September 2026 - 13:02

Portofolio pembiayaan berkelanjutan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencapai Rp842,1 triliun pada akhir triwulan II 2026, merepresentasikan 58%...

BRICS Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal, RI Dorong Konektivitas Pembayaran Lintas Negara

Genjot Penetrasi Merchant di Kota Kembang, Bank BSN Rilis Program Serbu Ekosistem

oleh Stella Gracia
12 September 2026 - 09:35

PT Bank Syariah Nasional (BSN) meluncurkan Program Serbu Ekosistem di Bandung untuk memperluas penetrasi layanan digital perbankan dan fasilitas QRIS...

BRICS Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal, RI Dorong Konektivitas Pembayaran Lintas Negara

Lintasarta Rilis Bandwidth on Demand untuk Akselerasi Infrastruktur Digital Perbankan

oleh Stella Gracia
11 September 2026 - 19:31

Lintasarta meluncurkan solusi Bandwidth on Demand (BWoD) untuk sektor perbankan guna memastikan fleksibilitas dan keandalan infrastruktur digital hingga kapasitas 1...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Desak Bank KBMI 1 Konsolidasi, Buka Opsi Merger Demi Penuhi Free Float 15%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Estafet Mendadak di Lapangan Banteng: Suahasil Nazara Naik Kelas Pegang Kendali Fiskal

Berburu 380 Debitur Mikro, Menolak Godaan Kerja Sama Gelap Lintah Darat

Banjir Modal Asing dan Benteng Fiskal di Tengah Gejolak Global

Ironi Dana Daerah Rp195,2 Triliun: Tertidur di Bank Saat Ekonomi Butuh Stimulus

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

Nakhoda Baru di Tubuh SMF: Manuver Purbaya Susun Ulang Barisan Direksi

Benteng Devisa Menuju US$ 147,5 Miliar: Gubernur BI “Menagih” Kemenkeu di Senayan

Lelang SUN Rp32 Triliun, Panggung Pertaruhan Yield di Kuartal Ketiga

Satu Tahun Kemudi Fiskal Purbaya: Taruhan Ratusan Triliun Mendobrak Stagnasi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Defisit APBN Agustus 2025 Tembus Rp321,6 Triliun, Pemerintah Optimistis Keseimbangan Primer Tetap Positif

KK Sentuh Titik Terendah Sejak 2022, Menkeu Purbaya Tetap Optimistis

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance