JAKARTA, STabilitas– Bank DBS Indonesia kembali berpartisipasi dalam Konferensi Tech in Asia Jakarta yang merupakan ekosistem startup terbesar dan paling menjanjikan di Asia Tenggara. Pada kesempatan ini, Bank DBS Indonesia membagikan strategi transformasi bank dalam sesi ‘Balancing Between Junior and Senior Talent’ dalam kaitannya dengan ‘Towards Bank’s Transformational Strategy’.
“Kita harus menata kembali dunia perbankan seiring dengan perkembangan zaman atau perbankan akan musnah. Oleh karena itu, Bank DBS Indonesia secara aktif melakukan penyesuaian di berbagai sisi, tidak terkecuali sumber daya manusia,”ujar Chief Executive Officer of DBS Bank, Piyush Gupta.
Gupta melanjutkan, Bank DBS Indonesia kerap berusaha menyeimbangkan junior dan senior talent untuk mencapai transformasi perbankan. Hal tersebut dapat dilihat dari komposisi talent dalam DBS Indonesia yang mencakup lintas generasi di mana generasi baby boomers sebanyak satu persen, gen X sebanyak 31 persen, gen Y sebanyak 67 persen, dan gen Z sebanyak 1 persen.
Sementara itu, Leonardo Koesmanto, Managing Director, Head of Digital Banking, PT Bank DBS Indonesia, mengatakan, baik junior dan senior talent sama-sama memiliki peluang untuk menduduki posisi strategis di mana posisi Senior Associate ke bawah diisi oleh junior talent dan posisi Assistant Vice President (AVP) ke atas diisi oleh senior talent.
“Saat ini, komposisi sumber daya manusia di DBS Indonesia didominasi oleh generasi milenial, di mana posisi-posisi strategis pun diduduki oleh generasi milenial, di antaranya sebanyak 49 persen menduduki posisi sebagai Vice President (VP) dan sebanyak 18 persen generasi milenial yang bekerja di DBS Indonesia menduduki posisi sebagai Assistant Vice President (AVP),”kata Leonardo.
Leonardo menambahkan, selain itu, seiring dengan perkembangan teknologi, DBS Group juga memanfaatkan teknologi dalam proses perekrutan talent. DBS Group menggunakan Jobs Intelligence Maestro (JIM) yang merupakan virtual recruitment AI-powered bot. Dalam proses perekrutan, DBS Group juga menerapkan sistem Hack2Hire, di mana DBS Group telah berhasil merekrut 500 digital marketer, system engineers, data scientists dan full stack developers.
Tidak hanya itu, untuk menyelaraskan perbankan dengan generasi milenial, DBS Group mengadopsi start-up culture yang diterapkan dalam bisnis perusahaan. Penerapan tersebut dapat dilihat dari open workspace yang memungkinkan talent untuk saling berinteraksi dengan bebas. Penerapan lainnya adalah budaya belajar yang kuat dan berkelanjutan melalui penyediaan classroom learning, online learning, experiential learning, gamified learning, dan social learning.
“Kami sangat paham bahwa generasi milenial menginginkan tempat kerja yang menyediakan beragam fasilitas yang dapat mendukung perkembangan diri mereka serta fleksibilitas yang tinggi dalam bekerja. Oleh karena itu, kami menyediakan iFlex@DBS yang merupakan benefit untuk kesehatan, keluarga dan wellness, Flexi Working Arrangement (FWA) yang memungkinkan karyawan bisa mengatur jam kerja yang fleksibel dan kebebasan bekerja dari mana saja, iHealth yang merupakan program untuk menjaga kesehatan, iShares@DBS yang merupakan program untuk investasi dalam bentuk saham DBS danparental leave yang memiliki rentang lebih panjang dari biasanya ditambah lagi dengan pengaturan pengambilannya yang fleksible bagi talent yang baru melahirkan,”pungkas Leonardo.

















