PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) mencatatkan total utang mencapai Rp2,88 triliun per Mei 2026. Perseroan kini fokus melakukan restrukturisasi utang dan efisiensi operasional.
Stabilitas.id – PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten yang bergerak di sektor pengolahan dan ekspor udang, tengah menjadi sorotan pasar modal. Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh tokoh muda nasional Kaesang Pangarep ini mencatatkan saldo kewajiban keuangan dalam jumlah yang cukup signifikan.
Hingga periode yang berakhir pada 31 Mei 2026, PMMP tercatat memiliki keterikatan pinjaman berjalan kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) serta lima institusi perbankan nasional maupun asing.
Secara rinci, saldo utang bank perseroan per akhir Mei 2026 terdiri dari kombinasi mata uang ganda, yakni sebesar Rp6.328.297.977 ditambah 160.128.549 dolar AS. Jika seluruh kewajiban valuta asing tersebut dikonversikan menggunakan acuan kurs rupiah pada Selasa (7/7/2026) sebesar Rp17.909 per dolar AS, maka total kewajiban finansial PMMP berada di kisaran Rp2.874.070.482.108 atau setara dengan Rp2,88 triliun.
BERITA TERKAIT
Daftar Rincian Utang PMMP
Akumulasi utang triliunan rupiah tersebut tersebar di sejumlah kreditur institusional domestik dan internasional. Berikut adalah peta sebaran kewajiban finansial PMMP berdasarkan data resmi keterbukaan informasi perusahaan:
| Nama Kreditur / Lembaga Keuangan | Saldo Utang (Mata Uang Rupiah) | Saldo Utang (Mata Uang Dolar AS) |
| Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) | – |
30.711.886 dolar AS |
| Bank Permata |
Rp5.493.424.825 |
53.116.534 dolar AS |
| Bank SMBC Indonesia | – |
40.292.580 dolar AS |
| Bank Central Asia (BCA) |
Rp834.873.152 |
40.292.580 dolar AS |
| Bank Maspion Indonesia | – |
7.211.743 dolar AS |
| Bank Resona Perdania | – |
5.992.813 dolar AS |
Strategi Penyehatan Modal dan Efisiensi Karyawan
Merespons tekanan beban finansial tersebut, manajemen PMMP menegaskan tidak tinggal diam dan terus menggulirkan program restrukturisasi secara gradual. Direktur PMMP, Martinus Soesilo, menyampaikan bahwa selama proses restrukturisasi berjalan, perseroan telah berhasil mengeksekusi pelunasan sebagian utang bank senilai 29.643.536 dolar AS serta Rp153.563.461.605.
Sebagai langkah lanjutan demi memperbaiki struktur permodalan agar kembali ke zona positif, emiten berkode saham PMMP ini telah menyiapkan sejumlah aksi korporasi strategis.
“Upaya Perseroan untuk memperbaiki struktur permodalan kembali positif yakni dengan right issue, serta meng-convert sebagian hutang usaha menjadi saham (MTN),” tulis Martinus dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Selasa (7/7).
Di sisi operasional harian, kondisi keuangan ini berdampak langsung pada perampingan jumlah tenaga kerja korporasi. Sejak tahun 2024 hingga pertengahan 2026, PMMP terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 37 orang staf dan 79 orang pekerja harian, sementara 82 orang staf lainnya memilih mengundurkan diri. Martinus mengonfirmasi bahwa kebijakan PHK tersebut murni diambil akibat adanya tren penurunan kapasitas produksi pabrik.
Profil Bisnis dan Rekam Jejak Investasi Kaesang
Didirikan sejak tahun 2004 dan berpusat di Surabaya, Jawa Timur, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk dikenal sebagai salah satu pemain utama pengolah sekaligus eksportir udang beku asal Indonesia dengan fasilitas pabrik yang beroperasi di Situbondo dan Tarakan. Komoditas pangan hasil laut milik perseroan dipasarkan secara masif ke pasar global, melingkupi wilayah Amerika Serikat, Jepang, hingga Eropa di bawah payung merek dagang Leader dan Ebinoya.
Masuknya nama Kaesang Pangarep—yang juga merupakan putra bungsu mantan Presiden RI Joko Widodo sekaligus Ketua Umum PSI—ke dalam struktur pemegang saham dimulai pada November 2021.
Melalui perusahaan kuliner dan investasinya, PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat), Kaesang mengeksekusi akuisisi strategis dengan membeli 188.240.000 lembar saham PMMP. Transaksi portofolio langsung tersebut dilakukan pada tingkat harga Rp490 per saham, dengan total nilai investasi saat itu mencapai Rp92,2 minal atau setara dengan porsi kepemilikan sebesar 8% dari keseluruhan saham perusahaan. ***















