• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Selasa, September 8, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Info Otoritas

Ekonomi Global Divergen, OJK Sebut Stabilitas Sektor Keuangan Juni 2026 Tetap Kokoh

oleh Sandy Romualdus
7 Juli 2026 - 16:16
10
Dilihat
Jumlah Investor Kripto Meledak, Otoritas Jasa Keuangan Perketat Sabuk Regulasi Digital
0
Bagikan
10
Dilihat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional per Juni 2026 tetap kuat di tengah tantangan pemotongan proyeksi pertumbuhan global dan moderasi makro domestik.

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tingkat stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih berada dalam kondisi yang terjaga dengan baik hingga periode Juni 2026. Ketahanan ini dinilai mampu berdiri kokoh di tengah sentimen pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh sejumlah lembaga internasional serta mulai meningkatnya tekanan inflasi di dalam negeri.

  • Baca juga: Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi 146,5 Miliar Dolar AS, BI Pastikan Ketahanan Eksternal Tetap Kuat

Penilaian optimistis tersebut didasarkan atas hasil keputusan Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang diselenggarakan pada 1 Juli 2026.

“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 1 Juli 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan terjaga,” ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers RDKB secara daring, Selasa (7/7).

BERITA TERKAIT

Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi 146,5 Miliar Dolar AS, BI Pastikan Ketahanan Eksternal Tetap Kuat

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

AAUI Soroti Target OJK dan Tantangan Reasuransi di Tengah Tergerusnya Laba Industri

Pangkas Beban Masyarakat, 5 Asuransi dan 7 Jaringan Rumah Sakit Sepakati Kerja Sama KAPJ

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menjelaskan, dari faktor eksternal, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah secara langsung telah membantu mengurangi tekanan di pasar energi global. Hal ini tecermin dari pergerakan harga minyak dunia yang kembali melandai mendekati level sebelum konflik. Kendati demikian, OJK menegaskan pengawasan tidak boleh dilonggarkan karena situasi kawasan tersebut masih rentan terhadap potensi eskalasi baru sewaktu-waktu.

Divergensi Kinerja dan Pemangkasan Prospek Global

Lebih lanjut, OJK menyoroti adanya perbedaan kinerja ekonomi (divergensi) yang cukup kontras antarwilayah utama dunia:

  • Amerika Serikat (AS): Perekonomian masih menunjukkan ketahanan (resiliensi) yang kuat didukung oleh pasar tenaga kerja yang solid, meskipun tingkat inflasi kembali merangkak naik.

  • Tiongkok (China): Masih dibayangi oleh kelesuan pada tingkat konsumsi domestik serta lemahnya realisasi investasi dari sektor swasta.

  • Eropa: Aktivitas ekonomi secara umum masih tertahan akibat lemahnya permintaan, kendati kinerja sektor manufaktur dilaporkan mulai merangkak membaik.

Tantangan global yang belum mereda ini membuat Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Bank Dunia (World Bank) kompak merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 pada bulan Juni lalu.

Berikut bauran proyeksi dan catatan risiko global menurut asesmen OJK:

Lembaga Internasional Proyeksi Pertumbuhan Global 2026 Catatan Risiko Utama OJK
OECD

2,8%

  • Baca juga: BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

Berpotensi semakin menurun jika terjadi eskalasi konflik baru atau gangguan pasokan komoditas energi jangka panjang.

Bank Dunia

2,5%

Dipengaruhi oleh lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi China, dan tren suku bunga tinggi.

Secara umum, menipisnya permintaan global serta kuatnya ekspektasi bahwa suku bunga tinggi global akan bertahan lebih lama (higher for longer) menjadi faktor utama yang menekan selera risiko (risk appetite) para investor di pasar keuangan global.

Bauran Kebijakan Jadi Benteng

Menyoroti situasi di dalam negeri, OJK tidak menampik adanya moderasi atau perlambatan yang wajar pada sejumlah indikator makro ekonomi nasional yang terjadi seiring dengan mulainya peningkatan tekanan inflasi.

Beberapa indikator ekonomi domestik mencatatkan dinamika sebagai berikut:

  1. Inflasi: Inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 meningkat menjadi 3,34%, naik dibandingkan posisi Mei yang berada di level 3,08%.

  2. PMI Manufaktur: Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia melemah ke level 46,9 dari bulan sebelumnya yang berada di level 50, menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase kontraksi.

  3. Neraca Perdagangan: Mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026 setelah sebelumnya sempat mencetak surplus selama enam tahun berturut-turut.

  4. Cadangan Devisa: Posisi cadangan devisa secara umum menurun dibandingkan awal tahun, meskipun pada Juni mencatatkan peningkatan tipis menjadi 145,6 miliar dolar AS dari posisi Mei yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.

Meskipun indikator makro bergerak melandai, Kiki optimistis stabilitas sistem keuangan domestik secara agregat akan tetap berdiri kokoh. Penjagaan stabilitas ini terus diamankan melalui penguatan bauran kebijakan (policy mix) yang sinergis antara kebijakan fiskal dari pemerintah dan kebijakan moneter dari bank sentral.

  • Baca juga: AAUI Soroti Target OJK dan Tantangan Reasuransi di Tengah Tergerusnya Laba Industri

Di samping itu, guna terus memperkuat ketahanan sistem keuangan, OJK memastikan langkah-langkah kebijakan strategis tetap berjalan optimal, termasuk penguatan infrastruktur pengawasan melalui implementasi penuh Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang mulai berlaku efektif per 1 Juli 2026. ***

Tags: Bank DuniaBauran Kebijakancadangan devisaFriderica Widyasari Dewikebijakan fiskal moneterOECDojkOtoritas Jasa KeuanganPertumbuhan Ekonomi Globalpmi manufakturProyeksi Ekonomi GlobalRDK OJKSLIKstabilitas keuangansuku bunga tinggi
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Beban Utang PMMP Tembus Rp2,88 Triliun, Emiten Eksportir Udang Ini Pacu Restrukturisasi

Selanjutnya

Ekspansi Sistem Pembayaran, BI Targetkan QRIS Bisa Dipakai di India Tahun 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Modal Asing Rp8,12 Triliun Kabur dari RI Pekan Lalu, Investor Ramai Jual SBN & SRBI

Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi 146,5 Miliar Dolar AS, BI Pastikan Ketahanan Eksternal Tetap Kuat

oleh Stella Gracia
7 September 2026 - 12:36

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia Agustus 2026 meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS, setara 5,4 bulan impor dan...

Uang Beredar Tumbuh 4,9% di Mei 2025, Stabilitas Rupiah Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global

Likuiditas Agustus 2026 Terjaga, Uang Primer Tercatat Rp2.281.525 Miliar

oleh Stella Gracia
7 September 2026 - 12:34

Analisis data statistik Bank Indonesia menunjukkan Uang Primer (M0) Adjusted Agustus 2026 mencapai Rp2.281,5 triliun, didorong pertumbuhan giro bank dan...

Belanja Akhir Pekan Lebih Hemat, BRI Hadirkan Promo Diskon Rp100 Ribu di Tokopedia!

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 20:07

Bank Indonesia menyalurkan insentif likuiditas KLM sebesar Rp446,5 triliun untuk mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor riil dan UMKM, didukung...

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

oleh Stella Gracia
3 September 2026 - 11:38

OJK mencabut izin usaha BPRS Gaido Indonesia di Cianjur karena permasalahan permodalan dan likuiditas. LPS langsung mengambil alih proses likuidasi...

Sah Jadi Gubernur BI, Destry Damayanti Tegaskan Penguatan Bauran Kebijakan dan Sinergi Pemerintah

Sah Jadi Gubernur BI, Destry Damayanti Tegaskan Penguatan Bauran Kebijakan dan Sinergi Pemerintah

oleh Sandy Romualdus
2 September 2026 - 16:25

Gubernur BI Destry Damayanti mengusung kerangka kerja "3I plus S" sebagai landasan utama perumusan kebijakan bank sentral sepanjang masa kepemimpinannya....

LPS: Konsumen Optimis ke Depan, Meski Persepsi Ekonomi Saat Ini Melemah

LPS Cairkan Klaim Simpanan Nasabah BPR Citra Bersada Abadi Rp3,65 Miliar

oleh Stella Gracia
2 September 2026 - 12:38

LPS mulai mencairkan klaim penjaminan simpanan nasabah BPR Citra Bersada Abadi Bekasi senilai Rp3,65 miliar melalui Bank Mandiri KCP Jakarta...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Sejarah, Bale Syariah BSN Jadi Mobile Banking Pertama Bisa Top Up KMT Commuter Line

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp6,16 Triliun, Total Sepanjang 2026 Tembus Rp50,63 Triliun

Dorong Ekspansi Kredit dan Perbaikan Aset, BRI Tegaskan Komitmen Jaga Keseimbangan Modal

Pacu Volume Transaksi Mobile Banking, Bank BSN Serbu Merchant di Kota-Kota Besar

Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi 146,5 Miliar Dolar AS, BI Pastikan Ketahanan Eksternal Tetap Kuat

Melek Finansial Sejak Dini, BRI Bekali Anak Muda dengan Tiga Mindset Penting

Hery Gunardi Tegaskan Serikat Pekerja Jadi Mitra Strategis Jaga Daya Saing BRI

Likuiditas Agustus 2026 Terjaga, Uang Primer Tercatat Rp2.281.525 Miliar

Abu Vulkanik Ancam Penerbangan dan Usaha, AAUI Beberkan Cakupan Polis Asuransi Dampak Erupsi

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Ekspansi Sistem Pembayaran, BI Targetkan QRIS Bisa Dipakai di India Tahun 2026

Ekspansi Sistem Pembayaran, BI Targetkan QRIS Bisa Dipakai di India Tahun 2026

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance